Mulai Senin (8/7), Pemerintah Kota Palembang memberlakukan pungutan pajak restoran sebesar 10 persen. Pajak berlaku tak cuma untuk restoran, tapi juga warung kaki lima. Aturan pajak dilakukan demi memantau pendapatan usaha, sekaligus memaksimalkan penyerapan pajak sektor restoran.
Kendati demikian, pempek tak akan kehilangan pamornya selama lautan Indonesia masih kaya ikan. Pakar kuliner dan pangan Universitas Gadjah Mada, Profesor Murdijati Gardjito mengatakan, berlimpahnya ikan menginspirasi terciptanya pempek.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Resep Praktis Pempek Palembang |
Teknologi navigasi kapal belum secanggih sekarang, hingga para pedagang kerap harus menunggu arah angin berubah untuk beranjak. Pemberhentian di Palembang pun tak jarang harus memakan waktu lama.
"Dia [pedagang China] mengamati bahwa ikan di situ melimpah. Dia memanfaatkan ikan jenis tertentu, ikan belida," kata Murdijati saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (12/7).
Nama pempek sendiri diambil dari kata 'apek', panggilan akrab bagi pria Tionghoa. Saat olahan ikan ini dijual, warga memanggilnya dengan 'pek.. pek..'. "Lama-lama jadi nama makanannya. Orang jadi menamakannya dengan pempek," kata dia.
Tersebar ke seluruh Indonesia
Pada perkembangannya, ikan belida dirasa mahal sehingga diganti dengan ikan gabus yang harganya murah. Namun, hal itu tak mengganti rasa nikmat pempek yang kian tersebar ke penjuru Indonesia.
Persebaran pempek, kata Murdijati, utamanya terasa pada wilayah-wilayah Indonesia yang kaya akan hasil laut.
Murdijati menduga, penyebaran pempek ke wilayah luar Palembang juga dipengaruhi oleh eksistensi pedagang China. Para pedagang China, lanjutnya, memiliki intuisi cemerlang soal bisnis.
Bahan-bahan yang murah ini pun diolah jadi pangan yang mengenyangkan. Tak hanya sebagai kudapan, tapi juga makanan sepinggan lengkap. Pempek diiris-iris, diletakkan dalam mangkuk, dan disiram kuah cuko.
Kuah cuko terbuat dari air gula kelapa, air asam Jawa, cuka, bawang putih, dan irisan mentimun. Rasa asam, manis, pedas, dan gurih ini digemari oleh orang-orang di seantero Nusantara.
Di kampung halamannya sendiri, kuah cuko beraneka ragam. Beberapa menggunakan bumbu dari bengkuang kering yang dihancurkan dan diasinkan. Ada pula yang menggunakan ebi atau menambahkan kepala ikan hingga kuah lebih terasa gurih.
[Gambas:Video CNN] (els/asr)