Tanda Gangguan Belanja Kompulsif dan Cara Mengatasinya

Tim, CNN Indonesia | Senin, 16/12/2019 08:38 WIB
Tanda Gangguan Belanja Kompulsif dan Cara Mengatasinya Ilustrasi. Belanja online dapat 'menciptakan' candu pada otak dan menimbulkan gangguan belanja kompulsif.(Foto: CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Teknologi yang kian berkembang membuat 'godaan' belanja hadir kapan saja dan di mana saja. Namun, bagi sebagian orang, belanja online dapat berubah menjadi masalah. Tak ubahnya narkotika, belanja bisa menjadi sesuatu yang bersifat candu.

Sekitar 5 persen masyarakat di negara maju diprediksi tengah berjuang dengan gangguan belanja kompulsif. Pakar kesehatan mendefinisikan kondisi ini sebagai 'buying- shopping-disorder' (BSD).

Beberapa peneliti telah menyerukan agar BSD secara resmi diklasifikasikan sebagai gangguan mental. Betapa tidak, kebiasaan belanja pada orang dengan BSD umumnya melampaui batas dan memberikan dampak negatif terhadap kehidupan setiap individu. Fenomena ini utamanya dipicu oleh hadirnya konsep e-commerce yang diklaim membuat belanja jadi lebih mudah.



Sebuah studi kecil yang diterbitkan dalam jurnal Comprehensive Psychiatry, BSD disebut hadir mewarnai ruang-ruang belanja daring. Sekitar sepertiga orang dengan gejala BSD melaporkan kebiasaan belanja daring yang aktif.

"Dengan adanya temuan ini, gangguan belanja seharusnya bisa diakui sebagai kondisi kesehatan mental tersendiri," ujar peneliti utama studi, Astrid Muller, mengutip Huffington Post.

Namun, penting untuk dicatat, penelitian ini hanya dilakukan pada sekelompok orang yang sangat terbatas. Terbatasnya partisipan membuat penelitian sulit untuk menarik kesimpulan pasti pada populasi yang lebih besar. Para ahli mendorong adanya penelitian lebih lanjut terkait fenomena tersebut.

Pada Klasifikasi Penyakit Internasional, hingga saat ini BSD masih dikategorikan sebagai 'gangguan kontrol impuls spesifik lainnya'.

Mengenal Gangguan Belanja Kompulsif

BSD sendiri ditandai dengan keasyikan dan hasrat yang tak tertahankan untuk berbelanja. Orang-orang dengan BSD umumnya kerap membeli barang-barang yang tak diperlukan atau tak digunakan di kemudian hari.

Pembelian umumnya diikuti oleh perasaan bersalah, penyesalan, atau rasa malu yang intens. Dalam tingkat yang lebih parah, BSD bahkan bisa mengganggu kehidupan pribadi dan relasi dengan orang lain.

"Namun, pengeluaran berlebihan tak masuk dalam kategori BSD," ujar pakar gangguan kontrol impuls, Elias Aboujaoude. Perbedaan antara BSD dan kebiasaan pengeluaran berlebih terletak pada efek kesehatan mental yang dihasilkan dan bagaimana kebiasaan tersebut memengaruhi hidup seseorang dalam jangka panjang.

Belanja kompulsif sendiri sebenarnya bukan fenomena baru. Kemunculan internet sebelumnya bahkan dianggap dapat membantu orang-orang dengan BSD. "Dulu, ada banyak optimisme bahwa belanja daring melindungi orang dari segala godaan promo di toko fisik," ujar Aboujaoude.

Tapi, apa lacur. Alih-alih mengontrol, maraknya e-commerce justru membuat belanja semakin mudah, bisa terjadi sepanjang waktu, dan kian sulit dikendalikan.

Selain kenyamanan 'belanja satu kali klik', konsep online shop juga didukung oleh maraknya pembayaran melalui kartu kredit dan konsep uang elektronik lainnya. Membayar dengan kartu kredit dan uang elektronik membuat seseorang tak merasa sedang berbelanja.

Kecepatan belanja daring, pilihan yang semakin luas, dan sistem pembayaran yang kian mudah bersama-sama membangun candu pada otak dan menimbulkan gejala BSD yang lebih parah.

Cara Mengatasi BSD

Namun, Anda tak perlu khawatir. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan demi mengatasi BSD.

Donald Black, ahli psikiatri yang banyak meneliti perilaku belanja kompulsif, memberikan beberapa tipnya berikut ini.

- Singkirkan kartu kredit
Black mengatakan bahwa tanpa disadari, kartu kredit dapat dengan mudah memicu masalah anyar. Uang tunai disebut Black mampu membantu mengontrol agar pengeluaran Anda tetap terkendali.

- Hindari belanja sendiri
Kebanyakan orang cenderung tidak belanja secara kompulsif saat tengah bersama orang lain. Kebiasaan itu umumnya muncul saat seseorang tengah berada seorang diri.

- Habiskan waktu dengan aktivitas lain
Kebiasaan belanja umumnya muncul saat seseorang tengah sendiri dan tak disibukkan oleh kegiatan. Daripada sibuk scrolling aplikasi toko daring, aktivitas seperti jalan-jalan, berolahraga, atau membuat kerajinan tangan dapat jadi pilihan untuk menghabiskan waktu.


- Tulis pengeluaran harian
Tulis pengeluaran harian Anda secara rutin. Berikan penilaian terhadap setiap uang yang Anda keluarkan. Ketahui tentang seberapa penting barang yang baru saja Anda beli.

Hal ini dilakukan untuk menyadarkan Anda tentang berapa banyak uang yang bisa ditabung jika Anda tidak membeli barang-barang yang tak terlalu diperlukan itu.

[Gambas:Video CNN]

(asr/asr)