Penyebab Penyakit Jantung seperti yang Diidap Djaduk Ferianto

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 13/11/2019 10:20 WIB
Penyebab Penyakit Jantung seperti yang Diidap Djaduk Ferianto Djaduk Ferianto. (Foto: Detikcom/Pradito Rida Pertana)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seniman asal Yogyakarta Djaduk Ferianto meninggal dunia, Rabu (13/11) pukul 02.30 WIB. Djaduk meninggal di usia 55 tahun.

Kabar meninggalnya Djaduk disiarkan oleh sang kakak, Butet Kertaradjasa melalui akun Instagramnya @masbutet.

Butet mengunggah gambar hitam dengan tulisan Sumangga Gusti. Dalam keterangannya Butet menulis, "RIP Djaduk Ferianto."


Mengutip sejumlah sumber, Djaduk meninggal dunia akibat serangan jantung. Sebelumnya, Djaduk memang memiliki riwayat darah tinggi dan penyakit jantung.


Penyebab dan pencegahan serangan jantung

Penyakit jantung merupakan penyakit yang tergolong 'silent killer', yaitu tanpa menunjukkan gejala namun dapat menyebabkan kematian mendadak.

Melansir Healthline, penyakit jantung menyumbang hampir sepertiga dari semua penyebab kematian di dunia, ungkap sebuah laporan tahun 2017 dari American Heart Association.

Pilihan gaya hidup dinilai memiliki peran penting terhadap kualitas kesehatan jantung seseorang.

Berikut sejumlah faktor risiko penyebab munculnya penyakit jantung dan sejumlah cara untuk mencegah serangan jantung.

1. Usia

Seiring bertambahnya usia, otot jantung bisa semakin melemah. Namun, kondisi ini bisa hindari dengan cara melatih kekuatan otot jantung, yaitu dengan berolahraga dan aktif bergerak.

Jantung terdiri atas banyak otot yang perlu dilatih secara teratur agar tetap kuat dan sehat. Olahraga seperti berjalan, berlari atau berenang dapat meningkatkan kesehatan tubuh dengan cara menurunkan tekanan darah, menguatkan otot jantung, dan mengontrol penumpukan lemak.

2. Keturunan

Risiko penyakit jantung bisa semakin tinggi apabila ayah atau saudara laki-laki didiagnosis menderita penyakit jantung sebelum usia 55 tahun, atau jika ibu atau saudara perempuan mengidap penyakit itu sebelum usia 65 tahun.

Untuk itu, bila anggota keluarga memiliki riwayat penyakit berbahaya, seperti penyakit jantung, kanker, dan lainnya, pemeriksaan kesehatan rutin sangat perlu dilakukan demi mengurangi risiko.

3. Merokok

Sebuah penelitian mendapati, serangan jantung lebih sering terjadi pada perokok aktif ketimbang mereka yang bukan perokok.

Hal ini disebabkan karena kandungan nikotin serta karbon monoksida dapat merusak lapisan pembuluh darah dan menyebabkan aterosklerosis, yaitu penyempitan dan penebalan arteri karena penumpukan plak.

Berita baiknya, berhenti merokok dalam 1 tahun, sudah cukup mengurangi risiko serangan jantung secara drastis.

4. Radang gusi

Gusi yang sering berdarah, bengkak, atau bermasalah dapat menjadi sarang bakteri. Bila dibiarkan, bakteri dari gusi berpotensi masuk ke dalam aliran darah dan memicu peradangan para arteri dan meningkatkan risiko serangan jantung.

Untuk mengatasi gusi bermasalah, Anda perlu berkonsultasi ke dokter gigi agar bakteri tak semakin berkembang biak. Menjaga kesehatan gigi dengan cara menyikat gigi setelah makan dan sebelum tidur tampak seperti saran untuk anak-anak, namun ternyata memiliki dampak besar setelah seseorang beranjak dewasa.

5. Makanan

Pilihan makanan menjadi salah satu faktor risiko terbesar yang membuat seseorang mengalami penyakit jantung.

Sejumlah makanan yang berbahaya bagi jantung ialah makanan tinggi lemak jenuh, tinggi garam, yang akhirnya memicu darah tinggi serta kolesterol tinggi. Keduanya merupakan 'pintu gerbang' dari munculnya serangan jantung.

Beberapa jenis makanan yang menyehatkan jantung ialah alpukat, ikan berlemak, kacang kenari, cokelat hitam, tomat, biji chia, edamame, serta sayuran hijau.

6. Rasa sepi

Semakin tua, lingkaran pertemanan seseorang bisa semakin kecil dan rentan membuat seseorang merasa kesepian. Sedangkan rasa kesepian, kesedihan, atau perasaan negatif lainnya telah dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung dan stroke.

Namun, risiko ini dapat dikurangi dengan cara mempererat sosialisasi. Tak perlu berteman dengan banyak orang, cukup miliki 1-2 orang yang paling dekat yang bisa diajak untuk berbagi dan rela mendengarkan keluh kesah Anda.

Penelitian menunjukkan bahwa orang yang lebih banyak mendapat dukungan sosial, baik dari keluarga, pasangan atau teman, memiliki risiko masalah jantung yang sangat kecil.


7. Stres

Kondisi yang penuh dengan tekanan, seperti stres kerja, kemarahan, dan perselisihan dapat meningkatkan risiko darah tinggi dan serangan jantung.

Jadi, bila pekerjaan yang dijalani rentan membuat Anda stres, saatnya untuk menyisihkan waktu untuk relaksasi. Yoga, meditasi, apapun bentuknya, temukan metode relaksasi yang cocok untuk Anda.

Bila stres mereda, maka risiko darah tinggi dan serangan jantung juga akan ikut reda.

[Gambas:Video CNN] (ayk/ayk)


ARTIKEL TERKAIT