Racikan Toleransi Beragama Lewat Sepiring Ketupat Opor

tim, CNN Indonesia | Kamis, 06/06/2019 20:03 WIB
Racikan Toleransi Beragama Lewat Sepiring Ketupat Opor ilustrasi lebaran (Istockphoto/ferlistockphoto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bedug maghrib Selasa (4/6) sudah bertalu. Tanda akhir bulan Ramadan sudah dibunyikan. Bunyi tabuhan bedug pun berganti dengan gema takbir yang dikumandangkan bocah-bocah kecil.

Rupanya anak-anak di lingkungan rumah Serafica Gischa Prameswari di Klaten Utara, Klaten, Jawa Tengah tak sabar menyerukan takbir, padahal waktu masih menunjukkan pukul 19.30. 

Malam takbir jelang Lebaran semakin kental dengan ledakan kembang api yang menghias langit malam itu.


Di rumah Gischa, nuansa Lebaran juga kental terasa, meski dia dan sang ibu Yosephine Ottyana tidak merayakan.


Dia dan ibunya memang tak lebaran, tapi ayahnya Suwarno dan adiknya, Gerald Dewa merayakan Lebaran. Gischa memang dibesarkan dalam keluarga yang berbeda agama. Ayah dan ibunya berbeda agama. Dia dan adiknya pun berbeda agama.

Namun meski demikian, keluarganya selalu hidup dalam harmoni dan toleransi. Demikian pula saat Lebaran seperti sekarang ini.

Dengan bersemangat, Gischa mengatakan keluarganya pagi tadi gotong royong memasak opor ayam. Masakan ini tak pernah absen dari meja makan mereka tiap tahun. 

"Semua terjun ke dapur, kecuali Dewa, dia banyak aktif di kegiatan remaja masjid. Nah bagi-bagi tugas, ibu belanja, bapak bersihin ayam, lalu saya yang memarut kelapa, ya gongso (menumis bumbu) lalu masukin ayam," ujar Gischa pada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Selasa (4/6) malam. 

Tak lupa ketupat pun sudah disiapkan. Agar berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, keluarganya juga memasak tongseng ayam dan sapi.

Tapi tak ada banyak opor ayam yang dimasaknya. Kali ini dia meminta ibunya untuk tak memasak opor ayam terlalu banyak. Pasalnya saat nanti kunjungan ke rumah-rumah kerabat, menu ini selalu ada. 

Sementara untuk Lebaran tahun ini, kegiatannya tak akan jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Ayah dan adiknya akan menjalankan salat Id lalu dilanjutkan dengan tradisi saling memaafkan. Gischa dan adiknya akan saling meminta maaf pada ayah dan ibunya alias sungkeman.

Setelah itu, mereka akan berkeliling menemui para tetangga. 

"Ya salam-salaman, terus ke rumah eyang. Eyang emang sudah meninggal tetapi di sana ada pakde di daerah Klaten Selatan."

Satu atap, beda agama

Buat Gischa dan adiknya, perbedaan agama di keluarganya tak begitu ia rasakan, seakan semua mengalir begitu saja. Bahkan ia sulit mengingat kapan persisnya dirinya sadar bahwa ayah dan ibunya menjalankan keyakinan yang berbeda.

Namun saat Gischa bersekolah, orang tuanya mengenalkan dirinya tentang agama Katolik dan gereja, sedangkan sang adik diperkenalkan pada agama Islam dan masjid. Dia berpikir kedua orang tuanya sudah memiliki kesepakatan soal pendidikan agama untuk kedua anaknya. 

Gischa ingat betul saat kecil dan bertepatan dengan bulan Ramadan, sang ibu mengajaknya membuat minuman untuk berbuka puasa. 

"Terus pernah nonton televisi sambil makan, ada bapak juga di situ. (Meski) berpuasa, bapak itu enggak nyuruh pindah atau berhenti makan. Lalu lama-lama ngerti, oh bapak puasa jadi kalau pas sama bapak enggak sambil makan," kenangnya. 

Semakin dirinya dewasa, muncul komitmen antara dirinya dan sang ibu untuk menimbulkan suasana nyaman agar ayah dan adiknya tidak merasa berbeda dengan keluarga lain. Selama bulan Ramadan, ibunya selalu menyiapkan makan sahur dan berbuka. Dia pun kadang turut berpuasa meski tidak sehari penuh. 

Demi tenggang rasa dengan ayah dan adiknya yang berpuasa, ia kadang makan siang di saat mereka istirahat tidur siang. Kadang pula ia dan sang ibu menggeser waktu makan siang menjadi agak sore. Strateginya, mereka berburu takjil sekitar pukul 14.00 atau pukul 15.00 sekaligus pergi makan siang. 


Ajaran nilai toleransi

Bersyukur. Satu hal yang benar-benar Gischa rasakan karena terlahir di keluarga yang 'beda'. 

"Orang bilang keluarga yang agamanya sama saja kadang tidak akur, gimana yang beda. (Menurut saya) akur apa enggak itu pribadi masing-masing. Banyak kok yang bahagia mau sama apa beda. Saya bersyukur lahir di keluarga ini. Jiwa toleransi pun tertanam," ujarnya. 

Mengenal perbedaan membuatnya bisa menghargai agama lain dan bisa menempatkan diri. Gischa memberikan contoh saat dirinya berkumpul dengan kawan-kawan Nasrani, kadang topik obrolan bisa menyerempet ke terorisme. Di sini dia memilih menetralkan suasana bahwa terorisme jelas tidak punya agama. Begitu pula sebaliknya saat dirinya berkumpul dengan kawan beragama Islam dan membicarakan agamanya. 


Saat merayakan Natal pun dia merasakan suasana hari raya seperti keluarga lain. Mereka pergi ke gereja diantar-jemput sang ayah. Ibadah pagi pun juga sama kemudian dilanjutkan makan bersama. 

"Kami makan ayam utuh (ingkung), sayur, ada terancam juga. Menunya yang siapin bapak," katanya. (els/chs)