Chaerul menjelaskan, curcumin merupakan salah satu kandungan yang terdapat pada jahe, sereh, kunyit, dan temulawak. Hal tersebut dijelaskan oleh Guru Besar Biokimia dan Biologi Molekuler Universitas Airlangga, Chaerul Anwar Nidom.
[Gambas:Instagram]
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski menjadi sedikit angin sejuk bagi Indonesia, pendapat berbeda justru diungkapkan oleh Direktur Lembaga Biologi Milekuler Eijkman, Profesor Amin Soebandrio. Dia menegaskan, hingga saat ini belum ada bukti klinis yang menunjukkan keampuhan curcumin menangkal virus corona.
"Curcumin secara umum menyehatkan tubuh kita, [tapi] bukan kekebalan spesifik terhadap virus corona. Setahu saya belum ada kajian khusus [curcumin menangkal virus corona]," kata Amir saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (19/2).
Curcumin, lanjut dia, dalam beberapa kajian memiliki efek seperti menurunkan peradangan, meningkatkan daya tahan tubuh, dan sebagai agen antioksidan. Konsumsi curcumin melalui jamu pun dilakukan sejak lama oleh nenek moyang.
Hingga saat ini, belum ditemukan obat yang secara spesifik bisa mengatasi virus corona. Beberapa rumah sakit mencoba menggunakan antivirus yang telah ada sebelumnya.
Sedangkan untuk memproduksi vaksin, diperlukan waktu sekitar 5-10 tahun. Dalam keadaan genting seperti saat ini, prosesnya bisa dipersingkat atau melalui prosedur fast track.
"WHO [Organisasi Kesehatan Dunia] mengatakan bisa dipersingkat jadi 18 bulan. Paling cepat 6 bulan, kalau lancar. Tapi saya kira [makan waktu] lebih dari setahun," kata Amin.
Proses pengembangan vaksin juga harus melalui beberapa tahap. Mulai dari menemukan bagian virus yang bersifat imunogenik hingga pengujian.
"Kalau betul, itu [calon vaksin] diuji di hewan. Dilihat apakah menimbulkan reaksi tertentu. Lalu, dicoba pada manusia secara terbatas dan dilihat responsnya serta efek sampingnya," jelas Amir.
Hingga saat ini, virus corona Wuhan atau Covid-19 telah menginfeksi lebih dari 75 ribu orang dan sebanyak 2 ribu nyawa melayang akibatnya.
[Gambas:Video CNN]
(els/asr)