"Kita sedang berada di tepi jurang pandemi kelaparan," kata Beasley dalam video conference dengan Dewan Keamanan PBB, Selasa (21/4), seperti dilansir dari AFP.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
WFP menyebut penambahan jumlah orang dengan rawan pangan lebih disebabkan oleh dampak ekonomi dari virus corona. Tahun ini, WFP memproyeksikan ada 265 juta orang mengalami kerawanan pangan, atau meningkat dua kali lipat dari 135 juta orang pada 2019 lalu.
"Dengan Covid-19, saya ingin menekankan bahwa kita tak hanya menghadapi pandemi kesehatan global, tetapi juga krisis kemanusiaan globat," kata Beasley.
"Jutaan warga sipil yang tinggal di negara konflik, termasuk banyak anak-anak dan wanita, semakin dihadapkan pada risiko kelaparan," ujarnya lagi.
Lihat juga:Afrika Terancam Kelaparan Akibat Wabah Ulat |
"Dan faktanya, 10 dari negara-negara itu, masing-masing sudah memiliki lebih dari satu juta orang di ambang kelaparan," ujar dia.
Laporan Pangan WFP juga menemukan ada 183 juta orang lain yang bisa tergelincir mengalami krisis pangan jika mereka menghadapi sebuah tekanan.
Covid-19 bisa menjadi faktor penekan itu karena banyak orang dirawat di rumah sakit dan pemberlakuan lockdown yang membuat orang tidak bisa bekerja secara normal.
Lihat juga:Waspada 10 Ancaman Kesehatan Global |
"Kita harus bertindak secara kolektif, sekarang, untuk membatasi dampak dari bencana global ini," ujarnya menambahkan. (afp/wis)