Kisah Nabi

Kisah Nabi Ibrahim dan Pertanyaan Masa Kecil tentang Tuhan

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 29/04/2020 17:00 WIB
ILUSTRASI KISAH NABI - NABI IBRAHIM Ilustrasi: Selain kemurahan hati, teladan yang bisa diambil dari Nabi Ibrahim adalah kegigihan hati. Ia juga berani memperjuangkan apa yang ia yakini. (Foto: Diolah dari Istock)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nama Nabi Ibrahim kerap seliweran apalagi ketika perayaan Idul Adha. Kisahnya bersama sang anak, Ismail menjadi awal mula ibadah kurban dalam perayaan tersebut. Pengorbanan keduanya demi mendapatkan ketaqwaan dan wujud kecintaan kepada Allah lantas dijadikan teladan umat Islam.

Tapi jauh sebelum itu, sebelum diangkat menjadi Nabi Allah, Ibrahim melalui proses dan perjalanannya mencari Tuhan.

Dikutip dari buku "The Prophet, Kisah Hikmah 25 Nabi Allah", Nabi Ibrahim lahir di Kota Ur, wilayah Mesopotamia yang kini dikenal sebagai negara Iraq pada sekitar 2000 sebelum masehi.


Ibrahim lahir saat negeri Babilon--sekarang Iraq--diperintah oleh Raja Namrud bin Kan'an. Pada masa kepemimpinan Namrud, karena sebuah mimpi ia pernah membuat kebijakan untuk membunuh semua bayi laki-laki. Karena itu orang tua Ibrahim sempat menyembunyikannya ke gua.

Ayah Ibrahim, Azar bin Tahur bekerja sebagai pembuat berhala pada masa itu. Ia sering diminta untuk membantu menjual patung-patung tersebut. Di tengah itulah, terbesit pelbagai tanya mengenai keberadaan patung-patung itu.


Di negeri yang ditinggali Ibrahim, sebagian penduduknya menyembah berhala, sebagian lagi menyembah matahari, juga bulan dan bintang. Sebagian orang saat itu meyakini adanya banyak Tuhan yang diwujudkan dengan patung-patung berhala.

Melihat itu, pertanyaan mengenai Sang Pencipta pun muncul dalam benak Ibrahim kecil. Waktu itu usianya masih tujuh.

"Ayah, siapakah yang menciptakan manusia?" tanya Ibrahim yang sesaat setelah menghampiri sang ayah.

"Yang menciptakan manusia adalah manusia, karena aku yang membuatmu dan ayahku yang membuatku," jawab ayahnya.

"Tapi ayah, bukan itu yang aku maksudkan, karena aku pernah mendengar seorang kakek menangis sambil berkata: Oh Tuhanku, mengapa Engkau tidak memberikan seorang putra kepadaku?" tanya Ibrahim lagi.

"Itu benar anakku, bahwa Tuhan membantu manusia untuk membuat manusia. Tapi Dia tidak melibatkan diri-Nya dalam proses pembuatan manusia. Yang diperlukan hanyalah seorang manusia yang bermohon kepada Tuhannya," kata sang ayah.

"Ada berapa banyak Tuhan, Ayah?" Ibrahim masih belum puas.

"Tuhan-Tuhan itu tak terhitung jumlahnya, anakku," kata ayahnya menjawab.

Umat Muslim berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa Allah SWT. CNN Indonesia/Adhi Wicaksono.Foto: Adhi Wicaksono
Umat Muslim berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa Allah SWT. CNN Indonesia/Adhi Wicaksono.


"Oh ayah, apa yang harus aku lakukan jika aku akan mengabdi pada satu Tuhan sedangkan Tuhan lain akan membenciku karena aku tak mengabdi padanya? ... Apa yang harus aku lakukan?" tanya Ibrahim lagi dikutip dari buku "The Prophets" karya Dian Novianti.

Demikianlah Ibrahim kecil bertanya dan terus bertanya. Ia juga menanyakan soal, apakah Tuhan itu bernapas. Dan kalaupun Tuhan tak bernapas, bagaimana memberikan napas kepada manusia. Sang ayah gusar.

"Oh ayah, seperti apa sih tuhan-tuhan itu?"

"Ini adalah tuhan yang aku buat dari kayu palma, sedangkan yang itu dari kayu ivory, yang di sana terbuat dari kayu zaitun. Bagus bukan tuhan yang ayah buat, hanya saja mereka tidak bernapas," kata sang ayah.

"Jika mereka tidak hidup, bagaimana mereka bisa memberi kehidupan pada manusia?" balas Ibrahim lagi.

"Ayah, jika Tuhan itu terbuat dari kayu, kenapa ayah menebangi pohon? Berarti ayah sudah menebang Tuhan. Bagaimana cara tuhan kayu itu membantu manusia untuk menciptakan manusia lainnya? Siapakah tuhan yang pertama ada? Bagaimana ia ada?" Ibrahim masih bertanya sambil menunjuk ke patung berhala buatan ayahnya.


Dalam sebuah ayat Al-Quran, diterangkan Ibrahim tumbuh menjadi anak yang memiliki kecakapan akhlak dan kecerdasan.

Allah SWT berfirman, "Dan seseungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelumnya, dan kami mengetahui (keadaan)nya." (QS. Al-Anbiya [21]:51)

Ibrahim merenung dan terus mencari tahu siapakah Tuhan yang patut ia sembah. Ketika hari jadi gelap, ia melihat bulan dan bintang, dipandanginya begitu lama.

"Apakah benar ini Tuhan yang sesungguhnya yang juga disembah banyak orang?"

Saat ia mulai yakin dan merasa menemukan Tuhan, tapi begitu pagi datang bintang-bintang tersebut menghilang. Sehingga Ibrahim kembali meragukannya. Lantas saat melihat matahari terbit, ia berkata lagi, "Inilah Rabbku, ini yang lebih besar".

bintang kejora, venus, jupiter langit malamIlustrasi. (Foto: Screenshot via web Nasa.gov)


Namun ketika matahari terbenam, Ibrahim kembali menyangsikan keyakinannya tersebut. Ia lantas berpikir, apa yang selama ini diyakini sebagian penduduk Babilon adalah keliru. Ia lantas meminta untuk ditunjukkan kekuasaan Tuhan agar keimanannya semakin mantap.

Pertanyaan itu digambarkan dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 260.

"Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati. Allah berfirman, 'Belum yakinkah kamu?' Ibrahim menjawab, 'Aku telah menyakini itu, akan tetapi ini agar hatiku tetap mantap (dengan imanku).' Allah berfirman, '(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung lalu sembelihlah semuanya olehmu. Lalu letakkan di atas setiao satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera'. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."

Nabi Ibrahim mengikuti perintah itu. Dan benar, setelah mendengar panggilan Ibrahim, atas kehendak Allah diceritakan bahwa empat burung itu menghampiri Ibrahim dalam keadaan utuh seperti sedia kala. Burung-burung yang telah hidup kembali itu lalu hinggap ke depan Ibrahim.

Keringat mengucur setelah Ibrahim menyaksikan semua itu sendiri, di depan mata-kepalanya. Nabi Ibrahim lantas bersujud. Sejak saat itu, ia merasa harus menyampaikannya kepada orang tua dan seluruh pendduduk Babilon.

Tapi jalan Ibrahim tak mudah. Pertama kali, ia menyampaikan keyakinannya itu pada sang ayah, Azzar. Tapi ayahnya menolaknya. Ayahnya marah besar, tapi Nabi Ibrahim dengan tenang menerima kemarahan itu. Dengan kesedihan mendalam, Nabi Ibrahim meninggalkan rumah seraya tetap mendoakan keselamatan sang ayah.

Lambang Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW yang berada di salah satu kios milik masjid, Senin (29/5). Pendanaan masjid biasanya didapatkan dari sumbangan umat muslim yang datang dan beribadah di masjid tersebut. ANTARA FOTO/Rosa Panggabean/17.Ilustrasi (Foto: ANTARA FOTO/Rosa Panggabean
Lambang Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW yang berada di salah satu kios milik masjid, Senin (29/5). Pendanaan masjid biasanya didapatkan dari sumbangan umat muslim yang datang dan beribadah di masjid tersebut. ANTARA FOTO/Rosa Panggabean/17.)


Allah SWT pun berfirman, "Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya, Dia sangat baik kepadaku. Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku". (QS. Maryam [19]: 47-48)

Dari Nabi Ibrahim orang bisa belajar tentang keteguhan hati dan pendirian. Selain itu Ibrahim juga mengajarkan manusia untuk berani memperjuangkan apa yang sudah menjadi prinsip hidup juga keyakinan--dalam hal ini ajaran agama.

Kisah Ibrahim mengingatkan manusia untuk terus berpikir kritis, mendasarkan laku dan sikap pada argumentasi yang kokoh. Dari pelbagai pertanyaan dan proses pencarian Tuhan semasa hidup, Ibrahim tahu bahwa pengetahuan luas diperlukan agar tidak tersesat dan lekas menyadari kekeliruan. (NMA/NMA)

[Gambas:Video CNN]