Mengenal Airborne, Airborne Aerosol, dan Bertahan di Udara

tim, CNN Indonesia | Rabu, 01/04/2020 17:23 WIB
WHO menyatakan bahwa virus corona tidak menyebar secara airborne, namun apa sebenarnya pengertian umum soal airborne, airborne aerosol, dan bertahan di udara? WHO menyatakan bahwa virus corona tidak menyebar secara airborne, namun apa sebenarnya pengertian umum soal airborne, airborne aerosol, dan bertahan di udara? (dok. cgtn.com)
Jakarta, CNN Indonesia -- WHO menyatakan bahwa cara penyebaran virus corona tidak menular lewat udara alias airborne. Bukti saat ini, virus penyebab Covid-19 ditularkan antara orang melalui droplets, yakni tetesan dari air liur atau lendir saat batuk dan bersin dan kontak fisik.

Hal ini sekaligus menjawab informasi yang beredar tentang cara penyebaran corona bisa melalui udara selama ini.

Selain menyebar secara airborne, informasi yang sempat beredar juga menyebut bahwa virus ini juga menyebar secara airborne aerosol dan bisa bertahan di udara.


Bicara soal hal tersebut, ada beberapa istilah yang perlu diketahui terkait cara penyebaran virus. Berikut pengertian metode penularan yang familiar beberapa waktu belakangan ini, dikutip dari berbagai sumber. 


1. Airborne disease
Airborne disease berarti penyakit yang menyebar lewat udara atau ditularkan melalui udara. Penyakit ini disebabkan oleh patogen yang bisa menyebar melalui udara dari waktu ke waktu dengan partikel yang berukuran kecil.

Patogen atau penyebab penyakit ini bisa dalam bentuk virus, bakteri, atau jamur. Ada beberapa kategori penyebaran airborne meliputi airborne aerosol, debu, atau cairan.

Beberapa contoh penyakit yang menular lewat udara antara lain flu, tbc, demam, cacar, antrax, campak dan lainnya.

Patogen atau alergen yang ditularkan melalui udara sering menyebabkan peradangan di hidung, tenggorokan, sinus, dan paru-paru. Ini disebabkan oleh inhalasi patogen yang memengaruhi sistem pernapasan seseorang.

2. Airborne aerosol

Aerosol adalah partikel padat atau cair yang tertahan dalam partikel gas seperti udara. Contoh dari aerosol adalah kabut, yakni ketika partikel air tertahan oleh partikel gas dan melayang di udara.


"Jika partikel virus yang ada pada tetesan lendir atau air liur dapat bertahan di udara selama lebih dari beberapa detik, sebagaimana virus campak, maka siapa pun yang melewatinya dapat terinfeksi. Ada alasan kuat untuk meragukan bahwa virus Corona baru (penyebab Covid-19) memiliki kemampuan itu (untuk bertahan di udara)", kata ahli epidemiologi Michael Le Vasseur dari Drexel University seperti dikutip dari Statnews.

"Jika virus ini bisa dengan mudah ada menjadi aerosol, kita akan melihat tingkat penularan yang jauh lebih besar," lanjutnya.

"Dan kita akan melihat pola berbeda mengenai siapa saja yang terinfeksi. Dengan penyebaran melalui droplets, infeksi terjadi jika ada kontak yang dekat (dengan orang terinfeksi). Tetapi jika virus bisa dengan mudah menjadi aerosol, Anda bisa terinfeksi dari orang yang berbagi lift dengan Anda. Namun, ada lebih banyak bukti bahwa virus Corona sebagian besar menyebar melalui tetesan/droplets dan bukan sebagai aerosol," ujarnya.

Sementara itu, penelitian juga masih berlangsung apakah virus Corona merupakan virus airborne. Airborne adalah sifat dari sebuah partikel apakah partikel itu (termasuk virus) dapat disalurkan atau diangkut oleh partikel udara.

Transmisi melalui udara berbeda dari transmisi droplets karena mengacu pada keberadaan mikroba dalam inti droplets, yang dihasilkan dari penguapan droplets atau liur yang lebih besar. Mikroba atau virus mungkin tetap di udara untuk jangka waktu yang lama dan dapat ditransmisikan ke orang lain pada jarak lebih dari 1 meter.

Menurut WHO, dalam konteks COVID-19, penularan melalui udara dapat dimungkinkan dalam keadaan dan pengaturan khusus di mana prosedur yang menghasilkan aerosol dilakukan, misalnya ventilasi manual sebelum intubasi, membawa pasien ke posisi tengkurap, suction (menyedot dahak), atau melepas ventilator dari seorang pasien. Manurut laporan WHO, dalam analisis dari 75.465 COVID-19 kasus di China, tidak ada laporan mengenai penularan virus Corona melalui udara.
 
Penelitian tentang Sars-CoV-2 masih berlangsung, dan semua penelitian sampai sekarang masih terus dilanjutkan untuk mengetahui lebih jauh cara-cara transmisi virus Corona. Sementara itu, mencuci tangan dan mempraktikkan jarak fisik dipandang efektif dalam mengurangi penyebaran virus Corona yang menyebabkan Covid-19.



3. Bertahan di udara
Sebuah penelitian menyebut bahwa virus corona bisa bertahan lama di atas benda-benda tertentu selama beberapa jam bahkan sampai berhari-hari.

Pengertian bisa bertahan di udara sendiri adalah partikel virus tersebut bisa melayang di udara dan terbang ke berbagai tempat saat tertiup angin. Hanya saja partikel ini harus lebih ringan daripada massa jenis udara sehingga bisa tertahan di udara.

Namun WHO juga menyatakan bahwa virus corona memiliki partikel yang terlalu berat untuk bisa terbawa di udara. Setelah keluar dari tubuh manusia melalui droplet, partikel virus corona akan langsung jatuh ke lantai atau permukaan benda. (fdi/chs)