Ratusan peserta Perang Topat antara umat Islam dan Hindu serta suku Sasak dan Bali hadir berbaur menjadi satu.
Mereka datang untuk menghadiri tradisi masyarakat Lombok Barat yang sudah berlangsung ratusan tahun. Perang ini berupa saling melempar ketupat satu sama lain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengatakan, tradisi ini melambangkan kedamaian masyarakat Lombok Barat saat mempraktekkan hidup dalam keberagaman.
Warga yang memeluk agama Islam dan Hindu menyatu tanpa ada gesekan dan konfrontasi hingga sekarang.
"Rangkaian kegiatan Perang Topat adalah salah satu bukti kehidupan keberagamaan, yang didasari oleh kebersamaan serta nilai-nilai sepenanggungan. Ini sangat hidup di Kabupaten Lombok Barat," kata Fauzan.
(Dok. Kemenparekraf) |
Menurut Fauzan, gambaran keharmonisan umat beragama tersebut bisa disaksikan sebelum puncak Perang Topat dimulai dengan ritual mengarak kerbau.
Tokoh agama dari perwakilan umat Muslim dan Hindu bersama-sama memegang tali kerbau saat mengarak keliling taman Pura Lingsar.
"Kerbau merupakan simbol penghormatan kepada umat Islam dan Hindu. Alangkah indahnya kenyataan yang dibungkus dengan kesadaran total bahwa kita semua makhluk Allah SWT, guna merajut persaudaraan dan perdamaian. Jadi filosofi Perang Topat yakni mempertahankan tradisi menjaga toleransi," pungkasnya.
[Gambas:Video CNN]
(ard)
(Dok. Kemenparekraf)