Di berbagai negara dengan kasus positif Covid-19, demi menekan laju penyebaran virus, warga mulai mengambil keputusan mengisolasi diri untuk sementara. Tentu saja anak-anak termasuk di dalamnya. Anak, mengikuti keputusan yang diambil para orang tua.
Tentu saja rasa tertekan atau juga stres karena harus tetap tinggal di rumah, boleh jadi juga dialami anak. Namun sayangnya, kebanyakan orang dewasa belum memperhatikan soal ini. sekalipun tanda-tanda mulai jelas terlihat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara pada remaja atau anak dengan usia yang lebih besar, stres bisa dilihat dari perubahan fisiologis. Beberapa pertanda misalnya tak bersemangat, nafsu makannya berkurang atau pola tidurnya terganggu.
Tetapi stres pada anak kadang juga bisa mengakibatkan sakit kepala atau sakit perut. Bahkan, bisa sampai ke perubahan cara berpikir misalnya jadi pelupa atau menjadi tidak perhatian dan kurang waspada.
Namun begitu di sisi lain, dalam situasi isolasi mandiri ini, remaja akan lebih khawatir dengan kehidupan sosial mereka ketimbang kesehatan atau masa depan.
Raviv juga menyarankan orang tua untuk memantau dan mencatat setiap peningkatan gejala.
Kendati begitu ia merasa agak lega, sebab menurutnya saat ini sebagian anak muda mulai cakap menghadapi trauma dan mengelolanya. Tapi memang untuk anak kecil belum mampu melakukannya. Itu sebab, orang tua harus dan perlu memantau setiap saat serta peka terhadap perkembangan kesehatan mental anak.
[Gambas:Video CNN]
(nma)