Studi anyar dari Jepang ini meneliti hubungan antara kebahagiaan dan altruisme atau perhatian tanpa pamrih pada orang lain. Hasilnya, penelitian ini mendapati, perilaku menyumbangkan uang untuk mendapatkan rasa bahagia tak berlangsung lama. Setelah satu bulan, orang yang menyumbangkan uang kurang bahagia dibandingkan orang yang menyimpan uang untuk diri sendiri.
"Perilaku prososial tidak secara tegas meningkatkan kebahagiaan. Karena pengeluaran prososial secara alami membuat kita melepaskan sesuatu yang lain, yang dapat mengurangi kebahagiaan dengan sendirinya," tulis peneliti dalam penelitian yang dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences, dikutip dari CNN.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekitar 60 persen mahasiswa memilih hadiah B untuk menyelamatkan nyawa orang lain. Mereka menunjukkan perasaan puas diri dan bahagia dengan pilihan mereka. Total, penelitian ini membayar peserta dengan 40.764 euro dan mendonasikan 111.300 euro untuk yayasan yang menanggulangi TB.
Namun, kesenangan itu tak bertahan lama. Saat dihubungi sebulan setelahnya, tingkat kebahagiaan orang yang memilih opsi B menurun dibandingkan orang yang memutuskan untuk menyimpan uang untuk diri mereka sendiri.
Hasil penelitian ini bertolak belakang dengan sejumlah penelitian sebelumnya. Penelitian sebelumnya menunjukkan, membantu orang lain dapat merangsang otak untuk meminimalisir stres, depresi, kerusakan kognitif, dan membuat hidup lebih lama.
[Gambas:Video CNN]
(ptj/asr)