Salah satunya Masjid As Su'ada, atau Masjid Lancip, yang berlokasi di Desa Waringin Kecamatan Haur Gading, tepat di tepi Sungai Tabalong.
Seorang pengurus masjid, Gusti Mastur, mengatakan masjid mempunyai kubah berbentuk tumpang dengan tiga tingkatan, yaitu pada tingkatan pertama atau paling atas berbentuk sangat lancip sesuai dengan budaya Banjar
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya Masjid As Su'ada telah masuk dalam cagar budaya yang dilindungi sesuai Undang-Undang Republik Indonesia nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
Mastur menuturkan arsitektur masjid ini kemungkinan disesuaikan dengan budaya warga Banjar yang memanfaatkan sungai sebagai transportasi utama.
Menurut Mastur zaman dulu sungai merupakan transportasi satu-satunya, sehingga jamaah masjid ini berasal dari daerah Telaga Silaba, Palimbangan, dan Haur Gading dengan menggunakan perahu atau kapal untuk menuju masjid tersebut.
"Memudahkan para masyarakat berjamaah di masjid, akhirnya diputuskan pembangunan masjid dilakukan di tepi sungai," ujarnya.
Berdasarkan info yang Mastur dapat dari tokoh masyarakat setempat, masjid yang berbentuk segi empat itu memiliki tinggi termasuk pataka kurang lebih 40 meter.
Pada awal pembangunannya, Mastur melanjutkan, masjid ini menggunakan atap sirap, tiang ulin, yang terdiri dari 4 buah tiang guru, 12 buah tiang bantu, 20 buah tiang yang terdapat pada dinding yang menggunakan ulin.
"Marmer lantainya khusus didatangkan dari negara tetangga Singapura," ungkapnya.
Lokasi dibangunnya Masjid As Su'ada merupakan tanah wakaf berukuran 38 x 24 meter, dibangun oleh Syekh H Abdul Gani.
Pembangunan masjid ini tidak menggunakan paku, melainkan menggunakan pasak yang terbuat dari serutan ulin atau bambu. Bahkan untuk menyatukan sambungan pun hanya menggunakan tali ijuk.
Masjid yang hingga kini masih kokoh berdiri tersebut, juga dilengkapi dengan ornamen ukiran yang tampak pada daun pintu, ventilasi, serta mimbar untuk khatib menyampaikan khotbah.
Dalam perjalanan waktu, masjid ini pernah mengalami beberapa kali renovasi, namun bentuk dan tiang masih dipertahankan, terkecuali atap yang dulunya menggunakan atap sirap sekarang sudah memakai atap seng.
Seperti pada tahun ini dilakukan renovasi dan pelebaran ruang masjid, mengingat jumlah jamaah semakin bertambah. Adapun biaya renovasi dibantu oleh Pemerintah Daerah, di samping swadaya masyarakat.
[Gambas:Video CNN] (agr)