Balita bernama Ayudia Zahrani itu mendapatkan imunisasi MR pada Selasa (15/10). Namun, beberapa hari setelahnya, Ayudia terlihat lesu dan selalu mengantuk hingga mengalami demam pada Sabtu pagi.
Setelah sempat diobati oleh obat penurun demam di pasaran, Ayudia mengalami kejang pada Minggu pagi hingga akhirnya mengembuskan napas terakhirnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, vaksin aman digunakan untuk anak. Tercatat, lebih dari 150 negara telah menggalakkan program imunisasi MR.
Sebagian besar anak yang mendapatkan vaksin disebut tak memiliki masalah serius. Efek samping yang kerap terjadi berupa demam dan ruam ringan.
Di Indonesia, dalam rangka mengeliminasi campak pada 2020, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan melakukan kampanye vaksin MR. Vaksin diberikan pada anak usia 9 bulan hingga 15 tahun.
Namun, sepanjang perjalanannya, imunisasi MR sempat mengundang kontroversi karena diketahui mengandung babi. Meski Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah memperbolehkan penggunaannya, namun pro-kontra vaksin masih muncul di tengah masyarakat.
Lihat juga:Catatan Kesehatan Indonesia Sepanjang 2018 |
Tak sembarang orang bisa mendapatkan vaksin. Ada empat kondisi dan syarat yang harus dipenuhi.
Pertama, vaksin hanya diberikan kepada anak berusia 9 bulan hingga 15 tahun. Kedua, penerima vaksin harus berada dalam kondisi sehat atau tidak baru sembuh dari penyakit tertentu.
Ketiga, penerima vaksin juga tak boleh memiliki riwayat alergi terhadap jenis vaksin serupa. Keempat, vaksin MR harus diberikan secara profesional dan melalui pemberitahuan sebelumnya kepada penerima vaksin.
[Gambas:Video CNN] (aul/asr)