Mereka yang 'Menolak' Punya Anak demi Bumi Lestari

CNN Indonesia | Minggu, 23/06/2019 08:47 WIB
Perubahan iklim membuat sekelompok orang enggan memiliki keturunan. Ilustrasi perubahan iklim (AFP/Mark Ralston).
Jakarta, CNN Indonesia -- Perubahan iklim menimbulkan efek domino. Semua lini kehidupan terkena dampak, termasuk pola pikir manusia. Salah satunya adalah pemikiran yang memilih untuk tidak mempunyai keturunan.

Musisi Inggris, Blythe Pepino, misalnya, yang merasa takut perubahan iklim membuat dirinya enggan memiliki keturunan.

"Saya cinta pasangan saya dan ingin memiliki anak dengannya, tapi saya merasa saat ini bukanlah waktu yang tepat," ujar Pepino, mengutip CNN.


Pepino percaya akan adanya 'armageddon ekologis'. Kepercayaan itu pula yang menimbulkan lahirnya kelompok BirthStrike pada akhir 2018 lalu.

BirthStrike merupakan sekelompok orang yang menyatakan bahwa mereka tak akan memiliki keturunan akibat adanya perubahan iklim. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 330 orang bergabung di dalamnya. Sebanyak 80 persen di antaranya merupakan kaum wanita.

Mereka menyatakan tak akan membiarkan anak-anak masuk ke dalam dunia yang akan 'hancur' akibat perubahan iklim. Kebakaran hutan, kekeringan, dan kekurangan makanan bagi jutaan orang terjadi di dunia dalam beberapa tahun terakhir.

Pada tahun 2018 lalu, Panel Internasional Perubahan Iklim PBB (IPCC) memperingatkan bahwa planet Bumi hanya memiliki waktu selama 11 tahun untuk mencegah bencana perubahan iklim.

"Kalian sama saja berjudi pada kehidupan seseorang," ujar Cody Harrison, seorang pria yang baru bergabung bersama BirthStrike. "Jika sesuatu tidak berjalan baik, maka manusia juga tak akan memiliki kehidupan yang baik."

Joseph Ferorelli, anggota lain BirthStrike mengatakan, perubahan iklim ibarat bom waktu. Dia mengatakan, tak ada jawaban untuk memperbaiki kerusakan yang menimpa generasi mendatang di dunia.

Selain karena adanya kekhawatiran terhadap kualitas kehidupan di masa mendatang, BirthStrike juga beralasan bahwa anak-anak akan menghasilkan emisi ekstra.

Mereka berpikir, bertambahnya populasi, bertambah pula emisi karbon dan jumlah hutan tropis yang menghilang.

PBB memprediksi akan ada sekitar 8,5 miliar penduduk di Bumi pada 2030 mendatang. Angka itu diprediksi terus meningkat pada 2100 mencapai 11 miliar. Sebagian besar pertumbuhan populasi dunia terjadi di negara-negara berkembang.

Ada asumsi yang menyebut bahwa setiap warga yang tinggal di negara industri harus mempertimbangkan untuk memiliki anak dengan jumlah lebih sedikit demi mengurangi emisi. Namun, masalah tak sesederhana itu.

Sebuah studi yang dilakukan pada 2014 menyimpulkan bahwa mengurangi populasi manusia bukan solusi untuk meredam permasalahan lingkungan.

[Gambas:Video CNN] (nad/asr)


ARTIKEL TERKAIT