Petuah Nabi Muhammad Soal Perayaan Idulfitri

CNN Indonesia | Minggu, 24/05/2020 10:33 WIB
Petuah Nabi Muhammad Soal Perayaan Idulfitri ilustrasi: Setiap bangsa memiliki cara sendiri dalam merayakan hari besar, jadi biarkan mereka melakukan kebiasaannya." (iStockphoto/ferlistockphoto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Umat Muslim hari ini merayakan Hari Lebaran. Tahun ini tak ada perayaan ramai seperti tahun lalu karena pandemi virus corona.

Tak ada mudik, silaturahmi lokal yang biasa dilakukan masyarakat. Pemerintah mengimbau untuk melakukan salat Id di di rumah dan tidak melakukan silaturahmi berkeliling.

Namun bagaimana pun perayaannya, Idulfitri tetaplah hari Kemenangan melawan hawa nafsu.


Selayaknya sebuah ritual, dari zaman batu sampai sekarang. Memiliki kesyahduan, kekhidmatan, keritmisan, dan kemeriahan. Semuanya menyatu. Antara ucapan syukur dan doa keselamatan.

Menu istimewa yang sudah disiapkan jauh-jauh hari akan keluar pada pagi hari. Sebelum pergi ke tempat salat Id, biasanya memakan kue-kue kecil. Memakan kue merupakan pertanda pembatalan puasa, karena memang pada hari itu diharamkan berpuasa.



Mengutip Alif.id, setelah salat Id, menu utama disajikan. Setiap daerah memiliki menu istimewa masing-masing. Menu tersebut adalah persilangan tradisi yang panjang, juga hasil interaksi antara manusia dan lingkungannya.

Namun opor ayam dan ketupat tak akan terlupa. Dua perpaduan yang tidak hanya disajikan sebagai makanan, tetapi juga penuh dengan simbol-simbol.

Ayam, atau Hayam, adalah simbol dari leluhur. Hewan ini juga menjadi penanda terbitnya Matahari. Satu isyarat bahwa dalam menu opor ayam kita tidak hanya harus ingat dengan jatidiri tetapi juga siap menyongsong hari-hari ke depan yang cerah dan jaya.

Sedangkan ketupat yang berbahan pelepah kelapa merupakan tradisi semua bangsa dan agama. Agama samawi (Yahudi, Kristen, Islam) atau agama yang dasarnya adalah wahyu sangat menghormati famili dari pohon ini, yakni kurma. Dalam banyak ritus keagamaannya tidak jarang kurma ada di dalamnya.

Dalam konteks Jawa, menu opor ayam dan ketupat adalah bentuk akulturasi budaya yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga.

Sebelumnya, setiap ada perayaan maupun persembahan dalam tradisi, ayam adalah hewan yang dikorbankan untuk berbagai acara. Baik untuk menentukan penyakit, hari baik-buruk untuk pertanian, maupun keperluan-keperluan lainnya. Biasanya, ayam yang telah disembelih dibiarkan di tempat acara, sebagai santapan binatang lain atau jasad renik, sampai secara alamiah habis dan tersisa tulang belulang.

Sunan Kalijaga mengolah ayam menjadi makanan, yang setelah matang bukan dipersembahkan pada leluhur yang sudah meninggal tetapi disantap oleh manusia yang hidup.


Tidak jarang juga, opor ayam diberikan pada para tetangga, tokoh masyarakat, maupun teman, sebagai sharing poverty.

Dengan demikian, menu opor ayam dan Ketupat, tidak saja menjadi sajian untuk menghormati dan merayakan Hari Agung, tetapi juga bentuk syukur atau persembahan pada Allah sebagai ekspresi senang telah mengontrol hawa nafsu selama satu bulan.

Di beda negara, tradisi Idulfitri pun berbeda-beda. Di Turki misalnya perayaan ini disebut dengan 'Bayram'. Inti acara Bayram adalah para orang tua menyambut kedatangan anak muda, kemudian memberikan permen atau hadiah kecil lainnya. Sedangkan di India, suasana Idul Fitri di India layaknya di tempat lain, berkumpul dengan keluarga dan berderma adalah inti di hari yang fitri ini. 

Nabi Muhammad SAW juga melakukan perayaan Idulfitri dengan caranya. Nabi membiarkan pembantunya merayakan Hari nan Suci ini dengan tetabuhan dan tarian tradisional. Sebagian sahabatnya protes pada Nabi, kenapa di rumah Nabi ada hal-hal yang demikian.

Nabi pun menjawab, "Setiap bangsa memiliki cara sendiri dalam merayakan hari besar, jadi biarkan mereka melakukan kebiasaannya."


Artikel ini merupakan kerjasama CNNIndonesia.com dengan Alif.id dan ditulis oleh Mohammad Fathi Royyani  (chs)

[Gambas:Video CNN]