Dampak Pernikahan Sedarah pada Anak

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 04/07/2019 15:10 WIB
Dampak Pernikahan Sedarah pada Anak Ilustrasi (Foto: 3rdeyedezine0/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kabar inses atau perkawinan sedarah pasangan asal Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan mengejutkan publik. Hubungan inses selama ini dilihat sebagai hal yang tabu dan berisiko. Bukan tak mungkin anak yang dilahirkan akan merasakan dampak pernikahan sedarah.

Inses bukan barang baru bagi sebagian kalangan. Orang-orang di Kerajaan Mesir Kuno melakukan inses demi menjaga kemurnian darah biru mereka.

Kendati dianggap lumrah bagi sebagian kalangan, namun inses tetap hadir dengan konsekuensi yang membuntut di belakangnya.


Pasangan dengan gen yang akan lebih mudah menularkan sifat maupun penyakit bawaannya pada keturunan. Inses pun disebut bisa memengaruhi genetik.

Berikut beberapa dampak yang akan terjadi pada anak hasil perkawinan sedarah.

1. Dagu Habsburg
Kelainan fisik ini disebut dengan mandibular prognathism. Kelainan ini mengakibatkan rahang bawah tumbuh lebih panjang daripada rahang atas. Jika tampak dari luar, dagu akan terlihat memanjang.

Bentuk dagu seperti ini banyak dimiliki oleh keluarga Raja Charles V yang menempati House of Habsburg. Tak heran kelainan ini disebut 'dagu Habsburg'.

2. Bentuk tengkorak tak beraturan
Orang-orang dalam Kerajaan Mesir Kuno memiliki bentuk kepala yang agak memanjang ke belakang. Bentuk kepala ini merupakan akibat dari hasil perkawinan sedarah antaranggota keluarga di kerajaan.

Bentuk tulang tengkorak menjadi tak beraturan. Tak heran jika mereka kerap menggunakan penutup kepala.

3. Anggota badan yang menyatu
Anak hasil perkawinan sedarah berisiko lahir dengan anggota tubuh yang menyatu. Hal ini salah satunya terjadi pada orang-orang Suku Vadoma di Zimbabwe.

Mengutip Ranker, orang-orang Suku Vadoma hidup nyaris tanpa bersentuhan dengan orang di luar suku. Sebagian besar menjalani pernikahan sedarah. Jari-jari yang menyatu menjadi dampak pernikahan sedarah di Zimbabwe.

4. Hemofilia dan penyakit-penyakit bawaan mudah diturunkan
Hubungan inses membuat penyakit bawaan mudah diturunkan kepada anak. Salah satu contoh terjadi pada keluarga Ratu Victoria. Hampir semua keturunan Victoria memiliki masalah pembekuan darah alias hemofilia.

Hemofilia adalah kondisi yang disebabkan oleh kecacatan pada gen yang memungkinkan pembekuan darah. Penyakit ini umumnya diturunkan secara genetik.

5. Mikrosefali
Pernikahan dengan kerabat dekat terbilang lumrah di Pakistan. Sebuah studi menunjukkan, sekitar 63 persen orang Pakistan yang melakukan pernikahan sedarah berkontribusi pada kondisi mikrosefali.

Mikrosefali merupakan kondisi yang membuat bayi lahir dengan kepala kecil yang tidak biasa. Hal itu umumnya akan menerus seiring bertambahnya usia. Anak dengan mikrosefali berisiko mengalami cacat mental ringan hingga berat.

6. Albino
Albino merupakan kondisi tubuh kekurangan melanin. Orang yang kekurangan melanin umumnya memiliki kulit pucat, mata sayu, dan rambut nyaris putih meski mereka berasal dari ras berambut hitam.

Albino adalah penyakit resesif autosomal. Ketika dua orang dengan kode genetik sama berkembang biak, anak yang terlahir akan berisiko mewarisi penyakit tersebut.

Kendati demikian, tak semua orang albimo adalah hasil perkawinan sedarah. Namun, praktik inses berisiko tinggi menimbulkan kelainan tersebut.

7. Wajah asimetri
Keturunan hasil perkawinan sedarah juga bisa meningkatkan risiko cacat bawaan lahir, termasuk wajah asimetris.

Saat lahir, kedua sisi wajah anak akan nyaris identik termasuk mata, telinga, hidung, dan mulut. Sedangkan perkawinan sedarah bisa melahirkan anak dengan kedua sisi wajah berbeda. Perbedaan bisa terjadi pada mata yang lebih besar sebelah atau mulut yang miring.

8. Gangguan sistem imun
Anak hasil perkawinan sedarah akan cenderung mudah mengalami sakit. Selain penyakit bawaan dari orang tua, anak juga mudah terserang gangguan yang berhubungan dengan otot, tulang, atau organ tubuh lain.

Pada anak hasil non-inses, sistem kekebalan berfungsi dengan baik lantaran adanya variasi gen untuk melawan penyakit. Sedangkan pada anak inses, gen untuk melawan penyakit akan berkurang sehingga anak rentan sakit.

[Gambas:Video CNN] (els/asr)


ARTIKEL TERKAIT