Surat dari Rantau

Selamat Tinggal Jaket Kulit, Selamat Datang Kaus Kutang

CNN Indonesia | Sabtu, 29/06/2019 13:01 WIB
Selamat Tinggal Jaket Kulit, Selamat Datang Kaus Kutang Bassin de la Villette, kolam renang apung di Sungai Seine, Paris, Prancis. (REUTERS/Charles Platiau)
Paris, CNN Indonesia -- Sebut saja nama saya Reno. Sudah dua tahun saya tinggal di Paris, tepatnya sejak diterima bekerja di perusahaan teknologi yang berbasis di Prancis pada 2018.

Dari foto dan video yang sering saya lihat, kota Paris di Prancis sangat indah, terutama saat malam bersalju. Oleh karena itu parka, jaket kulit, jaket jeans, dan jenis penghangat badan lainnya sudah saya kemas dalam koper untuk pindahan ke sini. 

Tapi bergaya hanya tinggal impian. Bahkan terhitung hanya satu atau dua kali saya mengenakan jaket-jaket yang saya bawa ke sini.


Jangankan parka atau jaket kulit, jaket jeans saja tidak bisa saya kenakan saat musim panas tahun lalu. Pelakunya: gelombang panas.


Media memberitakan kalau gelombang panas membuat Prancis kalang kabut pada 2003. Saat itu suhu mencapai 44 derajat Celcius.

Sepengetahuan saya dari hasil membaca sekilas artikel sains di internet, gelombang panas yang melanda Eropa setiap tahunnya datang dari Gurun Sahara.

Kerusakan iklim membuat gelombang panas ini tidak menguap di atmosfer bumi.

Tahun ini diperkirakan suhu gerah mencapai 45 derajat Celcius.

Ah tapi menurut saya kota-kota Eropa sudah terlalu gerah saat musim panas, bukan hanya pada 2003 atau 2019 saja. Pemanasan global sudah lama terjadi dan perlu segera diredakan.

Berkaca pada kasus saya, pemanasan global sangat berdampak pada takdir saya bergaya di Paris.

Alhasil, kaos kutang menjadi aksesori fesyen paling hakiki saat kongko siang hari di musim panas.

Saya jadi tersenyum dalam hati, "masih saja kutangan di Paris, seperti saat masih tinggal di indekost Jakarta".


Saat musim panas, kongko di kolam renang umum, tepi sungai, dan danau menjadi aktivitas paling sering dilakukan warga Paris.

Sama seperti mereka, kegiatan favorit saya di sini ialah berenang di kolam renang yang mengapung di Sungai Seine lalu makan es loli rasa semangka.

Tapi bedanya, teman-teman saya yang berkulit putih senang berjemur. Sedangkan saya berteduh di bawah bayangan terdekat.

Kalau sudah dicandai mereka sebagai Summer Vampire, saya hanya beralasan "ini namanya kulit sawo matang, kalau terlalu matang nanti jadi sawo busuk". Mereka hanya tertawa terbahak-bahak jika mendengar jawaban itu.

Panas atau dingin saya tetap mencintai Paris, seperti saya mencintai Jakarta. Ada hawa berkesenian yang kental di sini, yang selalu menggugah warganya menyatu dengan rasa.

Karena terbiasa menggemari keindahan, sebagian besar warga Paris menerapkan seni dalam segala hal. Mulai dari mengatur dekorasi rumah sampai mencampur bahan makanan.

Karakter nyeni juga terbawa dalam sosialisasi. Mereka terbuka dengan perbedaan dan tertarik dengan hal baru. Contohnya saat saya berkenalan dengan seseorang dan berucap dari Indonesia. Orang itu pasti langsung minta diceritakan hal-hal menarik dari Indonesia.

Untuk mengantisipasi gelombang panas tahun ini, saya memutuskan untuk sedikit diet daging merah dan memperbanyak konsumsi buah, sayur, serta air putih.

Semoga gelombang panas di Paris tak memakan korban jiwa dan musim panas bisa kembali ceria tanpa dihantui rasa khawatir, terutama soal keringat dan bau badan berlebih.


---
Surat dari Rantau adalah rubrik terbaru di CNNIndonesia.com. Rubrik ini berupa "curahan hati" dari WNI yang sedang menetap di luar negeri. Bisa mengenai kisah keseharian, pengalaman wisata, sampai pandangan atas isu sosial yang sedang terjadi di negara yang ditinggali. Tulisan yang dikirim minimal 1.000 kata dan dilengkapi minimal tiga foto berkualitas baik yang berhubungan dengan cerita. Jika Anda ingin mengirimkan cerita, sila hubungi surel berikut: ardita@cnnindonesia.com / ike.agestu@cnnindonesia.com / vetricia.wizach@cnnindonesia.com

(ard/ard)