Tak dimungkiri mi instan seolah jadi penolong pada saat 'tanggal tua' dan sahur.
Buat anak kos, mi instan kerap jadi pilihan paling praktis untuk sahur. Mengenyangkan, murah, dan mudah dibuat. Diana F. Suganda, dokter spesialis gizi klinis menyarankan untuk menghindari konsumsi makanan instan untuk menu sahur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Cara Tepat Mencegah Dehidrasi saat Berpuasa |
Orang sudah terkena dehidrasi ditandai dengan mulut kering dan lengket, mudah mengantuk dan lelah, sakit kepala, warna urine gelap bahkan bisa tidak sadarkan diri.
Dia menyarankan untuk menghindari mi instan. Hanya saja bukan berarti tak diizinkan. Bila terpaksa mengonsumsi mi instan, lanjut Diana, Anda harus tetap melengkapi kebutuhan gizi seimbang dengan karbohidrat, protein dan lemak. Mi instan sendiri sudah memenuhi kebutuhan karbohidratnya. Protein bisa dipenuhi dengan telur.
"Lalu sayur baiknya ada juga misal sawi. Perlu ada niatan beli telur, sawi sebagai stok di kos. Walau instan, tetap ada usaha untuk memenuhi (kebutuhan nutrisi)," imbuhnya.
Lihat juga:Panduan Pola Makan Sahur di Bulan Ramadan |
Di samping itu, kembali tidur setelah sahur tidak akan jadi soal jika tidak memiliki masalah lambung. Misal pada pasien GERD, Diana menganjurkan tidak langsung tidur setelah makan. Beri jeda satu jam baru boleh tidur tetapi dalam posisi duduk atau tidak terbaring sepenuhnya.
"Enggak ada masalah kalau mau tidur lagi. Bikin buncit? Enggak, justru total kalori yang dimakan yang bikin gemuk kalau berlebihan," katanya. (els/chs)