Gara-gara Flu Babi, Harga Jual Daging Babi Bisa Meroket

CNN Indonesia | Senin, 27/05/2019 19:44 WIB
Gara-gara Flu Babi, Harga Jual Daging Babi Bisa Meroket ilustrasi babi (afnewsagency/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebuah fakta ironis terjadi di Tahun Babi 2019 ini. Wabah flu babi Afrika memaksa adanya pemusnahan babi besar-besaran di tahun ini. Hal ini akan menyebabkan meningkatnya harga jual daging babi ke tingkat yang belum pernah terlihat sebelumnya.

Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) mengungkapkan bahwa harga daging babi saat ini sudah melonjak. Harganya naik hingga 50 persen di China dan bursa berjangka di Chicago.

Di Eropa sendiri, kenaikan harga jual daging babi sudah mencapai 18 persen sejak awal Maret 2019. Perusahaan riset pasar komoditas Cyclope mengungkapkan bahwa dua negara pengimpor utama yaitu Jepang dan Korea Selatan sudah mempersiapkan cadangan daging jika terjadi gangguan pasokan.


"Di Prancis dan Jerman, harga daging babi sudah melonjak 30 persen sejak awal tahun karena China, kata Jean Paul Simier, seorang analis pasar pertanian di bank Prancis Credit Agricole, dikutip dari AFP.


Tak dimungkiri kalau China adalah penghasil sekaligus konsumen daging babi terbesar dunia. Namun seorang pejabat China mengungkapkan bahwa akibat flu babi yang terus menyebar dan mengenai daerah peternakan babi utama China di provinsi Sichuan juga, maka ratusan ribu babi harus dimusnahkan. Mereka juga melakukan pembatasan untuk memindahkan babi dari daerah yang terkena penyakit.

"China adalah pasar yang menentukan untuk babi. Anda harus paham bahwa ada 700 juta babi hidup di China, dibanding dengan 20 juta babi di Prancis, misalnya," kata Jean Paul Simier.

"Wabah flu babi afrika di Asia Timur kemungkinan akan berdampak nyata pada pasar daging dan makanan di seluruh dunia," tulis FAO dalam laporan semi tahunan terbaru soal makanan. (AFP/chs)