Alasan di Balik Kesan 'Horor' Badut dalam 'It Chapter Two'

Tim, CNN Indonesia | Senin, 09/09/2019 20:50 WIB
Alasan di Balik Kesan 'Horor' Badut dalam 'It Chapter Two' Ilustrasi. Sosok Pennywise dalam film 'It Chapter Two' begitu lekat dengan kesan menyeramkan. (Dok. Warner Bros)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badut dikenal sebagai ikon yang lucu dan menggemaskan. Ia kerap jadi andalan di pesta ulang tahun anak-anak. Namun, dalam film It Chapter Two yang tengah tayang di bioskop, sosok badut Pennywise berubah jadi sosok yang menakutkan.

Berubahnya sosok badut nan gemas menjadi menakutkan seperti Pennywise bukan terjadi tanpa alasan. Jauh sebelum sekarang, badut kerap dikaitkan dengan perilaku psikopat.

Karakter badut telah eksis sejak ribuan tahun lalu. Secara historis, badut menjadi alat untuk menyindir dan mengolok-olok orang yang lebih kuat.


Kata badut pertama kali muncul sekitar tahun 1500. Kala itu, Shakespeare menggunakan istilah 'badut' untuk menggambarkan karakter bodoh dalam beberapa lakonnya. Pada abad ke-19 hingga saat ini, sosok badut sirkus menjadi sangat tersohor dengan tampilan wajah yang dipulas oleh cat, wig, lengkap dengan pakaian serba kedodorannya.

Karakter badut jahat seperti Pennywise dalam film It Chapter Two juga bukan hal baru. Pada 2016 lalu, Benjamin Radford dalam bukunya bertajuk Bad Clowns melacak evolusi histori badut menjadi makhluk yang mengancam.

Ilustrasi. Sejak tahun 1970-an, badut kerap dikaitkan dengan perilaku psikopat. (REUTERS/Elizabeth Shafiroff)

Pada 1970-an, badut digunakan sebagai salah satu alat pembunuhan berantai oleh John Wayne Gacy. Akibat sederet aksinya, John Wayne Gacy dikenal dengan julukan 'si badut pembunuh'. Praktis sejak saat itu, hubungan antara badut dan perilaku psikopat pun melekat secara kolektif dalam pandangan orang Amerika Serikat.

Pada 2016, badut bahkan meneror warga Amerika untuk memikat perempuan dan anak-anak lalu dibawa ke hutan.

Penelitian pada 2008 di Inggris menunjukkan bahwa hanya ada sangat sedikit anak yang benar-benar menyukai badut. Gambar-gambar badut di rumah sakit juga dapat memperparah keadaan.

Dikutip dari CNN, penelitian yang dilakukan Frank T McAndrew pada 2016 menunjukkan ada alasan psikologis di balik hal tersebut. Alih-alih menjadi jenaka, badut justru menghadirkan ketakutan, sebagaimana yang tampak pada sosok Pennywise dalam film It Chapter Two.

Studi mendapati sosok badut berada di daftar teratas pekerjaan yang menyeramkan dan menakutkan. Studi juga menemukan, karakter fisik dan perilaku nonverbal yang memicu ketakutan seperti mata melotot, kontak mata yang tidak biasa, dan senyum yang aneh.

Sementara studi lain yang dilakukan oleh Rami Nader menemukan beberapa hal yang memicu rasa takut terhadap badut.

Beberapa alasan itu di antaranya makeup, penyamaran yang menyembunyikan identitas, serta perasaan mereka yang sebenarnya. Tampilan yang sulit diprediksi itu membuat seseorang terus waspada saat berhadapan dengan badut.

Dengan beragam alasan sedemikian rupa, tak heran jika Pennywise dalam film It Chapter Two menjadi sosok yang sangat menakutkan dengan senyumnya yang beringas.

[Gambas:Video CNN] (ptj/asr)


ARTIKEL TERKAIT