Rekomendasi Ahli soal Renang di Kolam Publik saat Pandemi

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 08/07/2020 11:30 WIB
Ilustrasi Berenang Ilustrasi: Klorin dan bromin memang dua zat kimia yang ampuh mendegradasi virus, bakteri atau mikroorganisme lain di kolam renang. Kendati, tetap ada risiko lain. (Foto: lyingmonkey/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sekretaris Jenderal Akademi Ilmuwan Muda Indonesia, Berry Juliandi membenarkan klorin dan bromin merupakan dua zat kimia yang bisa menonaktifkan virus corona di air. Kedua zat kimia tersebut direkomendasikan bagi pengelola yang hendak mulai membuka fasilitas kolam renang publik.

Berry yang juga akademisi di Institut Pertanian Bogor ini menjelaskan, kandungan kimia dalam klorin dan bromin memang bisa menghancurkan mikroorganisme.

"Klorin dan bromin itu kan zat kimia yang bisa mendegradasi--salah satunya--protein, lipid. Jadi kalau ada di air, lalu di situ ada virus, maka itu akan bisa terurai virusnya. Virus apapun. Bahkan misalnya ada bakteri atau mikroba lain," terang Berry kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon.


"Itu kan memang zat kimia yang sangat kuat. Jadi memang betul bisa menghancurkan. Secara konsep dan saintifik memang betul pernyataan itu, pernyataan bahwa tidak ada masalah virusnya ketika di kolam renang, itu tidak ada masalah," sambung dia lagi.

Sebelumnya, pemerintah mulai membuka kolam renang dengan syarat di antaranya wajib memenuhi protokol kesehatan dan membatasi jumlah pengunjung.

Anggota Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Reisa Broto Asmoro mengatakan, pemilik usaha atau fasilitas harus memastikan air kolam renang menggunakan desinfektan dengan klorin 1-10 ppm atau bromin 3-8 ppm sehingga pH air mencapai 7,2-8.

Laporan New York Times mengutip para ahli menjelaskan bahwa klorin dan bromin di kolam akan mampu menonaktifkan virus. Seorang ahli virologi dari Colombia University Mallman School of Public Health Angela Rasmussen mengatakan, risiko penularan di dalam air itu sangat kecil.

"Secara teoritis akan terjadi infeksi virus corona di dalam kolam renang, tapi itu sangat kecil, hampir mendekati nol" kata Angela Rasmussen.

Para ahli justru mengkhawatirkan risiko penularan bukan ketika di dalam kolam renang, melainkan saat di luar air atau aktivitas di areal kolam. Senada diungkapkan ilmuwan asal Indonesia Berry Juliandi.

"Yang terlupakan--dan ini yang masyarakat sering tidak waspada--itu kan bukan saat berenangnya saja, tapi ketika berenang itu kan [kadang] kepalanya kerap muncul di permukaan. Lalu ketika di kolam renang, berdekatan dengan orang itu kan tetap saja kalau ada yang kena virus itu maka droplet atau virusnya itu ... kan tetap saja bisa menular," Berry menjelaskan.

Infografis Yang Harus Ada di Tas untuk Mencegah CoronaFoto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi
Infografis Yang Harus Ada di Tas untuk Mencegah Corona

Sekalipun virus sudah dipastikan tak aktif ketika air kolam renang menggunakan klorin dan bromin, namun tetap ada risiko penularan ketika kegiatan di ruang publik itu melibatkan banyak orang.

Karena itu Akademi Ilmuwan Muda Indonesia pun merekomendasikan agar kolam renang publik tak dibuka dulu untuk sementara, lantaran tingginya risiko penularan virus corona. Lagipula kata Berry, renang bukan merupakan kebutuhan utama masyarakat.

"Kami sih pikir tidak ada urgensi untuk dibuka kolam renang untuk publik. Kecuali kolam renang, misalnya untuk di keluarga sendiri atau di rumah sendiri," tutur dia.

(NMA/NMA)

[Gambas:Video CNN]