Melansir CNN, asimtomatik atau tanpa gejala merupakan transmisi virus dari orang yang tidak memiliki gejala dan tidak akan pernah mengalami gejala meski telah terinfeksi. Namun, si pembawa virus (carrier) tanpa gejala ini tetap bisa menulari orang lain.
Sementara presimtomatik merupakan transmisi virus dari manusia yang tidak terlihat sakit, tapi mengalami gejala secara perlahan beberapa waktu kemudian. Tanpa disadari, orang ini juga bisa menulari orang lain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, pernyataan seorang pejabat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) soal penularan asimtomatik sempat bikin gaduh. Kepala Teknis Tanggap Corona WHO, Maria Van Kerkhove mengatakan bahwa penularan asimtomatik jarang terjadi.
Namun kemudian, pernyataan itu dianulir dan ditegaskan bahwa penularan virus SARS-CoV-2 dari orang tanpa gejala tetap perlu diwaspadai.
Pakar penyakit menular Amerika Serikat, Anthony Fauci mengatakan bahwa Covid-19 sangat mungkin ditularkan secara asimtomatik. Data menunjukkan, sebanyak 25-45 persen orang yang terinfeksi cenderung tidak menunjukkan gejala.
"Dan kita tahu dari studi epidemiologi mereka bisa menulari orang lain meski mereka tidak punya gejala," kata Fauci.
"Namun, studi-studi tersebut telah menemukan bahwa penularan pausicimtomatik [orang terinfeksi dengan gejala sangat ringan] dapat terjadi. Selain itu, ada pula studi yang menemukan bahwa penularan sering terjadi sebelum gejala muncul," kata Javid.
CDC mengestimasikan 40 persen transmisi virus corona terjadi sebelum orang mengalami gejala. Dalam satu studi, sekitar 4 dari 5 orang positif Covid-19 mendapatkan paparan virus dari orang yang tak memperlihatkan gejala.
Dengan adanya kemungkinan asimtomatik dan presimtomatik ini, Anda disarankan untuk menjaga protokol kesehatan yang telah ada. Menjaga jarak fisik, menggunakan masker, dan rajin mencuci tangan dapat menjadi langkah-langkah dasar yang bisa Anda lakukan untuk membantu menekan penyebaran Covid-19. (els/asr)