Dalam satu kesempatan, Ali Sungkar, dokter obstetri dan ginekologi konsultan fetomaternal RS Cipto Mangunkusumo menuturkan Indonesia termasuk 10 besar negara dengan kasus kelahiran prematur terbesar. Indonesia berada di urutan kelima setelah India, China, Nigeria dan Pakistan.
Lihat juga:Cara Tepat Jalani Kehamilan Berisiko Tinggi |
"Di Indonesia, sebanyak 779ribu bayi lahir terlalu cepat (prematur) tiap tahun. Sebanyak 25.900 meninggal di usia kurang dari lima tahun [data dari situs Every Preemie pada Januari 2016]," kata Ali saat acara Bicara Gizi bersama Danone di The Hermitage, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (13/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya melihat jumlah kasus, Ali menekankan perhatian lebih pada kelahiran prematur adalah biaya perawatan. Dalam riset yang dilakukan Ali pada 2010 di RSCM, biaya yang keluar bisa mencapai ratusan juta.
"Syukur-syukur bayi bisa keluar dari NICU, bisa memakan biaya total Rp175 juta atau Rp10 juta per hari per bayi," imbuhnya.
Dia menemukan ada beberapa faktor yang menyebabkan kelahiran prematur yakni infeksi (30-50 persen), kelahiran kembar (10-30 persen), ketuban pecah dini (5-40 persen), preeklamsia (12 persen), pendarahan antepartum atau pendarahan melalui vagina pada usia kehamilan 24 minggu (6-9 persen) serta PTJ atau pertumbuhan janin terhambat (2-4 persen).
[Gambas:Video CNN]
Di samping penyebab tersebut, orang sebaiknya memperhatikan faktor-faktor risiko kelahiran prematur seperti kebiasaan merokok, ibu dengan riwayat keguguran dan persalinan prematur, keputihan, infeksi gigi atau periodontal, kehamilan usia di atas 35 tahun atau di bawah 17 tahun, berat badan kurang dari 50 kilogram, beban kerja berdiri 40 jam per minggu, dan kelainan uterus.
"Keputihan ini yang sering disepelekan. Saat keputihan tidak biasa, ada perubahan warna, berbau sebaiknya diperiksakan. Juga kebiasaan menggunakan panty liner. Ini berisiko mengubah kondisi vagina yang seharusnya asam menjadi basa, bisa timbul infeksi," jelas Ali. (els/ayp)