Dugderan berupa acara pentas beduk dan penyulutan kembang api serta petasan sehari sebelum dimulainya bulan puasa.
Sebagai pengganti, Pemerintah Kota Semarang hanya menggelar prosesi sederhana, dimana Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi berperan sebagai Bupati Semarang Raden Mas Tumenggung Aryo Purbaningrat datang ke Masjid Agung Kauman Semarang untuk melakukan pertemuan dengan sesepuh ulama dan tokoh masyarakat untuk menentukan awal Ramadhan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, Ketua Masjid Agung Kauman Semarang KH. Hanief Ismail memberikan apresiasi kepada Pemkot Semarang yang tidak menghilangkan tradisi Dugderan di tengah pandemi virus corona.
"Kami memberikan apresiasi kepada Pemkot Semarang yang tetap melangsungkan tradisi Dugderan dengan sederhana. Prosesi adatnya tetap dijaga, yang dihilangkan hanya keramaiannya saja. Kami memahami kondisi saat ini. Yang penting, makna Dugderan sebagai awal Ramadhan oleh umat Muslim tetap terjaga," ujar Hanief.
Tradisi Dugderan telah diadakan sejak tahun 1882 pada masa Kebupatian Semarang, di bawah kepemimpinan Bupati R.M. Tumenggung Ario Purbaningrat.
Kata 'dug' berasal dari bunyi beduk, sementara 'deran' dari suara petasan yang terdengar selama acara ini berlangsung.
Perayaan yang telah dimulai sejak zaman kolonial ini dahulu dipusatkan di kawasan Masjid Agung Kauman Semarang, yang berada di pusat kota lama Semarang dekat Pasar Johar.
Dalam prosesi Dugderan juga biasanya muncul replika Warak Ngendok, yakni hewan mitologi bertubuh menyerupai unta, berkaki seperti kambing dan kepala menyerupai naga.
Warak Ngendok. (CNNIndonesia.com/Damar Sinuko) |
Bentuk hewan mitologi ini menggambarkan akulturasi budaya di Semarang, yang terdiri atas budaya Jawa, China dan Arab.
Namun demi membatasi penularan virus corona, arak-arakan Warak Ngendok tak nampak, termasuk juga pembagian Kue Ganjel Rel yang diperebutkan warga di depan Masjid Agung Kauman Semarang karena dipercaya membawa berkah.
(dam/ard)
Warak Ngendok. (CNNIndonesia.com/Damar Sinuko)