Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Annals of Internal Medicine pada Senin (9/3) ini memeriksa lebih dari 180 kasus virus corona di tempat tanpa penyebaran virus yang luas untuk memperkirakan periode inkubasi atau waktu munculnya gejala.
Penelitian ini dilakukan saat awal masa epidemi pada kasus yang parah. Hampir semua kasus yang dianalisis adalah kasus pasien yang melakukan perjalanan dari Wuhan, China.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Temuan menarik lainnya adalah screening simptomatik seperti pemeriksaan suhu di bandara tidak efektif karena gejala tidak muncul pada orang yang baru terinfeksi.
"Jika seseorang dalam masa inkubasi, itu adalah masa ketika seseorang yang sudah terinfeksi dapat masuk ke negara itu dan tidak terdeteksi oleh pengawasan berbasis gejala," kata peneliti dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, Justin Lessler, dikutip dari CNN.
Peneliti mengatakan, batasan penelitian ini fokus pada kasus yang parah. Hal ini menimbulkan kemungkinan masa inkubasi untuk kasus yang ringan akan berbeda.
Ahli kesehatan masyarakat dari Harvard T.H. Chan School of Public Health, Bill Hanage menilai, penelitian ini masuk akal dan konsisten dengan perkiraan independen lainnya.
Temuan masa inkubasi ini konsisten dengan perkiraan sebelumnya dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Disebutkan bahwa orang yang berpotensi terinfeksi virus corona harus dikarantina selama 14 hari.
[Gambas:Video CNN]
(ptj/asr)