HARI SUMPAH PEMUDA

Pemuda dan 'Panggung' Aksi Perubahan Dunia

Tim, CNN Indonesia | Senin, 28/10/2019 10:26 WIB
Pemuda dan 'Panggung' Aksi Perubahan Dunia Perayaan Sumpah Pemuda. (Foto: ANTARA FOTO/Yusran Uccang)
Jakarta, CNN Indonesia -- "Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya, berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia."

Kutipan bernuansa nasionalisme milik mantan presiden Soekarno menggambarkan bahwa seorang pemuda dipercaya bisa memiliki pengaruh besar terhadap lingkungannya bahkan dunia. Salah satu contoh nyata bahwa pemuda memiliki pengaruh yang begitu besar ialah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Tanpa peran pemuda, kemerdekaan Indonesia 'mungkin' akan mundur lebih lama.

Hal itu diamini oleh Aktivis Sosial Ayu Kartika Dewi. Ayu yang juga merupakan penggerak dari organisasi Toleransi ID berpendapat, sejak dahulu pergerakan selalu dilakukan oleh anak-anak muda. Bila ingat, lanjutnya, pahlawan nasional juga pernah muda pada masanya. Ketika mereka bergerak bersama dalam Boedi Utomo pada 1908, hingga ketika mereka mengumpulkan anak2 muda dari berbagai daerah di Indonesia dan bersumpah dalam Sumpah Pemuda.



"Ketika anak2 muda menculik Soekarno-Hatta dan mendesak mereka memproklamasikan kemerdekaan pada 1945, atau Reformasi 1998, semua terjadi karena ada sekumpulan anak muda yang gelisah. Perubahan selalu digerakkan oleh anak muda," tutur Ayu saat dihubungi oleh CNNIndonesia.com.

Walau begitu, pergerakan pemuda untuk melakukan perubahan tak hanya berada di ranah politik semata. Perjuangan untuk 'memerdekakan' bangsa juga dilakukan oleh banyak pemuda di masa pasca kemerdekaan. Para pemuda tak cuma bergerak di bidang politik, tapi juga seni budaya, ilmu pengetahuan, pendidikan, kesehatan, penelitian, sampai kemanusiaan seperti yang gaungkan oleh banyak organisasi filantropi di Indonesia saat ini. 

Seperti Ayu misalnya, lewat Toleransi ID ia mencoba melakukan aksi, kolaborasi, serta inspirasi untuk Indonesia yang lebih damai.

Toleransi ID memiliki sejumlah program, di antaranya Jelajah Toleransi yang mengajak anak muda untuk menjelajahi 5 daerah di Indonesia untuk mencari cerita-cerita inspiratif tentang toleransi dan menyebarkannya di media sosial. Ada pula Wisata Toleransi yang melakukan kunjungan ke berbagai rumah ibadah seraya berdiskusi dengan pemuka agama dan umat yang ada di sana.

Tak hanya itu, Ayu juga aktif dalam organisasi SabangMerauke yang setiap tahunnya rutin mengajak 20 anak SMP dari berbagai daerah untuk tinggal di rumah keluarga dengan agama dan etnis yang berbeda. Tujuan dari semua program tersebut ialah menumbuhkan benih toleransi yang sejatinya menjadi akar kekuatan bangsa Indonesia yang memiliki beragam suku, agama, bahasa, maupun budaya.

ilustrasi pemudaFoto: Istockphoto/Rachaphak
ilustrasi pemuda


"Dengan bertemu para relawan, penggerak, dan peserta program-program ini, saya merasa punya harapan. Kalau dulu saya merasa kalut karena tidak tahu apa yang harus dilakukan, kini pelan-pelan saya mengerti bahwa ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk merawat toleransi Indonesia," kata Ayu.

Serupa tapi tak sama. Pergerakan juga dilakukan oleh Tuan Tigabelas dalam dunia musik. Ia dan sejumlah rekan membuka 'sekolah' rap Wew Class yang ditujukan untuk mereka yang ingin mendalami musik rap tanpa biaya tinggi. Biaya yang dikeluarkan pun hanya sebuah prosedur semata, karena hanya dengan sekitar Rp100 ribu, peserta bahkan sudah bisa 'memproduksi' musik rap-nya sendiri.

"Waktu awal mulai nge-rap, dikit banget orang bisa ajak diskusi, ataupun media belajar dan mendalami, itu kenapa dibuatkan wadah untuk teman-teman bisa mengenal dan belajar bersama. Musik, rap khususnya, bisa jadi satu wadah positif untuk berekspresi dan menuangkan segala buah pikir ke dalam bentuk tulisan, ini bisa jadi terapi yang baik di era yang serba digital ini," kata Tuan Tigabelas saat dihubungi CNNIndonesia.com.

Ia berpendapat, kejahatan atau kerusuhan bisa terjadi karena energi anak muda yang tak tersalurkan, sehingga Wew Class diharapkan dapat menjadi cara untuk menyalurkan energi lewat musik dan interaksi.

Kini, Wew Class memiliki tiga kelas. "Ada kelas Rap dengan pengajar saya sendiri dan juga Yacko, kemudian ada kelas music production yang di isi oleh Bonie dan Dj Teezy, kemudian ada kelas videografi yang diisi oleh Jovan Arvisco dan Indra Domdom," tutur Tuan Tigabelas.

Hasil akhirnya, setiap siswa dari ketiga kelas dapat berkolaborasi untuk membuat musik hingga video klip. Ini merupakan mindset awal yang ingin ditanamkan oleh Wew Class, yaitu agar peserta kelas bisa bekerja secara kolaboratif. "Karena di era seperti ini saya rasa kolaborasi dan pertemanan adalah investasi paling mahal," terang Tuan Tigabelas.

Pemuda butuh 'panggung' yang positif

Pergerakan banyak dilakukan oleh anak muda. Mengapa?

Pengamat sosial budaya Universitas Indonesia Devie Rahmawati, mengatakan benar bila pergerakan banyak dilakukan oleh anak-anak muda. Sebab, anak-anak muda dinilainya memiliki banyak 'modal' untuk menggerakkan perubahan di lingkungan maupun dunia.

Pertama, anak-anak muda masih memiliki banyak waktu luang dan belum memegang tanggung jawab, tutur Devie. Berbeda dengan orang dewasa yang telah berkeluarga misalnya, fokus utamanya tentu memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya, sehingga tak memiliki banyak waktu untuk 'campur tangan' terhadap masalah-masalah yang terjadi di sekitar.

Selain itu, faktor hormonal juga menjadi modal kuat mengapa anak-anak muda melakukan pergerakan. Salah satu contoh pergerakan yang sempat ramai diberitakan ialah Greta Thunberg, remaja aktivis lingkungan yang bersama ribuan murid sekolah lainnya berkampanye di depan gedung parlemen Swedia. Greta dan ribuan anak muda berkampanye secara global dengan cara mogok sekolah terhadap lambannya penanganan perubahan iklim.

"Secara biologis anak-anak muda memiliki hormon yang membuat mereka ingin tampil, ingin diakui, ingin didengar sebagai bagian dari pencarian identitas. Saat faktor tersebut digabungkan dengan faktor sosiologis, maka anak muda seakan butuh 'panggung' untuk menampilkan siapa mereka, bahwa 'saya hebat' di depan banyak orang," papar Devie saat dihubungi CNNIndonesia.com.

Sayangnya, menurut Devie, tidak semua anak muda mendapatkan 'panggung' yang tepat untuk menunjukkan 'kehebatan' mereka. Itu sebabnya, kala demo mahasiswa berlangsung pada beberapa pekan lalu, sejumlah remaja justru terlibat dalam aksi kerusuhan.

Kultur Indonesia yang cenderung hirarkis dinilai Devie membuat anak-anak muda dipandang sebelah mata. Siapa yang berada di puncak jabatan adalah kaum yang dipuja. Padahal, masa-masa muda membuat seseorang haus akan pengakuan dan penghargaan. Tidak heran bila sejumlah pemuda ingin diakui 'hebat' dengan cara yang kurang tepat.


Untuk itu, Devie sangat berharap pada orang tua serta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan terpilih untuk bisa menyeimbangkan antara pendidikan akademik dengan kegiatan yang dapat mengasah life skill pemuda. Anak-anak muda perlu diberi kesempatan untuk melakukan apa yang mereka sukai, minati, yang menjadi passion mereka agar rasa haus ingin diakui bisa tersalurkan lebih positif.

"Sekolah perlu memiliki lebih banyak ekskul sehingga anak tidak melulu belajar. Itu sebabnya di AS seorang anak bisa mendapat gelar PhD pada usia 25 tahun, itu kerana sekolah mengarahkan mereka untuk melakukan hal yang mereka sukai dan dalami sejak usia TK," jelas Devie.


[Gambas:Video CNN]

(ayk/ayk)




ARTIKEL TERKAIT