Alasan Social Distance Efektif Mencegah Penularan Corona

tim, CNN Indonesia | Senin, 16/03/2020 14:25 WIB
Social distancing dianggap sebagai salah satu cara menghentikan laju penularan virus corona. Benarkah cara ini bakal berhasil? Social distancing dianggap sebagai salah satu cara menghentikan laju penularan virus corona. Benarkah cara ini bakal berhasil? (Unsplash/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Social distance atau menjaga jarak saat bersosialisasi menjadi cara yang dianggap penting -selain cuci tangan- untuk mencegah Covid-19 akibat virus corona.

Namun apa sebenarnya social distance? praktik kesehatan masyarakat yang bertujuan untuk mencegah orang sakit melakukan kontak dekat dengan orang sehat untuk mengurangi peluang penularan penyakit. Ini dapat mencakup langkah-langkah skala besar seperti membatalkan acara kelompok atau menutup ruang publik, serta keputusan individu seperti menghindari keramaian.

"Social distance seringkali sulit dilakukan. Karena kebanyakan dari manusia adalah makhluk sosial," Asaf Bitton, direktur eksekutif Ariadne Labs di Boston kepada Medium.

Penelitian telah menemukan bahwa SARS-CoV-2, nama resmi untuk virus corona yang menyebabkan pandemi saat ini, menyebar lewat droplet atau ludah dan secara prospektif dapat tetap mengudara hingga tiga jam setelah seseorang yang terinfeksi batuk atau bersin. Studi lain telah menyimpulkan bahwa coronavirus dapat tetap hidup di permukaan mulai dari beberapa jam hingga beberapa hari.



Dalam hubungannya dengan virus corona, social distance ini bertujuan untuk menghambat wabah untuk mengurangi kemungkinan infeksi di antara populasi berisiko tinggi. Para ahli menggambarkan ini sebagai "perataan kurva," yang umumnya merujuk pada keberhasilan potensial dari langkah-langkah jarak sosial untuk mencegah lonjakan penyakit yang dapat membanjiri sistem perawatan kesehatan.

"Tujuan dari jarak sosial di AS adalah untuk menurunkan laju dan tingkat penyebaran COVID-19 di kota atau komunitas mana pun," tulis Tom Inglesby, direktur pusat John Hopkins Center for Health Security dikutip dari laman John Hopkins University.

 "Jika itu bisa terjadi, maka akan ada lebih sedikit orang dengan penyakit, dan lebih sedikit orang yang membutuhkan rawat inap dan ventilator pada satu waktu."

Mempraktikkan social distance

CDC mendefinisikan social distance saat Covid-19 adalah mengurangi pertemuan massal, tak berada di area ramai, dan menjaga jarak sekitar 2 meter dari orang lain, terutama dari mereka yang menunjukkan tanda-tanda sakit.

Caitlin Rivers seorang ahli epidemiologi dari Johns Hopkins Center for Health Security mengungkapkan bahwa ini berarti tak ada pelukan atau berjabat tangan.

"Intervensi masyarakat seperti penutupan acara memainkan peran penting," kata Rivers.

"Tetapi perubahan perilaku individu bahkan lebih penting. Tindakan individu rendah hati tetapi kuat."

Foto: CNN Indonesia/Fajrian


Mengapa social distance dianggap bisa mengurangi efek penyebaran virus corona?

Merujuk dari sejarahnya khususnya dari pandemi influenza di Spanyol pada 1918, langkah ini dianggap berhasil. Sebuah studi dari PNAS 2007 menemukan bahwa kota-kota yang mengerahkan banyak intervensi pada fase awal pandemi - seperti menutup sekolah dan melarang pertemuan publik - memiliki tingkat kematian yang secara signifikan lebih rendah.

Ahli epidemiologi UC San Francisco Jeff Martin mengungkapkan bahwa Banyak faktor yang berkontribusi terhadap apa yang disebut jumlah reproduksi virus corona baru, yang menggambarkan secara kasar berapa banyak orang yang terinfeksi yang akan terinfeksi. Saat ini, perkiraan jumlah reproduksi dari coronavirus baru berkisar antara 1,4 hingga 6,5, dengan rata-rata 3,3.


"Semakin tinggi angka reproduksi, semakin cepat akan menyebar," kata Martin mengutip University of California San Francisco.

Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah reproduksi termasuk seberapa menular virus itu, seberapa rentan orang terhadap infeksi, jumlah kontak di antara orang-orang, dan lamanya kontak tersebut terjadi.


Social distancing ini diharapkan bisa menjauhkan si sakit atau masih carrier untuk menulari orang sehat. Menyederhanakan Washington Post, ketika berada dalam satu komunitas yang sama, virus corona yang bisa menular antarmanusia dan juga lewat droplet ini akan menular secara simultan pada orang lain. Semakin banyak orang dalam satu kerumunan yang sama dengan orang yang sakit maka orang sehat bisa menjadi sakit. Hal ini akan menimbulkan 'ledakan penyakit yang menular.' Dari satu orang bisa menyebar sampai ke ratusan bahkan ribuan orang sekaligus.

Intinya, ketika ada social distancing yang terbentuk, manusia berinteraksi lebih sedikit dengan orang lainnya, maka virus corona punya kesempatan yang lebih kecil untuk menyebar dan menghambat infeksi virus corona.

(chs)