Aktivis Soal Perempuan Diganti Robot: Lelucon yang Seksis

tim, CNN Indonesia | Kamis, 30/01/2020 16:11 WIB
Kepala BPKM Bahlil Lahadalia mengklarifikasi pernyataan tentang perempuan diganti robot. Hal ini dianggap sebagai lelucon seksis oleh aktivis perempuan. Ilustrasi: Pekerja perempuan saat demo hari buruh. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) mengkritik Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia yang dianggap minim perspektif.

Sebelumnya Bahlil sempat mewanti para pekerja perempuan Indonesia dalam menyongsong perkembangan teknologi ke depan. Pasalnya kata dia, perubahan tersebut bakal menggerus penyerapan tenaga kerja khususnya perempuan.

"Suatu saat pekerja perempuan mungkin nanti tidak laku, diganti robot. Hati-hati kalian perempuan, ini tidak bisa dihindari," kata Bahlil, Rabu (29/1).


Berselang sehari Bahlil lantas meralat ucapannya. Kata dia, pernyataan tersebut hanya bercanda. Ia mengklarifikasi pernyataan dengan menyebut, perkembangan teknologi bukan hanya berpotensi menyingkirkan perempuan melainkan juga tenaga kerja yang tak produktif.


"Teknologi sekarang semakin canggih. Tenaga-tenaga yang kemampuannya rendah itu bisa digantikan dengan robot. Itu sebenarnya. Saya hanya bercanda saja di situ. Ini sudah terjadi. Mau laki-laki mau perempuan," kata Bahlil, Kamis (30/1).

Sekalipun telah diklarifikasi, Sekretaris KPI DKI Jakarta Mike Verawati menilai justru pernyataan pertama itu menunjukkan Bahlil memiliki cara pikir yang bias. Karena itu Mike pun jadi sangsi Bahlil memahami akar masalah pekerja di Indonesia.

"Harusnya Bahlil justru punya tawaran strategis yang bisa menyelesaikan ketersediaan tenaga kerja dan tuntutan teknologi," tutur Mike kepada CNNIndonesia.com, Kamis (30/1).

"Apalagi, klarifikasinya mengatakan ini cuma bercanda. Kalau menurut saya ini hanya excuse, tetapi aslinya Kepala BKPM enggak punya konsep yang solutif," sambung dia.


Lagipula, lanjut Mike, sesungguhnya tak bijak menjadikan pernyataan isu pekerja perempuan itu sebagai bahan gurauan. Apalagi mengingat posisi Bahlil sebagai pejabat publik.

"Jika diawal bilang hanya perempuan, menurut saya itu tendensius. Lalu mungkin setelah diprotes, terus klarifikasi. Tapi ini catatan bahwa beliau tidak menguasai akar masalah pekerja di Indonesia," pungkas Mike.

Sekretaris Jenderal Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Dian Kartika Sari pun senada. Kalaupun hanya guyonan, ia berpandangan lelucon itu tetap saja seksis. Kendati Dian tak menampik ada pula kekhawatiran mengenai tersingkirnya tenaga kerja -baik laki-laki dan perempuan- dengan teknologi.

"Iya, ini lelucon yang seksis. Tapi secara faktual memang mungkin terjadi," tutur Dian.


Ia melanjutkan, pada era digitalisasi ekonomi ini sebagian besar pekerjaan terbuka kemungkinan bakal digantikan mesin atau robot. Selain itu, kelak pun perubahan relasi perburuhan antara penyedia jasa, pengguna jasa dan pengelola aplikasi tak bisa ditolak.

Karena itu semestinya permasalahan tersebut yang harus ditangkap dan dicarikan solusi konkretnya oleh pemerintah. Selain itu, pemerintah harus mulai menyediakan pendidikan serta pelatihan vokasi untuk alih profesi.

"Negara perlu riset tentang dampak digitalisasi ekonomi terhadap tenaga kerja laki-laki maupun perempuan. Melakukan kajian terhadap perubahan relasi perburuhan dan membuat kebijakan yang melindungi pekerja," kata Dian.

[Gambas:Video CNN] (els/NMA)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK