Jajak pendapat berjudul "International Public Opinion Survey on Cancer 2020: What people feel, think, and believe about cancer today" menunjukkan perbedaan yang jelas antara masyarakat kelompok ekonomi tinggi dan rendah dalam hal pengetahuan dan kesadaran akan faktor risiko kanker.
"Jutaan orang memiliki peluang lebih besar terkena kanker karena mereka tak menyadari faktor risiko yang harus dihindari dan tak mengadopsi perilaku sehat. Berbagai informasi juga masih dianggap remeh," ujar Chief Executive Officer Union for International Cancer Control (UICC), Cary Adams, menyitat situs resmi UICC.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara faktor risiko seperti kurang aktivitas fisik atau olahraga (28 persen), paparan virus atau bakteri tertentu (28 persen), dan kelebihan berat badan (29 persen) menjadi yang paling tidak 'populer' di tengah masyarakat.
Masyarakat dari golongan rumah tangga berpendapatan rendah ditemukan lebih tidak mengenali faktor risiko kanker daripada mereka yang berasal dari rumah tangga berpendapatan tinggi. Tren ini juga ditemukan terjadi di antara orang dengan tingkat pendidikan tinggi (setara universitas) dengan yang rendah.
Ilustrasi. Masyarakat dengan ekonomi dan pendidikan rendah ditemukan lebih tidak mengenali faktor risiko kanker dibanding mereka dengan tingkat ekonomi dan pendidikan yang lebih tinggi. (Istockphoto/sudok1) |
Sementara beberapa mengaku memahami faktor risiko kanker, beberapa lainnya justru mengaku sama sekali tak tahu menahu. Dalam kategori ini, masyarakat dengan pendapatan rendah menjadi kelompok terbesar (9 persen), diikuti oleh masyarakat menengah (6 persen), dan masyarakat menengah ke atas (4 persen).
Selain kurang mengenali faktor risiko, mereka dengan pendidikan dan tingkat ekonomi rendah juga ditemukan tidak proaktif dalam mengambil langkah-langkah demi mengurangi risiko kanker.
Survei dilakukan terhadap 15.472 orang dewasa di 20 negara. Survei dilakukan untuk menandai kali ke-20 Hari Kanker Sedunia diperingati.
Keterlibatan Pemerintah
Sebanyak 84 persen responden merasa bahwa pemerintah harus mengambil tindakan untuk mencegah kanker. Sementara itu, hampir sepertiga responden percaya bahwa pemerintah juga perlu meningkatkan akses layanan kesehatan kanker, utamanya pada negara-negara berpenghasilan menengah ke bawah.
"Untuk mengatasi beban kanker global saat ini dan masa depan, pemerintah dan pengambil kebijakan di dunia harus bersatu untuk memastikan bahwa setiap orang diberi kesempatan untuk mencegah kanker, terlepas dari tingkat pendidikan atau ekonomi mereka," ujar Presiden UICC, Princess Dina Mired of Jordan.
Selain itu, pemerintah juga diminta untuk menerapkan kebijakan demi mengurangi konsumsi produk penyebab kanker seperti tembakau serta makanan dan minuman bergula.
Hari Kanker Sedunia diperingati setiap 4 Februari. Kali ini, peringatan mengambil tema 'I Am and I Will' yang meminta setiap orang mengambil langkah sekecil apa pun untuk membantu mencegah kanker.
Kanker menjadi pembunuh nomor dua di dunia. Sebanyak 9,6 juta nyawa di dunia melayang akibat kanker. Lebih dari 3,7 juta nyawa dapat diselamatkan dengan mengimplementasikan perawatan dan pengobatan yang tepat serta melalui deteksi dini.
Di Indonesia sendiri, Riskesdas 2018 mencatat peningkatan prevalensi kanker dari 1,3 persen per 1.000 penduduk pada 2013 menjadi 1,8 persen per 1.000 penduduk pada 2018.
[Gambas:Video CNN] (asr/asr)
Ilustrasi. Masyarakat dengan ekonomi dan pendidikan rendah ditemukan lebih tidak mengenali faktor risiko kanker dibanding mereka dengan tingkat ekonomi dan pendidikan yang lebih tinggi. (Istockphoto/sudok1)