SURAT DARI RANTAU

Mendoakan Pariwisata Australia Pulih dari Karhutla

Annisa Kayra, CNN Indonesia | Sabtu, 01/02/2020 14:47 WIB
Mendoakan Pariwisata Australia Pulih dari Karhutla Opera House di Sydney, Australia. (Istockphoto/Simonbradfield)
Tasmania, CNN Indonesia -- Australia masih dilanda kebakaran hutan hingga pekan ini. Jika beberapa minggu yang lalu tempat bermukim saya di Tumbarumba, New South Wales, dilalap Si Jago Merah, saat ini api dikabarkan bergerak ke Canberra.

Jika sempat membaca Surat dari Rantau saya sebelumnya, telah dijelaskan bahwa saya bisa datang ke Negara Kanguru dengan mengantongi visa bekerja dan berlibur (Work and Holiday Visa/WHV). Di sini saya bekerja di perkebunan bluberi.

Karena kebun di Tumbarumba kebakaran, saya dimutasi ke Tasmania. Di sini situasi sudah berjalan normal pasca amukan karhutla.



Sibuk bekerja 12 jam sehari, saya hampir tak mengikuti berita soal kebakaran hutan lagi. Namun katanya pengelola kebun bluberi di Tumbarumba sedang berusaha memulihkan dampak kebakaran hutan.

Bisa dipastikan karhutla mengacaukan musim panen hasil perkebunan di Australia. Padahal negara ini juga merupakan salah satu pemasok wine di dunia. Perkebunan wine di sini juga menjadi destinasi wisata yang ramai didatangi turis mancanegara.

Mengutip CNN Travel, meski asap dan hawa gerah akibat kebakaran hutan masih terasa, sebenarnya ada kawasan di Australia yang cukup aman dikunjungi turis, seperti Australia Barat dan Tasmania.

Pemerintah Australia juga terus memperbaharui informasi situasi karhutla di sejumlah destinasi yang bisa dicek melalui situs resmi Badan Pariwisata Australia.


Banyak yang bertanya kepada saya soal mahal atau murahnya wisata di Australia. Menurut saya wisata di sini mahal karena harus mengeluarkan uang minimal AUS$10 (sekitar Rp100 ribu). Bahkan makan bakso di restoran Indonesia saja sekitar AUS$12.

Salah satu cara untuk berhemat saat wisata di sini ialah menginap di apartemen yang memiliki fasilitas dapur masak atau di hostel.

Bagi yang baru pertama kali akan berwisata ke Australia, saya sarankan untuk datang ke Sydney atau Melbourne.

Kalau ingin mencari suasana kota modern bak Jakarta, bisa datang ke Sydney. Opera House dan Harbour Bridge wajib dikunjungi. Keramaian turis sangat mungkin terjadi di kota ini.

Sementara jika ingin mencari suasana kota kreatif bak Bandung, bisa datang ke Melbourne. Ada banyak kedai kopi lokal dan bar yang bisa didatangi di sini. Anak-anak muda dengan dandanan kekinian dan mural warna-warni bisa dilihat di sini.

Waktu terbaik untuk datang ke Australia ialah saat masa peralihan musim gugur ke musim panas, sekitar awal Desember. Cuaca di musim ini bakal lebih adem. Tapi jangan berharap banyak dengan Melbourne, karena cuaca di kota ini sering berubah dengan cepat.

Soal kebakaran hutan, negara ini langganan karhutla saat musim panas setiap tahunnya. Tapi bencana tahun ini memang yang paling parah sehingga menggegerkan dunia.

Saya harap kebakaran hutan di Australia bisa cepat berlalu, sehingga kehidupan, sekolah, kampus, kantor, objek wisata dan segala industri yang ada di sini bisa kembali beroperasi dengan normal.


Surat dari Rantau adalah rubrik terbaru di CNNIndonesia.com. Rubrik ini berupa "curahan hati" dari WNI yang sedang menetap di luar negeri. Bisa mengenai kisah keseharian, pengalaman wisata, sampai pandangan atas isu sosial yang sedang terjadi di negara yang ditinggali. Tulisan yang dikirim minimal 1.000 kata dan dilengkapi minimal tiga foto berkualitas baik yang berhubungan dengan cerita. Jika Anda ingin mengirimkan cerita, sila hubungi sdr@cnnindonesia.com


[Gambas:Video CNN]


(ard)