HARI BATIK NASIONAL

Cerita di Balik Kain, Jalan Lain Melestarikan Batik

Tim | CNN Indonesia
Jumat, 02 Okt 2020 14:39 WIB
Jalan melestarikan batik tak melulu soal pemakaian kain sebagai busana sehari-hari atau momen khusus, tapi juga bagaimana narasi di balik kain ini mengemuka. Ilustrasi: Jalan melestarikan batik tak melulu soal pemakaian kain sebagai busana sehari-hari atau momen khusus, tapi juga bagaimana narasi di balik kain ini mengemuka. (Foto: Dok. Kemenpar)
Jakarta, CNN Indonesia --

Tiap motif ataupun warna batik punya makna dan cerita. Narasi-narasi di balik kain batik sesungguhnya bisa jadi strategi untuk melanggengkan salah satu warisan budaya Indonesia ini.

Cerita batik Semarang misalnya. Zalzilah, pemilik usaha Zie Batik menuturkan, batik Semarang dulunya tak sepopuler sekarang.

Bahkan pada 2006 silam batik Semarang disebut-sebut mati suri. Keprihatinan akan kondisi ini melahirkan inisiatif pelatihan membatik untuk ibu-ibu. Zalzilah menggandeng Pemkot Semarang.


Tak mulus, usaha untuk menghidupkan kembali batik rupanya musykil dilakukan di kawasan perkotaan. Alhasil, Kampung Malon yang terletak di dekat perbatasan Kabupaten Kendal pun dilirik.

Apalagi kawasan itu masih tergolong hijau. Mengembangkan batik di Kampung Malon artinya juga bisa mengerek perekonomian warga.

"Kami angkat kampung dengan batik pewarna alam dan pertanian pewarna alam. Petani saya coba kenalkan untuk terlibat termasuk tanam indigo lalu cara memprosesnya. Jadi bapaknya nanam, ibunya membatik," cerita Zazilah sumringah saat webinar bersama Google, Kamis (1/10).

Perlahan, batik pewarna alam pun mampu mengangkat kampung, hingga dinobatkan jadi kampung tematik Semarang pada 2017.

Pemanfaatan bahan alam seperti serbuk kayu, secang, kulit mahoni memberikan identitas pada batik di sana. Keuntungan lain, pada akhirnya tidak perlu repot pula berurusan dengan pencemaran lingkungan.

Infografis mengenai proses pembuatan dan jenis-jenis batik.Foto: Astari Kusumawardhani
Infografis mengenai proses pembuatan dan jenis-jenis batik.

Jadi, narasi-narasi seperti itulah yang diharapkan melekat pada batik. Sehingga upaya pelestarian batik tidak melulu bertumpu pada pemakaian kain sebagai busana sehari-hari atau kesempatan khusus.

Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hilmar Farid menekankan, pekerjaan rumah yang cukup besar dari pelestarian batik adalah mengangkat narasi batik secara menyeluruh. Setiap corak dengan teknik yang khas mesti terangkat, utuh dan, mampu bercerita.

"Jadi orang merasa efek (atau motif) dari teknik hanya didapat dari teknik itu. Misal nitik, yah tidak bisa dicapai dengan teknik lain," imbuh Hilmar dalam kesempatan serupa.

Narasi sekaligus makna juga harus melekat pada produk. Menurut dia, narasi inilah yang bakal membuat batik lestari. Terlebih jika kini sudah hadir tekstil dengan teknik printing yang menampilkan kain motif batik tanpa melalui proses membatik.

Sebagian dari Anda misalnya, barangkali juga tidak akan menyangka bahwa batik Sawunggaling diciptakan oleh Go Tik Swan. Ia adalah budayawan sekaligus sastrawan berdarah Tionghoa.

Hardjosoewarno, anak angkat Go, dan sang istri, Supiyah Anggriyani bercerita bahwa sang ayah menciptakan Sawunggaling yang terinspirasi dari sabung ayam di Bali.

"Orang Bali kan kalau mau tanam padi itu ada sabung ayam, terus darah menetes itu buat sesaji harapannya bumi subur, hasil panen berlimpah, supaya tidak ada hama. Ini sekitar 1950-an dan jadi masterpiece," tutur Supiyah.

Ceita lain, batik juga bisa menjadi wadah akulturasi budaya nusantara dengan budaya mancanegara.

Rudi Siswanto, pengusaha batik 'Kidang Mas Lasem' mengungkapkan, batik lasem jadi perkawinan budaya Tionghoa, Belanda dan Nusantara. Perpaduan ini tampak dari warna kain. Ada tiga warna dalam selembar kain yakni, merah yang mewakili budaya Tionghoa, biru mewakili Belanda dan, coklat dari pewarna soga mewakili Nusantara.

"Budaya Tionghoa bawa motif naga, burung hong, lili, kijang, bambu. Lasem ada flora misal latohan, blarakan, lintangan, lalu saat dikombinasikan jadilah pola batik Laseman," imbuh Rudi.

Sementara itu, Hilmar mengatakan, tiap motif juga menyimpan pesan sekaligus makna. Ini pun bisa dikembangkan.

Busana batik dengan motif tertentu bisa jadi simbol pesan tanpa harus berkomunikasi secara verbal.

Pendekatan ke kalangan muda dengan metode kekinian semisal menyuntikkan batik ke barang-barang yang digunakan sehari-hari. Bahkan, untuk kalangan anak-anak, batik bisa masuk ke produk audio visual semisal game.

"Tapi jangan cuma jadi dekorasi, ada juga nilai. Kalau bicara potensi, Indonesia punya kekayaan intelektual besar dan kita baru menguasai sebagian kecil darinya. Kalau dikerjakan benar-benar, industri kreatif ita ini pengaruhnya besar sekali," pungkas Hilmar.

(els/NMA)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER