Sokutai dan Junihitoe, Pakaian Sakral Penobatan Kaisar Jepang

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 01/05/2019 11:15 WIB
Sokutai dan Junihitoe, Pakaian Sakral Penobatan Kaisar Jepang Sokutai dan Junihitoe (JIJI PRESS / Imperial Household Agency / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Setelah tiga dekade berkuasa, Kaisar Akihito melepas Takhta Krisantemun-nya. Takhta kekuasaan kemudian akan diisi oleh sang putra, Pangeran Naruhito, yang bakal dinobatkan pada Rabu (1/5).

Momen penobatan kaisar baru itu akan digelar meriah dan khidmat. Tak sembarangan, penobatan akan berjalan sesuai adat yang berlaku di lingkungan Kekaisaran Jepang. Lengkap dengan ritual, pakaian tradisional, dan perlengkapan sakral di antaranya.

Dalam penobatannya, Pangeran Naruhito akan mengenakan pakaian tradisional 'sokutai'. Pakaian yang jarang terlihat di zaman kiwari ini didominasi oleh jubah luar berlengan panjang berwarna cokelat keemasan.


Hanya kaisar yang mengenakan jubah cokelat keemasan. Bangsawan lainnya mengenakan jubah berkelir hitam, merah, biru, atau warna lain tergantung tingkatan dalam kekaisaran.

Warna keemasan itu akan berhiaskan motif burung. Dahulu kala, burung dianggap sebagai utusan ilahi. Jubah kaisar dihiasi gambar burung phoenix. Dalam mitologi China, burung phoenix diyakini melambangkan perdamaian.

Tak hanya jubah, kaisar dan bangsawan pria lainnya juga akan menyertakan 'shaku' sebagai salah satu barang bawaan. Bentuknya menyerupai piring kecil yang terbuat dari kayu.

Di masa lalu, 'shaku' berguna untuk menempelkan 'lembar contekan' di bagian belakangnya. Lembar contekan itu jadi alat bantu para bangsawan untuk melakoni sejumlah ritual adat Jepang yang dikenal rumit.

Sebagai puncak, kaisar akan mengenakan sebuah topi tradisional Jepang bernama 'kanmuri'. Topi itu berwarna hitam dengan ekor warna sama yang menjulang di bagian belakang. Panjangnya mencapai 40 sentimeter.

Lain jenis kelamin, lain tampilan. Putri Masako tampil dengan pakaian yang lebih rumit. Pakaian itu dikenal dengan sebutan 'junihitoe' atau jubah berlapis-lapis.

"Pakaian yang disebut 'sokutai' [untuk pria] dan 'junihitoe' [untuk wanita] berasal dari era Heian," ujar Kepala Museum Kimono Tokyo, Keizo Suzuki, melansir AFP.

Tak ada aturan yang mencatat tentang jumlah lapisan pakaian yang dikenakan permaisuri. Permaisuri Michiko mengenakan sembilan lapis jubah saat penobatan sang suami, Kaisar Akihito, pada 1989 silam.

Saat itu, pakaian Michiko didominasi oleh jubah merah berlapis-lapis dengan panjang yang berbeda-beda. Di bagian paling luar, jubah berwarna krem dengan kerap bermotif ungu muda menutupi jubah-jubah yang ada di dalamnya.

Tak cuma urusan pakaian tradisional, penobatan kaisar anyar dalam lingkungan Kekaisaran Jepang juga tak lepas dari ritual penting penyerahan Tiga Harta Suci. Ada cermin, pedang, dan permata yang menjadi bukti dari legitimasi seorang kaisar.

Penyerahan Tiga Harta Suci akan berlangsung dalam sebuah upacara pada 1 Mei. Penyerahan akan berlangsung tertutup. Sebuah replika pedang dan permata asli yang dibungkus sehelai kain akan diserahkan dalam upacara. Keduanya akan disimpan di istana, bersamaan dengan replika cermin.

[Gambas:Video CNN] (asr/asr)