Kisah Pengantin Baru yang Terjebak di 'Pusat' Virus Corona

tim, CNN Indonesia | Senin, 03/02/2020 13:04 WIB
Kisah Pengantin Baru yang Terjebak di 'Pusat' Virus Corona Pengantin baru yang tengah mengandung dan berasal dari Thailand berteriak minta tolong karena terjebak di pusat penyakit Wuhan. (Chinatopix via AP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebanyak 238 warga Indonesia berhasil diboyong pulang dari Wuhan, China akibat menyebarnya virus corona. Meski harus melalui jalan panjang sebelum kembali ke kampung halaman, setidaknya ada rasa lega terbesit. Nasib berbeda dialami pengantin baru, Aphinya Thasripech, seorang warga negara Thailand.

Dirinya hanya bisa melihat warga negara lain berhambur pulang ke negara asalnya atau pergi ke daerah lain. Minggu ini ratusan orang keluar dari 'perangkap' virus corona. Ada yang kembali ke Jepang, Amerika Serikat, juga Singapura. Indonesia juga sudah menjemput WNI yang ada di Wuhan.

Dalam kondisi mengandung dua bulan, Thasripech merasa takut dirinya tak bisa ikut dalam euforia keluar dari perangkap virus corona.


"Saya merasa terluka karena mereka tidak akan peduli dengan kami. Kalau tidak saya bisa kelaparan atau terinfeksi dan mati," kata dia mengutip dari AFP.

Dua minggu lalu Thasripech tiba di China untuk melangsungkan pernikahan dengan sang suami yang berdarah China di Xiantao. Kota ini sebenarnya berjarak 200 kilometer dari Wuhan. Namun kini Xiantao layaknya kota mati. Toko-toko, restoran, semua tutup.


Senasib dengan Thasripech, mahasiswa kedokteran asal Thailand, Badeephak Kaosala juga terperangkap di China. Persediaan air dan makanan di kamar asrama sudah menipis. Dia pun melihat banyak negara memulangkan warganya dan dirinya hingga kini belum mendapat kepastian kapan bisa pulang.

"China memberi izin pada banyak negara...kami pun merasa sangat putus asa," katanya.

Pemerintah Thailand rupanya masih menunggu izin dari pemerintah China untuk memulangkan 65 orang warganya.

Sementara itu harapan untuk bisa pulang barangkali musti dikubur oleh Ruqia Shaikh, warga negara Pakistan.

"Negara kami tidak mampu menghadapi virus corona," ucapnya.

Ada lebih dari 500 pelajar asal Pakistan di Wuhan. Shaikh berkata para perantau diliputi rasa takut, frustasi, dan panik. Menurut pernyataan resmi ada sebanyak empat warga Pakistan yag didiagnosis terinfeksi virus corona.


Ada yang memberanikan diri keluar dari China. Ada pula dari mereka yang memilih untuk tinggal daripada harus pulang. Pulang, menurut mereka, tidak akan menyelesaikan persoalan karena fasilitas kesehatan di Pakistan masih minim.

Sekelompok warga Brasil yang terjebak di Wuhan pun juga berteriak minta tolong. Mereka memohon pada Presiden Jair Bolsonaro untuk memulangkan mereka ke Brasil.

Dalam video minta tolong itu, mereka menyatakan kalau mereka bersedia dikarantina ketika mereka kembali.

"Ketika kami menulis surat ini, tak ada kasus yang dikonfirmasi dari virus corona ataupun gejala infeksi," tulis salah satu kelompok.

Sampai saat ini belum ada tanggal atau kepastian kapan mereka akan dijemput dan dipulangkan kembali dari Wuhan untuk menghindari virus corona.

(els/chs)