Puluhan ton sampah plastik mengendap di perairan Jakarta, tepatnya di Muara Angke, beberapa waktu lalu. Akhir 2018 lalu, lebih dari 5 kilogram sampah plastik berupa botol minum, tali rafia, hingga sandal ditemukan di dalam perut paus yang mati dan terdampar di perairan Wakatobi.
Penelitian yang dilakukan Jenna Jambeck bahkan menyebut Indonesia sebagai negara kedua penyumbang sampah plastik terbanyak ke lautan, setelah China. Meski metodologi riset masih dipertanyakan, penelitian ini menyebut sebanyak 275 metrik ton sampah plastik memenuhi 192 negara berpantai.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:5 Inovasi Kelola Sampah Buatan Indonesia |
Ragam temuan ini membuat kampanye anti plastik semakin giat terdengar. Mulai dari gerakan membawa botol minum sendiri, membawa kantong belanja sendiri, hingga gerakan tanpa sedotan plastik digaungkan.
Kebablasan, kampanye 'less plastic' membuat sebagian orang beranggapan bahwa hidup tak boleh lagi menggunakan plastik. Tak sedikit kaum sinis yang mencibir kampanye dengan mempertanyakan: bisakah hidup tanpa plastik?
Ilustrasi daur ulang sampah plastik. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) |
Faktanya, kita tak bisa hidup tanpa plastik.
"Manusia hidup tanpa plastik itu mustahil. Mustahil meniadakan seluruh plastik," kata sosiolog Dwi Winarno kepada CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.
Plastik merupakan bahan sintetis yang keberadaannya kini tak bisa digantikan. Alat-alat dan kebutuhan lainnya masih menggunakan bahan yang terbuat dari plastik. Bukannya apa-apa, alat atau barang yang terbuat dari plastik relatif ramah dompet dan tahan lama.
Alih-alih hidup tanpa plastik, Dwi menyebut, yang dapat dilakukan manusia adalah mengendalikan jumlah dan peredaran plastik untuk menghambat dampak buruk dari penggunaan plastik.
"Ini soal budaya manusia mengendalikan dan membatasi peredaran plastik. Itu yang paling mungkin," ujar Dwi.
Senada, pegiat lingkungan Muharram Atha mengatakan bahwa semestinya orang pandai memilah plastik yang digunakan. Plastik sekali pakai dan tak bisa didaur ulang mesti ditinggalkan. Plastik jenis ini-lah yang disebut-sebut banyak berujung ke lautan.
"Di kota-kota besar jumlahnya bisa jadi lebih tinggi. Artinya, masyarakat harus berubah," ujar Atha.
Foto: ANTARA FOTO/Jojonsampah plastik yang cemari sungai dan laut |
Direktur Bank Sampah Nusantara LPBI NU, Fitria Ariyani, menyarankan agar masyarakat mengubah gaya hidup menjadi ramah lingkungan. Gaya hidup seperti itu dapat diterapkan dengan tidak memakai plastik sekali pakai seperti membawa botol minum, sedotan, dan kantung belanja sendiri.
"Kita kembali lagi, deh, pakai tas tradisional. Masih pada berani apa enggak? Bertahap saja, enggak usah zero, minimal less, sudah bermanfaat. Satu langkah kecil, dampaknya luar biasa," kata Fitria.
Bahan plastik yang bisa digunakan berulang kali dan juga dapat didaur ulang masih bisa dipakai.
Greenpeace menilai tanpa ada penyetopan produksi dari perusahaan, plastik masih tetap akan digunakan oleh masyarakat.
"Kalau industri masih terus produksi plastik sekali pakai, ini tidak akan menyelesaikan masalah," pungkas Atha yang juga aktif berkegiatan bersama Greenpeace ini.
Gerakan yang masif dari masyarakat yang tak lagi menggunakan plastik sekali pakai juga disebut membuat perusahaan berpikir ulang memproduksi plastik.
Selain itu, peran pemerintah dalam menegakkan aturan untuk mengontrol dan membatasi penggunaan plastik juga dapat membuat masyarakat hidup dengan 'less plastic'.
"Untuk melakukan perubahan sosial, salah satu caranya adalah hukum. Ini alat untuk merekayasa interaksi manusia," ucap Dwi.
Pemerintah dinilai bisa menerapkan kebijakan plastik berbayar dan juga peraturan tegas bagi perusahaan untuk meredam penggunaan plastik.
[Gambas:Video CNN] (asr/asr)
Ilustrasi daur ulang sampah plastik. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Foto: ANTARA FOTO/Jojon