Tsunami Jepang & Memori Surfing di Pantai 'Nuklir' Fukushima

CNN Indonesia | Selasa, 24/03/2020 11:04 WIB
Koji Suzuki kehilangan ayah dan ibunya saat gempa dan tsunami menghantam Jepang pada 2011. Kini ia berusaha bangkit dengan tetap surfing di Pantai Minamisoma. Koji Suzuki saat berselancar di Pantai Minamisoma, Fukushima, Jepang. (AFP/CHARLY TRIBALLEAU)
Jakarta, CNN Indonesia -- Setiap pagi, saat cerah atau mendung, Koji Suzuki yang kini berusia 64 tahun meraih papan selancarnya dan memeriksa ombak yang bergulung di garis pantai Fukushima, satu dari sekian banyak spot surfing terbaik di Jepang.

Pantai lokal yang didatangi Suzuki, Minamisoma, berjarak sekitar 30 kilometer di utara dari pembangkit nuklir Fukushima No. 1 yang lumpuh, dan ia masih memiliki ingatan yang jelas pada 11 Maret 2011, ketika tsunami yang menjulang dipicu oleh gempa berkekuatan 9,0 SR yang menjilat daratan, merusak fasilitas tersebut.

Ombak yang bergulung dahsyat juga menyapu bersih puluhan pemukiman di sekitar pantainya, termasuk toko selancar miliknya.


Dia melarikan diri, meninggalkan segalanya kecuali dua papan surfing berjenis shortboard yang kebetulan ada di dalam mobilnya.

"Saya kehilangan rumah, pekerjaan, dan toko saya. Ibuku meninggal ... dan tak lama ayah saya wafat. Saya kehilangan segalanya. Kecuali papan selancar saya," katanya.

Ketika dia kembali saat musim panas, pantai dipenuhi puing-puing dari rumah-rumah yang rusak.

Kehancuran di pembangkit listrik tenaga nuklir No.1 Fukushima, yang disebut kecelakaan nuklir terburuk di dunia sejak Chernobyl, hingga saat ini masih memancarkan radiasi ke lingkungan, memaksa sekitar 160 ribu orang untuk mengungsi.

Tetapi Suzuki bertekad untuk kembali ke air, di mana ombak bergulung dan menjadikan pantai ini salah satu tempat selancar terbaik di Negara Matahari Terbit.

"Itu adalah pemandangan yang memilukan, tetapi lautan ada di sana seperti sebelumn bencana terjadi ... Saya pikir jika saya tidak pergi ke air sekarang, pantai ini akan mati selamanya," katanya.

Setelah memastikan tingkat radiasi tidak berbahaya, ia melangkah kembali ke ombak saat penyelamat masih menyapu pantai untuk mencari korban hilang.

Hari itu ia bertekad untuk kembali menunggangi ombak di Pantai Minamisoma.

"Saya berselancar sekitar 250 hari dalam setahun," katanya.

"Saya beristirahat hanya pada Hari Tahun Baru dan setelahnya. Sisanya, saya datang untuk melihat lautan setiap pagi. "

Koji Suzuki dengan papan selancarnya. (AFP/CHARLY TRIBALLEAU)

Sembilan tahun kemudian, Perdana Menteri Shinzo Abe ingin menggunakan Olimpiade Tokyo yang akan datang untuk memamerkan pemulihan Fukushima, berencana memulai pawai obor Jepang dari sana.

Pemerintah Abe juga mencabut perintah evakuasi untuk area Futaba, salah satu dari dua kota yang menjadi lokasi bencana pembangkit nuklir, untuk memungkinkan pawai obor bermula.

Mulai tahun 2020, surfing memulai debutnya di Olimpiade sebagai bagian dari upaya untuk membuat ajang olahraga dunia ini lebih menarik bagi kaum muda.

Jika Olimpiade Jepang masih akan digelar di tengah pandemi virus corona COVID-19, ajang surfing akan diadakan di Pantai Tsurigasaki di Prefektur Chiba.

Suzuki mengatakan dia menghargai pemberitaan positif bahwa Fukushima "aman", tetapi ia sangsi dengan promosi Olimpiade yang dilakukan pemerintah.

"Fukushima tidak akan pernah pulih," katanya. "Saya tidak pernah bisa kembali ke tempat yang sama tempat saya dulu tinggal dan menjalankan toko saya. ... Fukushima akan mendapat stigma buruk dalam sejarah, selamanya. "

Dan terlepas dari upaya pemerintah untuk memperbarui citranya, krisis nuklir masih jauh dari selesai. Jepang masih punya pekerjaan rumah untuk menetralisir sekitar 1 juta ton air yang tercemar tritium yang disimpan dalam tangki di lokasi pabrik.

Air, dari hujan dan tanah, yang merembes ke pabrik yang masih tercemar nuklir setiap harinya.

Badan pengawas nuklir dunia, IAEA, telah mendukung rencana Jepang untuk melepaskan air ke lautan, menggambarkannya sebagai praktik "dilakukan di tempat lain".

Pemandangan tsunami Jepang tahun 2011 di Prefektur Iwate. (AFP PHOTO/YASUYOSHI CHIBA)

Tetapi beberapa tetangga Jepang, termasuk Korea Selatan, mengkritik sisi keamanan atas rencana tersebut, sementara nelayan lokal khawatir tentang risiko saat memancing.

Hideki Okumoto, seorang profesor di Universitas Fukushima yang telah memeriksa tingkat radiasi di darat, mengatakan data yang aman tidak selalu menyebabkan orang merasa aman.

"Tingkat radiasi di sini tidak berbeda dengan sebelum kecelakaan nuklir," katanya.

"Kami hanya perlu terus memeriksa dan mengungkapkan data pada waktu yang tepat, menunjukkan bahwa mereka tidak lebih tinggi dari standar (keselamatan)."

Suzuki tidak meragukan ilmu pengetahuan, tetapi menentang rencana untuk melepaskan air tercemar ke lautan dan mengatakan risiko keamanan bisa menjadi "masalah" di kampung halamannya.

"Kami masih memiliki alam yang tersisa di sini, terutama untuk berselancar. Saya suka tempat ini lebih dari tempat lain. Saya suka orang-orang di sini, saya merasa nyaman, "katanya.

"Saya hanya ingin berbagi perasaan ini dengan orang-orang yang merasakan hal yang sama. Itu cukup untuk saya."

Musim panas lalu, kota Minamisoma secara resmi membuka pantainya bagi para pengunjung untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu.

"Sungguh luar biasa melihat anak-anak bermain-main di air ... Mereka bahkan belum merasakan air laut yang asin sebelumnya, "katanya.

Suzuki, yang akan berusia 65 akhir bulan ini, berharap hasratnya untuk berselancar tidak akan pernah lagi terganggu.

"Ketika saya menginjak usia 70 dan manuver di shortboard menjadi terlalu sulit, saya berpikir untuk beralih ke longboard.

[Gambas:Video CNN]

(AFP/ard)