WHO: Hindari Konsumsi Ibuprofen untuk Obati Gejala Covid-19

CNN Indonesia | Rabu, 18/03/2020 05:11 WIB
Daripada ibuprofen untuk digunakan mengobati gejala Covid-19, Jubir WHO menyatakan pihaknya lebih merekomendasikan paracetamol dengan takaran yang tak berlebih. Foto mikroskopis virus corona. (Dok. CDC/Dr. Fred Murphy via Wikimedia Commons)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan penderita gejala infeksi virus corona (Covid-19) untuk menghindari asupan medis atau obat ibuprofen.

Itu direkomendasikan WHO merujuk pada peringatan Menteri Kesehatan Prancis Oliver Veran yang menyatakan jenis obat itu malah bisa memperburuk efek dari virus. Veran sendiri menyatakan itu berdasarkan penelitian terkini yang ditulis dalam jurnal medis The Lancet.

Juru bicara WHO Chrisitan Lindmeier mengatakan sejalan Veran, pihaknya pun memberikan rekomendasi yang serupa.


"Kami merekomendasikan penggunaan paracetamol, dan bukan menggunakan ibuprofen untuk pengobatan diri sendiri. Ini penting," tegas Lindmeier, sepeti dikutip AFP, Selasa (17/3).

Lindmeier pun menegaskan ibuprofen harus dikonsumsi pasien berdasarkan resep yang diberikan dokter. Selain itu, terkait konsumsi paracetamol pun harus dikontrol lebih ketat sebab bisa berisiko merusak hati.

Ibuprofen adalah obat yang tergolong dalam kelompok obat anti-inflamasi nonsteroid dan digunakan untuk mengurangi rasa sakit akibat peradangan.

Jurubicara perusahaan farmasi Inggris, Reckitt Benckiser, yang juga memproduksi merek Nurofen merilis pernyataan bahwa pihaknya mengatakan ,"Keselamatan konsumen adalah prioritas utama kami."

"Ibuprofen adalah obat-obatan yang dibuat dengan seksama menggunakan standar keselamatan yang bisa meringankan demam dan mengurangi sakit, termasuk sakit tenggorokan, selama lebih dari 30 tahun," demikian lanjutan pernyataannya.

[Gambas:Video CNN]
Perusahaan itu pun menyatakan telah melakukan komunikasi dengan WHO, badan obat-obatan Eropa), dan otoritas kesehatan lokal lainnya untuk memberikan informasi keselamatan dalam mengonsumsi produk pihaknya.

Merujuk pada data WHO per 18 Maret 2020 pukul 02.47 WIB, saat ini di tingkat global ada 184.976 kasus positif Covid-19, dengan tingkat kematian 7.529 yang mencakup 159 negara terjangkit.







(AFP/kid)