WHO: Satu Orang Tewas Tiap 90 Detik karena Tenggelam

Dewi Safitri, CNN Indonesia | Kamis, 10/10/2019 18:23 WIB
WHO: Satu Orang Tewas Tiap 90 Detik karena Tenggelam Penasehat WHO David Meddings menyoroti pentingnya membuat kebijakan serius untuk mengatasi problem kematian akibat kejadian tenggelam (drowning). (CNN Indonesia/Dewi Safitri)
Durban, CNN Indonesia -- Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan penting untuk membuat kebijakan serius mengatasi kematian akibat kejadian tenggelam (drowning). Dalam laporan terbaru dari studi tahun 2016, menurut WHO setiap tahunnya ada 322 ribu orang tewas di seluruh dunia akibat tenggelam.

Penasehat WHO David Meddings mengatakan dengan jumlah sebanyak itu, kematian akibat tenggelam lebih besar dari angka kematian akibat ibu melahirkan, akibat HIV/AIDS dan hampir menyamai angka kematian akibat gizi buruk.

"Kasus tenggelam adalah ancaman besar terhadap kehidupan manusia, tetapi sampai saat ini banyak negara belum menyadari bahayanya. Hampir seperti terabaikan. Padahal kalau melihat jumlah korbannya, ini sangat serius," kata Meddings dari arena Konferensi Dunia untuk Pencegahan Tenggelam di Durban, Afrika Selatan.


Wartawan sains CNN Indonesia Dewi Safitri yang diundang hadir dalam konferensi ini melaporkan berbagai temuan WHO yang mencengangkan terkait kejadian tenggelam.

Menurut studi tentang kasus tenggelam yang pertama kali dirilis oleh WHO tahun 2014, 90% korban tewas dalam kasus tenggelam berasal dari kelompok negara miskin atau belum berkembang.

Negara di kawasan Afrika paling rentan terhadap kasus orang tenggelam terutama karena banyak warga di kawasan ini berprofesi sebagai pekerja di perairan. Sementara di Asia Tenggara, angka kematian akibat kasus tenggelam terutama disebabkan oleh anak di bawah usia 10 tahun yang tercebur dalam air di sekitar tempat tinggal atau karena banjir.

Di Kamboja, penelitian WHO menunjukkan dalam setiap 100 ribu jiwa, lebih dari 11 orang meninggal dunia karena tenggelam pada 2016. Sementara di Bangladesh, dari populasi yang sama, hampir delapan orang meninggal. Ini jauh dibandingkan negara maju seperti Singapura (0,2) atau Australia (0.7).

"Penyebab kejadian tenggelam sangat berbeda antara satu negara dan negara lain. Di negara maju biasanya kecelakaan di kolam renang, karena minum alkohol, atau karena kecelakaan saat rekreasi di laut. Sementara di negara berkembang, bisa jadi karena anak-anak lepas dari pengawasan orang tua, bencana banjir atau kecelakaan saat naik transportasi air," kata Caroline Lukaszyk, Koordinator isu tenggelam WHO untuk wilayah Asia Pasifik dan Asia Tenggara.

Aminur Rahman adalah seorang pegiat Bangladesh yang sejak 2002 menekuni upaya menurunkan jumlah korban akibat tenggelam di negaranya. Sesuai dengan hasil studinya, jumlah korban yang tinggi terjadi karena di Bangladesh warga pedesaan umumnya hidup hanya berjarak 20 meter dari sumber air termasuk kolam.

"Banyak kasus anak lepas dari pengawasan orang tua hanya sesaat, tapi tahu-tahu ditemukan sudah mengambang di kolam. Karena itu dalam kasus di Bangladesh salah satu solusi terpenting adalah mengembangkan rumah-rumah pengasuhan untuk anak minimal selama beberapa jam supaya mereka tidak keluar rumah tanpa pengetahuan orang dewasa."

Sejak kampanye oleh lembaga non-pemerintah dengan bantuan donor asing tahun 2003, kini pemerintah Bangladesh mulai memasukkan insiden tenggelam dalam kebijakan kementerian kesehatan dan kementerian perempuan dan anak.

Bangladesh adalah salah satu negara pertama di Asia yang tengah menyusun strategi nasional mengatasi kasus tenggelam. Menurut Rahman kini terdapat lebih dari 2000 rumah pengasuhan anak (amchal) di seluruh Bangladesh yang rata-rata beroperasi antara pagi hingga tengah hari saat kaum ibu sibuk mengerjakan urusan rumah tangga.

Ini masih jauh dari mencukupi karena baru menyentuh 10 dari 240 sub distrik di seluruh Bangladesh.

"Karena mengubah cara pandang pemerintah dan publik terhadap tenggelam sebagai ancaman ini sangat sulit. Sebagian besar menganggap tenggelam adalah kecelakaan atau takdir, padahal bisa dicegah," tegas Rahman saat diwawancara.

Di Indonesia, menurut WHO angka kasus tenggelam adalah 3,3 per 100 ribu jiwa, atau mendekati 9000 orang pada tahun 2016. Seperti juga di berbagai negara Asia Tenggara lain, tenggelam sangat jarang disebut sebagai penyebab hilangnya nyawa manusia karena dipercaya sebagai kecelakaan tak terhindarkan.

Angka korban sesungguhnya menurut WHO bisa lebih besar karena seringkali kematian akibat tenggelam tidak dilaporkan sehingga tak tercatat dalam akta kematian resmi. (vws)


ARTIKEL TERKAIT