Kisah Wanita Inggris 'Pecandu' Bedak Bayi

tim, CNN Indonesia | Sabtu, 11/01/2020 16:33 WIB
Kisah Wanita Inggris 'Pecandu' Bedak Bayi Seorang perempuan Inggris punya makanan favorit yang aneh. Dia amat gemar makan bedak bayi. (iStock/nu1983)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kecanduan main game, media sosial mungkin umum dialami  orang di zaman serba digital. Namun kasus kecanduan cukup unik dialami oleh seorang perempuan asal Inggris, Lisa Anderson.

Anderson menemukan dirinya suka menyantap bedak bayi. Gejala ini muncul sejak kelahiran anak kelimanya 15 tahun lalu. Dia selalu punya bedak bayi di rumah. Bedak awalnya rutin diaplikasikan pada kulit sang anak dan lama-kelamaan dirinya pun turut menikmati bedak.

"Suatu hari saya ingat berada di kamar mandi dan aromanya begitu memikat. Cuma ada sedikit di atas tutup botol. Tiba-tiba saya ingin menyantapnya dan saya tidak bisa melawan. Saya menjilatnya dari tangan dan sangat menikmatinya," ujar Anderson mengutip dari Fox News.


Kecanduan ini berlanjut sampai-sampai di mengklaim tak bisa lepas dari bedak bayi, bahkan lebih dari 30 menit. Saat berada di tempat umum, dia berusaha memuaskan hasratnya dengan mengunyah permen karet.


Anderson mengaku dirinya paling lama 'berpisah' dengan bedak bayi selama dua hari. Baginya itu hari terburuk dalam hidup. Demi bisa memenuhi keinginannya makan bedak bayi, tiap minggu dia harus menyisihkan US$13 atau sekitar Rp178ribu.

Mantan partner Anderson mengetahui kebiasaan aneh ini 10 tahun lalu. Dia merasa curiga akan tingkah laku Anderson dan mendorongnya untuk memeriksakan diri ke tenaga profesional.

Anderson sebelumnya memang sudah mengalami depresi dan kecemasan. Ada kemungkinan Anderson mengalami pica. Pica merupakan gangguan makan termasuk makan makanan yang tidak lazim disantap dan tidak memiliki nilai gizi.


Gejalanya, pasien biasanya sangat menikmati makan sesuatu yang tak layak makan semisal debu, rambut, lempeng besi, abu atau tanah lempung. Gangguan kesehatan mental turut jadi faktor risiko pica seperti skizofrenia atau autisme.

"Saya menghabiskan waktu bertahun-tahun tanpa mengetahui apa yang sedang terjadi. Namun ternyata itu adalah suatu kondisi. Dan saya hanya ingin memberi tahu orang lain bahwa mereka tidak sendirian," katanya. (els/chs)


ARTIKEL TERKAIT