Pandemi virus corona (Covid-19) memaksa jutaan muslim di dunia untuk tidak melaksanakan salat hari raya secara berjemaah di lapangan dan masjid. Termasuk di Kota Batam, yang menjadi zona merah Covid-19.
Keluarga Jilan salah satu di antara sekian banyak keluarga muslim lain yang melaksanakan Salat Id di rumah sendiri. Ini jadi hal baru. Bila sebelumnya mereka menjadi makmum, kini setiap keluarga bertanggung jawab atas terlaksananya Salat Id di rumah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salat Id akan dimulai di kediaman Ramon. Jazzy Rayshad Nadim, adik Jilan, sambil menahan senyum melantunkan adzan, mengajak makmum mendirikan salat. Jazzy tampak malu-malu menjalankan tugasnya sebagai bilal.
Jilan, sang imam muda pun berdiri. Membenarkan letak peci dan celana. Menengok ke belakang, memastikan saf yang didirikan ayah, ibu, bibi dan adiknya rapat sesuai sunat.
"Allahuakbar...!" Salat dimulai.
Warga di Ciracas, Jakarta Timur, melaksanakan Salat Id di rumah, Minggu (24/5), mengikuti imbauan pemerintah di masa pandemi virus corona. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma) |
Ramon punya alasan lain menunjuk anaknya menjadi imam Salat Id di keluarga kecilnya.
Bagi Ramon, untuk menjadi imam tidak perlu yang lebih tua. Meski anaknya baru menginjak remaja, tapi ia menilai sang bujang mampu, dengan bekal ilmu yang didapat dari pesantren.
Ramon pun mengambil bagian. Ia menjadi khatib Salat Id, sesuai dengan kesepakatan keluarga. Ramon dan istri memutuskan untuk menyiarkan secara langsung pelaksanaan Salat Id di kediamannya di media sosial.
"Ini pengalaman baru bagi keluarga kami. Luar biasa, semuanya sempat deg-degan, termasuk ibunya. Manalah tahu salah-salah. Berdebar-debar rasanya," kata dia.
Beberapa hari sebelum Lebaran, ia sengaja menyempatkan waktu mempelajari tata cara Shalat Id bersama keluarga. Mendengarkan ceramah sejumlah ustaz dan membaca semua referensi yang tersedia, baru kemudian memutuskan, bagaimana melaksanakan ibadah istimewa itu.
"Kita latihan, sambil cari tahu di Google. Selama ini sudah tahu juga, tapi terbatas. Selama ini melihat dari jauh bagaimana persiapannya, " kata dia yang pernah menjabat Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia Provinsi Kepulauan Riau.
Pandemi corona membuat sebagian muslim melaksanakan Salat Id di rumah, Minggu (24/5). (CNN Indonesia/Bisma Septalisma) |
Maklum, dua anaknya perempuan sehingga tak bisa memimpin salat untuk laki-laki. Sedang si bungsu, baru berusia 2 tahun, tidak mungkin berbagi peran dalam menjalankan ibadah bersama.
Beberapa hari menjelang Lebaran, Andi sibuk dengan gawai, mencari acuan tata cara melaksanakan Salat Id yang baik. Ia pun berdiskusi dengan sejumlah ustaz, kenalannya.
"Siap, siaplah. Harus siap," katanya sambil mengangguk-angguk.
Takbir kemenangan dilantunkan sayup-sayup, tak seperti suara takbir yang biasa dikumandangkan di lapangan dan masjid di masa normal yang bergema dan bergemuruh.
Meski sayup, tidak menurunkan kekhidmatan ibadah di rumah keluarga muda itu. Suasananya syahdu. Penuh keharuan.
Bagi Ramon, Andi, dan keluarga muslim lain, ini adalah pengalaman pertama mendirikan Salat Id sendiri yang akan tidak akan terlupakan.
Setidaknya, virus corona tak selalu memberikan kesempitan. Masa pandemi juga mendorong manusia untuk terus belajar, bergerak, menyesuaikan diri.
(antara/wis)
Warga di Ciracas, Jakarta Timur, melaksanakan Salat Id di rumah, Minggu (24/5), mengikuti imbauan pemerintah di masa pandemi virus corona. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Pandemi corona membuat sebagian muslim melaksanakan Salat Id di rumah, Minggu (24/5). (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)