Hal ini membuat banyak penggemar Frozen tergugah untuk mengunjungi Hallstatt agar bisa 'mengintip' keindahan Arendelle. Wali Kota Hallstatt Alexander Scheutz mencatat jumlah turis mencapai 10 ribu orang per hari.
Padahal, populasi desa yang diapit Pegunungan Dachstein dan Salzkammergut serta danau berkaca-kaca itu hanya sekitar 800 orang. Jumlah turis yang terlalu 'membludak' dikhawatirkan akan menimbulkan masalah bagi desa dan membuat desa tidak bisa menerapkan pariwisata yang berkelanjutan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
[Gambas:Instagram]
Untuk itu, pemerintah setempat mengambil kebijakan pengurangan jumlah turis. Salah satunya dengan menerapkan sistem angkut menggunakan bus berkapasitas kecil, sehingga jumlah turis yang diangkut akan lebih sedikit.
"Slot (kursi penumpang bus) perlu dipesan lebih dahulu, bus yang menerima lebih dari satu pemberhentian bisa mendapatkan preferensi," ucapnya.
Hallstatt merupakan situs warisan dunia yang terdaftar di Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization/UNESCO).
Sebelumnya Frozen tenar, Hallstatt pertama kali dikenalkan ke publik melalui acara televisi di Korea Selatan.
Lihat juga:Box Office Korea Pekan Ini, Frozen 2 |
Gambaran keindahan Hallstatt pun kemudian menyebar di berbagai belahan dunia melalui berbagai saluran. Mulai dari acara televisi, film, hingga media sosial, seperti Instagram.
Kebijakan pengurangan jumlah wisatawan sejatinya bukan hanya terjadi di Hallstatt. Sejumlah negara di kawasan Uni Eropa juga tengah melakukannya.
Pemerintah Kota Roma misalnya, memberlakukan aturan denda senilai 250 euro bagi pengunjung yang duduk di Tangga Spanyol. Kemudian, turut membatasi jumlah pengunjung yang bisa mengakses Air Mancur ztrevi.
Tak ketinggalan, Amsterdam juga melakukan pembatasan turis. Hal ini diumumkan dalam tur wisata menuju Distrik Red Light. (uli/mik)