Ciri Bayi Kekurangan Zat Besi dan Cara Mengatasinya

CNN Indonesia | Rabu, 06/11/2019 13:46 WIB
Ciri Bayi Kekurangan Zat Besi dan Cara Mengatasinya Bayi memerlukan zat besi agar pertumbuhannya optimal serta meningkatkan imun agar tak mudah sakit. (Foto: Thinkstock/M-image)
Jakarta, CNN Indonesia -- Zat besi merupakan salah satu nutrisi penting untuk mendukung tumbuh kembang anak. Saat bayi baru lahir, asupan zat besi diperoleh dari ASI. Namun setelah berusia 6 bulan, ASI tidak mampu memenuhi kebutuhan zat besi bayi. Sebagai pemenuh kebutuhan zat besi, bayi akan 'mengandalkan' lewat asupan Makanan Pendamping ASI (MPASI) agar terpenuhi kebutuhan zat besi.

Oleh karena itu, menjadi tugas orang tua untuk meracik MPASI yang kaya nutrisi sehingga bayi dan balita bisa terpenuhi kebutuhan gizinya termasuk zat besi. Kementerian Kesehatan menganjurkan kebutuhan zat besi setidaknya 6 miligram per hari (bayi usia 7-11 bulan), 11 miligram (1-3 tahun) dan 15 miligram (4-6 tahun).

Bagaimana jika bayi kekurangan zat besi?



Melansir dari laman resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) kekurangan zat besi bisa berdampak negatif pada kecerdasan, perilaku dan kemampuan motor anak.

Mengutip dari berbagai sumber, berikut sejumlah ciri yang menunjukkan kalau bayi kekurangan zat besi.

1. Lemas dan mudah lelah.

Bayi yang kekurangan zat besi bisa lemas sehingga lebih memilih untuk diam dan tidak suka bermain. Zat besi membantu tubuh memproduksi sel darah merah. Hemoglobin pada sel darah merah diperlukan untuk distribusi oksigen ke seluruh tubuh. Jika suplai oksigen kurang, maka jaringan dan otot tubuh kekurangan energi.

2. Rentan infeksi

Daya tahan tubuh terus menurun membuat bayi mudah mengalami infeksi alias lebih gampang sakit. Akibatnya, bayi mudah sakit batuk, pilek, demam, dan juga diare.

3. Anemia

Jika kebutuhan zat besi tidak terpenuhi dalam jangka panjang, bayi bisa mengalami anemia defisiensi besi. IDAI menyebut anemia defisiensi besi pada anak di bawah dua tahun bisa membuat anak lambat dalam merespons dan sulit mengendalikan diri.

4. Berat badan sulit naik

Masalah kenaikan berat badan yang stagnan dapat menjadi salah satu tanda bayi kekurangan zat besi. Dokter biasanya akan menganjurkan bayi untuk lebih banyak mengasup makanan yang kaya zat besi seperti hati ayam, ikan dan daging. Bila diperlukan suplemen zat besi juga bisa diberikan atas rekomendasi dokter.

Ada sejumlah cara yang dapat dilakukan orang tua untuk mencegah anak kekurangan zat besi, mengutip IDAI:

- Berikan anak jenis makanan yang mengandung kadar besi tinggi, namun pilih yang zat besinya mudah diserap oleh tubuh yaitu ikan, hati dan daging. Selama ini bayam dianggap sebagai salah satu sumber zat besi terbaik, namun zat besi dalam bayam lebih sulit diserap oleh tubuh ketimbang sumber-sumber tadi.


- Kandungan zat besi dalam ASI setelah bayi berusia 6 bulan ke atas lagi mampu memenuhi kebutuhan zat besi harian. Itu sebabnya bayi usia tersebut butuh asupan dari MPASI. Walau begitu, penyerapan zat besi dari ASI lebih tinggi sekitar 50 persen ketimbang susu sapi, sehingga ASI tetap perlu diberikan bersamaan dengan makanan pendamping.

- Menjaga kebersihan lingkungan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya infeksi bakteri atau parasit yang juga menjadi salah satu penyebab defisiensi besi. Ketiga cara ini dapat dilakukan sebagai 'pertolongan pertama' bila bayi atau balita Anda menunjukkan ciri kekurangan zat besi. 

[Gambas:Video CNN]

(els/ayk)


BACA JUGA