Dalam kondisi banjir, tak sedikit warga yang terpaksa harus berjalan melewati genangan air untuk menyelamatkan diri. Permukaan kulit menjadi bagian tubuh yang terpapar langsung dengan air yang telah terkontaminasi bakteri.
Dengan kondisi sedemikian rupa, tak menutup kemungkinan jika kontak langsung dengan air akan mengakibatkan sejumlah gangguan pada kulit hingga infeksi yang bisa berujung fatal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Luka kecil sekali pun, jika terpapar oleh bakteri yang ada dalam air banjir, dapat mengakibatkan infeksi yang berbahaya," ujar Bandino, menyitat situs American Academy of Dermatology.
Pada 2017 lalu, misalnya, seorang wanita asal Texas, Amerika Serikat, meninggal dunia setelah tertular necrotizing fasciitis atau penyakit yang disebabkan bakteri pemakan daging yang muncul dalam genangan air akibat Badai Harvey.
Bakteri ini umumnya menyerang tubuh melalui luka dan lecet pada kulit. Infeksi dapat menyebar dengan cepat dan menghancurkan otot, kulit, serta jaringan di bawahnya dan menyebabkan matinya jaringan tubuh.
Mengutip Health, sebagian dari kematian saat Badai Florence menghantam AS pada 2018 lalu juga dikaitkan dengan infeksi kulit.
Gejala infeksi kulit ini di antaranya kemerahan yang terus membesar, rasa sensasi hangat atau terbakar, dan kulit di area sekitar luka yang melepuh.
Lihat juga:Waspada Penyakit Akibat Banjir |
Cuci dan tutup bagian luka untuk mencegah infeksi. Jika kondisi tak kunjung membaik dan disertai dengan demam, muntah, dan pusing, Anda disarankan untuk memeriksakan diri ke dokter sesegera mungkin.
Selain infeksi kulit, banjir juga dapat memperburuk penyakit kulit seperti eksim dan psoriasis.
Air banjir yang kotor juga dapat menimbulkan infeksi jamur yang umum menyerang bagian lipatan paha dan jari kaki. Infeksi ini umumnya menimbulkan rasa gatal saat tubuh berkeringat.
Gunakan sarung tangan sepatu bot agar tubuh terlindungi secara maksimal. Usahakan selalu membersihkan bagian tubuh yang terkena kontak dengan air banjir.
[Gambas:Video CNN] (asr/asr)