Analisis

Demo Mahasiswa di Pusaran Sejarah dan Kecemasan Orang Tua

tim, CNN Indonesia | Rabu, 25/09/2019 09:14 WIB
Demo Mahasiswa di Pusaran Sejarah dan Kecemasan Orang Tua Aksi demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa bukan hal aneh di negara penganut sistem demokrasi seperti Indonesia. Namun hati-hati provokasi. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Konon, mahasiswa adalah agen perubahan. 

Gelombang demonstrasi mahasiswa kian meluas. Rombongan mahasiswa secara serentak menggelar aksi unjuk rasa di sejumlah daerah di Indonesia  sejak Senin (23/9). Mereka berbondong-bondong  memprotes rencana pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengesahkan sejumlah rancangan undang-undang kontroversial.

Spanduk panjang yang memuat kalimat-kalimat  protes dibentangkan. 'Tolak semua UU yang anti-rakyat', 'Tolak RKHUP ngawur', dan masih banyak lagi kalimat berapi-api yang mereka sematkan pada  kain polos panjang itu.


Di balik spanduk yang 'berkoar-koar' marah itu, ada  jas almamater universitas yang menutupi tubuh  para demonstran. Tak lupa pula tas punggung dan  sepatu kets, sebagaimana yang dikenakan sehari- hari untuk pergi kuliah.


Atas nama ketidakadilan, sebagian mereka bersama-sama  melangkahkan kaki menuju gedung-gedung  pemerintahan dan meneriakkan sejumlah aspirasi.  Mahasiswa bergerak, katanya.

Aksi demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa bukan hal aneh di negara penganut sistem demokrasi seperti Indonesia. Tak ada yang salah dengan demonstrasi mahasiswa. Aksi dilakukan sebagai perjuangan untuk mengubah sesuatu yang dirasa salah.

"Mereka merasa bahwa mahasiswa punya power untuk mengubah sesuatu yang dianggapnya salah,"  ujar psikolog Ni Made Diah Ayu Anggraeni kepada  CNNIndonesia.com, melalui sambungan telepon, Selasa (24/9).

Secara psikologis, usia mahasiswa menandai fase  kehidupan dewasa awal. Ayu mengatakan, dalam  fase ini, rasa tanggung jawab terhadap hal-hal yang  lebih luas mulai muncul pada diri mahasiswa. Salah  satunya adalah tanggung jawab terhadap negara.

"Mereka [orang-orang di usia dewasa awal] sudah  mulai memiliki rasa bertanggung jawab terhadap  negara," kata Ayu.

Selain itu, mahasiswa juga mulai memasuki usia produktif. Lengkap dengan karakter idealisme tinggi yang menempel kuat pada mahasiswa. "Mereka ini  orang-orang yang berpendidikan dan mencoba mengkritisi sesuatu," ujar Ayu.

Demo Mahasiswa di Pusaran Sejarah dan Kecemasan Orang TuaIlustrasi. Pada usia dewasa awal, mahasiswa mulai merasa memiliki tanggung jawab terhadap sesuatu yang lebih luas, termasuk negara. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Dengan beragam karakter yang dimiliki, bukan tak mungkin jika mahasiswa terdorong untuk melakukan aksi demi mengkritisi apa yang dianggapnya salah.

Dengan berunjuk rasa, para mahasiswa bersama-sama berorientasi pada perubahan. Di sana-lah terbangun keyakinan yang sama bahwa ada situasi yang harus diubah.

Perlu diketahui, saat seseorang berada bersama atau tergabung ke dalam kelompok aksi, maka identitas pribadi itu akan menghilang dan melebur dengan identitas kelompok.

Kendati aksi demonstrasi mahasiswa dirasa wajar, namun perlu dicermati pula soal emosi mereka yang belum stabil sepenuhnya. Usia dewasa awal, kata  Ayu, masih rentan terpengaruh oleh beragam faktor.  

"Karena namanya dewasa awal, mereka masih mudah terprovokasi," katanya.

Kerentanan ini lah yang kerap kali menjadi pemicu  kerusuhan dalam sebuah aksi unjuk rasa  mahasiswa. Tengok saja aksi mahasiswa yang  berlangsung hari ini, Selasa (24/9) di beberapa  daerah. Sejumlah aksi berlangsung ricuh. Aparat  kepolisian sampai harus melemparkan gas air mata.

"Kita, kan, enggak tahu di lapangan ada apa, ya.  Siapa tahu ada faktor-faktor lain yang bisa  memprovokasi mereka. Itu yang harus  diperhatikan," jelas Ayu.

Usia mahasiswa juga dianggap sebagai masa  peralihan dari remaja berseragam putih abu menuju  fase dewasa. Psikolog Mira Amir mengatakan, fase  ini adalah waktu di mana seorang individu mulai  mengeksplorasi kehidupan-kehidupan baru yang  belum pernah ditemuinya saat duduk di bangku  sekolah.

"Mereka ingin ikut aksi karena rasa penasaran dan  ingin tahu. Mereka ingin mencoba," ujar Mira saat  dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (24/9).

Identitas Diri dan Tragedi Trisakti

Aksi mahasiswa yang berujung ricuh bukan pertama  kalinya terjadi di Indonesia. Sebelumnya, sejumlah  aksi telah berlangsung. Salah satu yang paling  tersimpan dalam benak banyak orang adalah  Tragedi Trisakti pada 12 Mei 1998.

Bukan hal yang tak mungkin jika apa yang dilakukan  mahasiswa pada masa itu menjadi 'role model' bagi  mereka yang tengah berjuang saat ini. Mira melihat ada konsep 'meniru' yang dilakukan mahasiswa dalam demonstrasi yang kini tengah berlangsung.


"Tragedi [Trisakti] 1998 sebenarnya menjadi tren  tersendiri di kalangan anak muda," kata Mira. Tak  ayal, lanjut dia, aksi yang dilakukan generasi  terdahulunya itu mendorong mahasiswa untuk  melakukan hal serupa.

"Mereka ingin membuat sejarah sama seperti  pendahulunya. Mereka juga ingin menduduki DPR,  untuk mendapat pengakuan di kemudian hari," jelas  Mira.

Hal ini, disebut Mira, berkaitan dengan karakter usia  mahasiswa yang sangat membutuhkan pengakuan  akan identitas dirinya. Dengan cara itu, mahasiswa  membentuk identitas dirinya di tengah lingkungan  sosial yang lebih luas. "Padahal memahami secara  substansial juga belum tentu," katanya.

Belum lagi jargon-jargon yang dilontarkan, yang  pada ujungnya berhasil memprovokasi mahasiswa.  "Usia mahasiswa, kan, mudah terprovokasi," kata  dia.

Kekhawatiran Orang Tua

Gelombang aksi mahasiswa itu tak ayal  menimbulkan kekhawatiran pada orang tua. Banyak  orang tua yang merasa khawatir dengan buah  hatinya yang masih duduk di bangku kuliah.

Orih Kawati (48) khawatir sang buah hati, Nabilla,  turut serta dalam aksi. Saat pertama kali mendengar  kabar soal bergejolaknya aksi mahasiswa di  sejumlah daerah, yang dilakukan Orih pertama kali  adalah menghubungi anak perempuannya yang  berkuliah di Bandung, Jawa Barat.

demo mahasiswa di DPRIlustrasi. Tragedi Trisakti 1998 jadi 'role model' bagi mahasiswa masa kini yang ingin mendapatkan pengakuan akan identitas dirinya di lingkungan sosial yang lebih luas. (CNN Indonesia/Safir Makki)

"Ya, saya tanya, dia ikut-ikutan demo apa tidak, kan,"  kata Orih kepada CNNIndonesia.com, Selasa (24/9).

Bukan apa-apa, Orih khawatir jika ada hal-hal buruk  yang terjadi pada putrinya dalam suasana aksi  massa. Apalagi mengingat Nabilla yang masih duduk di  tingkat kedua perkuliahan.

Orih berharap, sang buah hati tak perlu ikut  meramaikan aksi demonstrasi. "Buat apa? Kritis  boleh, cuma, kan, yang namanya demo suka ricuh,"  kata dia.

Wajar jika banyak orang tua khawatir. Meski telah  memasuki fase dewasa awal, mahasiswa tetap  menjadi tanggung jawab orang tua. "Kalau ada apa- apa di tengah aksi, siapa yang tanggung jawab? Kan,  kita sebagai orang tua [yang bertanggung jawab],"  kata Orih.

Mira mengingatkan, meski menyandang status  'mahasiswa', bukan berarti mereka bisa diberikan kebebasan sepenuhnya. Banyak orang berpikir bahwa usia mahasiswa adalah usia dewasa, padahal tidak sepenuhnya.

"Salah satu patokan dewasa adalah mereka bisa bertanggung jawab sendiri atas apa yang mereka lakukan," jelas Mira.

Untuk itu, diperlukan pendidikan karakter yang  diterapkan oleh orang tua sejak dini.  "Bagaimanapun, semua kembali ke lingkungan  rumah," kata Mira. Dia menganjurkan agar orang tua  mengajarkan anak untuk berpikir kritis sejak dini.

Lain sisi, melarang-larang anak yang telah berada  pada usia dewasa awal untuk mengikuti  demonstrasi juga bukan hal yang benar.

"Tapi mungkin orang tua harus menyikapinya  dengan cara yang berbeda, ya. Kalau remaja SMA,  kan, bisa dilarang-larang, tapi usia mahasiswa tidak  bisa seperti itu," kata Ayu.

Orang tua, kata Ayu, harus bisa mengajak sang anak  berdiskusi. Cari tahu bagaimana si anak memandang permasalahan tertentu.  "Namanya umur segitu,  mereka juga pasti ingin mengeluarkan pendapat dan  didengar," kata Ayu.

[Gambas:Video CNN] (asr/asa)