ULANG TAHUN JAKARTA

4 Rekomendasi Makan Soto Betawi Enak di Jakarta

CNN Indonesia
Sabtu, 22 Jun 2019 10:42 WIB
4 Rekomendasi Makan Soto Betawi Enak di Jakarta
ilustrasi Soto Betawi (Istockphoto/MielPhotos2008)
Jakarta, CNN Indonesia -- Selamat Ulang Tahun Jakarta!

Sebagai warga atau pendatang di Jakarta, Anda pasti sudah sering menyantap berbagai makanan di Tanah Betawi ini.

Jakarta sendiri punya aneka makanan khas yang enak. Sebut saja ketoprak, kue rangi, dodol betawi, kerak telor, sampai soto betawi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berbeda dengan jenis soto lainnya yang punya kuah kuning dan bening, soto betawi memiliki kuah santan encer dan warnanya tak terlalu kuning.

Kuah santan dan jeroan, inilah ciri khas soto Betawi yang membedakannya dengan soto dari wilayah Indonesia lainnya. Paduan cita rasa soto Betawi ini terus dijaga turun temurun dari generasi ke generasi.


Sebagai kuliner yang berkembang di wilayah Betawi, cikal bakal Jakarta, soto ini diracik oleh penduduk asli Betawi.  Awal mulanya, saat penjajah berkuasa, orang Betawi tak mampu membeli daging karena harga yang mahal. 

Alhasil, masyarakat Betawi memanfaatkan jeroan seperti paru, babat, kikil dan isi perut lainnya yang sering kali jadi bahan yang terbuang dan tidak digunakan kaum elite kala itu. Orang Betawi mengolah jeroan itu dengan memadukannya bersama santan, salah satu bahan pokok orang Betawi yang juga digunakan di makanan khas Betawi lain seperti nasi uduk.

"Zaman dulu itu memakai jeroan karena orang Betawi menengah ke bawah. Enggak mampu beli daging," kata generasi ketiga penerus soto Betawi H Maruf, Mufti Maulana Mukhlis kepada CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu jelang hari ulang tahun Jakarta yang ke-492.

Menurut tradisinya, masyarakat Betawi menyantap soto untuk makan pagi hingga makan siang. Ini pula lah yang menjadi alasan beberapa warung Soto Betawi legendaris buka dari pagi, biasanya pukul 07.00 WIB dan tutup setelah makan siang, paling lama pukul 14.00 WIB. Secara khusus, tak ada resep baku untuk soto Betawi.


Setiap keluarga Betawi disebut punya resep dan takaran sendiri dalam meracik santan dan jeroan. Beberapa juga menambahkan dengan bahan pelengkap lain.

"Takarannya pakai perasaan saja. Setiap soto Betawi unik dan beda-beda," kata Haji Anin, penerus soto Betawi H Husen di Manggarai, Jakarta.

Meski berbeda-beda, ada benang merah yang membuat soto Betawi disebut Soto Betawi. 

Soto ini terbuat dari racikan kuah santan yang berisi jeroan, -saat ini ditambakan daging- dan disajikan bersama daun bawang, bawang goreng, dan emping. Ini merupakan isian wajib untuk soto Betawi. Selain itu, soto Betawi bisa ditambahkan dengan kentang atau perkedel dan tomat. 
Isian lain dari itu, seperti bihun, mie, toge, kol, ayam dan lainnya yang umum di soto Nusantara, tak masuk dalam kategori bahan untuk soto Betawi.

Penyedap lain seperti kecap, cabai, acar, perasan jeruk limau, dan garan bisa ditambahkan sesuai selera.

Selain berkembang di masyarakat Betawi, soto Betawi juga dijajakan di warung makan yang masih dijaga keautentikannya. Umumnya, warung soto Betawi legendaris ini merupakan buatan dari warga Betawi asli setempat seperti Cikini, Pasar Rumput, Gandaria, dan Pondok Pinang.

Berikut rekomendasi soto Betawi legendaris dengan cita rasa yang khas nikmat dari CNNIndonesia.com untuk memeriahkan hari ulang tahun Jakarta.

Soto Betawi H Ma’ruf

Foto: Istockphoto/MielPhotos2008

1. Soto Betawi H Ma’ruf

Cikal bakal soto ini sudah ada sejak akhir masa penjajahan. Pada tahun 40-an Haji Ma’ruf yang merupakan orang Betawi asli Cikini bekerja serabutan. Ketika tak ada tawaran menjadi sopir atau kuli bangunan, dia memilih berjualan soto dengan cara dipikul dan berkeliling.

“Sampingan saja jualan soto ini kalau lagi enggak ada kerja serabutan,” kata cucu H Ma’ruf, Mufti Maulana Mukhlis yang kini meneruskan usaha itu di Warung Soto Betawi H Ma’ruf di Jalan Pramuka, Jakarta, kepada CNNIndonesia.com.


Barulah pada tahun 60-an, Ma’ruf mulai ‘ngetem’ di Pasar Kembang Cikini. Dari ngetem, Ma’ruf mulai mendirikan tenda yang bertahan hingga tahun 80-an sebelum digusur dan pindah ke depan Kelurahan Cikini. Tak berlangsung lama di tempat itu, Soto H Ma’ruf kemudian menetap di Taman Ismail Marzuki (TIM) Cikini.

Kini, selagi TIM tengah direvitalisasi, Soto Betawi H Ma’ruf dapat dinikmati di cabang di Pramuka, Gondangdia, dan sejumlah mal.

Hingga saat ini, Mufti menyebut masih menjaga resep yang diturunkan oleh kakeknya. Sebagai generasi ketiga, dia mendapatkan mandat untuk tidak boleh mengganggu resep soto Betawi itu. Dia hanya diperkenankan untuk berkreasi dengan menambah menu lain di warung makan tersebut.

Boleh dibilang soto Betawi H Ma’ruf merupakan soto Betawi paling ‘basic’ dibandingkan dengan soto Betawi lainnya. Paduan santan bersama jeroan dan  daging yang diracik dengan rempah-rempah tanpa menggunakan MSG  membuat soto ini memiliki rasa yang autentik. 

Soto ini juga tidak menggunakan tambahan lain seperti kentang dan tomat, hanya bawang goreng, daun bawang, dan emping. Jangan lupa, jerohan sapi tentunya.

Untuk menghilangkan rasa amis jerohan dan memberikan tambahan rasa serta tekstur, jerohan dan daging yang sudah direbus tiga jam dengan berbagai bumbu ini digoreng sampai setengah kering.

Foto: CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman


Dalam racikan santan dan kaldu, H. Maruf menambahkan sedikit susu sapi murni agar rasa menjadi gurih dan kuah sedikit mengental. Padanan ini membuat kuah soto Betawi H. Ma’ruf berwarna kecokelatan. Ini juga yang membedakan soto ini dengan soto Betawi lainnya.

Tanpa menambahkan sambal, kecap, atau bumbu penyedap lainnya, soto ini sudah memiliki rasa gurih yang pas di lidah.

Soto Betawi H Ma’ruf dapat dinikmati dengan harga Rp45 ribu untuk satu porsinya.

Soto Betawi H. Husen

Foto: CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman

2. Soto Betawi H. Husen

Penikmat soto sudah ramai berdatangan silih berganti sejak pagi ke warung kecil Soto Betawi H Husen yang sederhana tapi legendaris di Jalan Padang Panjang, Manggarai. Di warung depan warung terdapat spanduk besar bergambar H Husen yang menutupi sebagian warung.

Para pelanggan seolah tak ingin kehabisan soto Betawi berkuah kental kekuningan ini. Maklum, soto yang dibuka mulai pukul 07.00 WIB ini selalu habis setelah makan siang. Paling lama, porsi terakhir soto ini bertahan hingga pukul 14.00 WIB. Sebanyak 1 kwintal campuran daging sapi dan jeroan ludes terjual setiap harinya.

Saat memasuki warung Soto Betawi H Husen, pembeli harus memesan di kasir dekat pintu masuk. Tersedia pilihan soto campur dan soto daging serta aneka minuman. Anda bisa memilih tempat duduk yang kosong dan mesti rela berbagi meja dengan pelanggan lain.

Tak sampai lima menit, soto Betawi panas datang menghampiri. Asap mengepul dari soto Betawi Haji Husen memiliki kuah santan kental yang berwarna kekuningan.  Warna kuning ini berasal dari campuran rempah dan susu sapi encer. Rasanya gurih dan agak sedikit pedas. 

Uniknya, takaran santan, susu, dan bahan lainnya dibuat tanpa takaran yang baku. Resep ini didapatkan dari kakek H Husen yang terus dijaga turun temurun sampai sekarang.

“Kami pakai susu encer yang literan. Ukurannya, saya selama ini enggak bisa ngukur, dirasa-rasa saja pakai perasaan sampai pas,” kata sepupu H Husen, Haji Anin yang kini melanjutkan usaha Soto Betawi H Husen sejak sang pemilik meninggal tiga tahun lalu.

Sementara itu, tampilan potongan daging berwarna cokelat pekat di bagian luar hasil dari penggorengan setelah direbus selama tiga jam. Bagian dalamnya, terasa lembut, empuk dan mudah digigit. Kuah santan pun meresap ke dalam daging sapi.

Foto: CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman


Soto ini hanya memiliki isian berupa daging dan jeroan, daun bawang, bawang goreng, dan emping. Kentang dan tomat tak ada di dalamnya.

Soto ala keluarga H Husen yang merupakan orang Betawi Pasar Rumput ini sudah ada sejak tahun 1975. Awalnya,  warung soto ini  berlokasi di Pasaraya Manggarai saat sebelum dibangun. 

Setelah itu, Soto Betawi H Husen sempat pindah ke wilayah Guntur dan kemudian menetap di Jalan Padang Panjang dari tahun 1989 hingga saat ini.

LIHAT SELENGKAPNYA