"Minuman fermentasi Nusantara harus terus dipromosikan agar dikenal dan kalau bisa, produknya diekspor juga, karena keberadaan minuman ini turut mempengaruhi pariwisata," ujar Sidarto seperti yang dikutip dari Antara, Jumat (28/6).
Sebelumnya, Universitas Podomoro menyelenggarakan acara Pesona Minuman Fermentasi Nusantara, yang mana membahas sejumlah minuman fermentasi dari sejumlah daerah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Oleh karena itu, diperlukan riset sehingga menghasilkan minuman yang berkualitas," ucap Saleh Husin.
Sementara itu, perwakilan Komunitas Jalansutra Harry Nazarudin mengatakan, menurut sejarahnya, minuman dan teknologi fermentasi di Indonesia berasal dari dua arah.
Pertama, migrasi manusia ke Indonesia yang membawa ragi dan bibit pohon aren. Kedua, berasal dari alam Indonesia dimana teknologi fermentasi merupakan hal yang khas seperti yang terjadi pada tape ketan.
Hal itu menunjukkan minuman fermentasi merupakan warisan budaya yang harus dilestarikan dan juga sangat berpotensi menjadi ikon Indonesia yang berdaya tarik internasional.
Beberapa minuman fermentasi ternyata mampu bertahan dan bahkan sudah dikomersialisasikan, contohnya Sopi dari NTT.
Dekan Fakultas Sosial Universitas Podomoro, Dea Prasetyawati, menambahkan pihaknya juga menyelenggarakan kompetisi pembuatan cocktail dari minuman fermentasi sebagai bahan campuran.
Hal itu bertujuan melestarikan warisan budaya Indonesia. Cara lainnya melalui komitmen untuk memasukkan minuman fermentasi sebagai bagian dari kurikulum kuliah bisnis perhotelan.
[Gambas:Video CNN] (antara/agr)