Cukur Bulu Kemaluan Tak Tingkatkan Risiko Penyakit Seksual

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 24/09/2019 22:02 WIB
Cukur Bulu Kemaluan Tak Tingkatkan Risiko Penyakit Seksual Ilustrasi. Mencukur bulu kemaluan dikaitkan dengan meningkatnya risiko terjangkit penyakit menular seksual. Foto: Stevepb/Pixabay
Jakarta, CNN Indonesia -- Mencukur rambut kemaluan kini menjadi rutinitas lazim bagi sebagian perempuan. Merasa lebih bersih, segar, dan kurangi bau khas Miss V, menjadi alasan mengapa brazilian waxing cukup digilai beberapa tahun belakangan.

Namun, ada anggapan kalau mencukur rambut kemaluan bisa meningkatkan risiko Infeksi Menular Seksual (IMS).

Menjawab perdebatan antara manfaat serta risiko dari mencukur rambut kemaluan, studi yang baru saja dipublikasikan di jurnal Plos One menunjukkan bahwa mencukur rambut kemaluan tidak meningkatkan risiko IMS. IMS sendiri merupakan infeksi akibat bakteri, virus, dan parasit yang umumnya ditularkan melalui hubungan seksual.



Hasil penelitian ini didapat setelah peneliti menganalisis 200 mahasiswa yang menjalani tes penyakit menular seksual untuk jenis klamidia dan gonore. Dua penyakit menular seksual ini merupakan yang paling banyak ditemukan. Partisipan juga ditanyai mengenai aktivitas mencukur rambut di sekitar kemaluan dalam satu bulan terakhir.

Hampir semua partisipan melaporkan memangkas rambut kemaluan mereka dengan menggunakan pisau cukur. Lebih dari 50 persen menghapus semua rambut kemaluan setiap minggu. Sebanyak 18 persen mencukur semua rambut kemaluan setidaknya enam kali dalam sebulan. Peneliti mengategorikan peserta yang mencukur semua rambut kemaluan, atau mencapai enam kali dalam sebulan terakhir, masuk dalam pencukuran ekstrem.

Peneliti menemukan risiko pencukur rambut kemaluan terhadap IMS tidak lebih tinggi ketimbang yang tidak melakukan pencukuran. Dikutip dari Live Science, hasil ini juga sudah memperhitungkan frekuensi seksual yang dijalani partisipan.

Walau begitu, sekitar 10 persen perempuan dinyatakan positif mengidap IMS klamidia atau gonore. Itu berarti, cukur bulu kemaluan memang tak meningkatkan risiko IMS, namun risiko terkena IMS masih ada saat melakukan cukur bulu rambut. Sehingga membersihkan alat cukur pribadi, tak bergantian dengan orang lain, hingga memilih tempat cukur perlu, sangat penting untuk dipertimbangkan.


Hal tersebut mungkin terjadi karena penelitian ini memiliki batasan populasi yang kecil. Populasi yang lebih besar dan beragam diperlukan untuk penelitian selanjutnya.

Hasil penelitian baru ini sebenarnya bertolak belakang dengan studi sebelumnya yang menemukan sering mencukur rambut kemaluan meningkat risiko beberapa penyakit IMS. Akan tetapi, studi sebelumnya hanya mengandalkan laporan diagnosis sendiri, belum berdasarkan hasil pengujian laboratorium. Peneliti juga tidak memasukkan frekuensi seksual yang dijalani partisipan.

[Gambas:Video CNN] (ptj/ayk)


BACA JUGA