Sejarah Natal hingga Asal-Usul Sinterklas

Tim | CNN Indonesia
Jumat, 25 Dec 2020 13:43 WIB
Saat ini, perayaan Natal identik dengan tukar kado, menghias pohon, dan misa di Gereja. Namun sebenarnya bagaimanakah sejarah Natal hingga munculnya Sinterklas? Saat ini, perayaan Natal identik dengan tukar kado, menghias pohon, dan misa di Gereja. Namun sebenarnya bagaimanakah sejarah Natal hingga munculnya Sinterklas? (Foto: Alexas_Fotos/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia --

Natal yang dirayakan setiap 25 Desember merupakan hari libur keagamaan yang sakral serta fenomena budaya di seluruh dunia.

Dalam sejarah Natal, umat Kristiani merayakan Hari Natal sebagai peringatan kelahiran Yesus dari Nazareth, yang dianggap sebagai pemimpin spiritual yang ajarannya menjadi dasar agama Kristen-Katolik.

Saat ini, perayaan Natal identik dengan bertukar hadiah, menghias pohon Natal, misa di Gereja, berbagi makanan dengan keluarga dan teman sejawat.


Namun bagaimanakah sejarah Natal hingga awal mula kemunculan tokoh Sinterklas yang lekat dengan perayaan Natal?

Illustration of a Odin welcomes heroes into Valhalla ,Norse mythologyFoto: istockphoto/Nastasic
Ilustrasi Dewa Odin dalam mitologi masyarakat Nordik

Hari Natal dimulai sejak berabad-abad lalu sebelum kedatangan pria bernama Yesus. Merujuk History, saat itu masyarakat Eropa awal bersukacita selama titik balik Matahari saat musim dingin berakhir.

Di Skandinava, Norse atau bangsa Nordik merayakan Yule mulai tanggal 21 Desember yang menandakan titik Matahari tersebut saat pergantian musim dingin hingga Januari.

Sebagai pengakuan atas kembalinya Matahari, para ayah dan anak laki-laki akan membawa pulang kayu gelondongan besar yang akan mereka bakar.

Orang-orang akan berpesta sampai batang kayu habis, yang bisa memakan waktu hingga 12 hari. Masyarakat Nordik percaya bahwa setiap percikan api mewakili babi atau anak sapi baru yang akan lahir pada tahun yang akan datang.

Saat itu, kebanyakan sapi disembelih sehingga mereka tidak perlu diberi makan selama musim dingin. Bagi sebagian dari mereka, hal tersebut menjadi momentum mereka menikmati persediaan daging segar dalam setahun.

Mereka juga menikmati anggur dan bir yang telah difermentasi sepanjang tahun sehingga siap untuk diminum.

Di Jerman, orang-orang menghormati Dewa Pagan Odin selama masa liburan pertengahan musim dingin.

Orang Jerman takut terhadap Odin karena mereka percaya bahwa sang dewa menjelajah pada malam hari melalui langit untuk mengamati rakyatnya lalu memutuskan siapa yang akan hidup makmur dan 'sial'.

Hal ini yang membuat sebagian besar orang-orang Jerman lebih memilih untuk tinggal di dalam rumah.


Festival Saturnalia

Beautiful living room with fire place decorated for christmasFoto: Istockphoto/RobertBreitpaul
Ilustrasi Natal. Sejarah Natal di masa Romawi berkaitan dengan festival Saturnalia.

Sementara itu di Roma, musim dingin tidak semenusuk di kawasan utara Eropa. Masyarakat Romawi membuat festival Saturnalia. Pada perayaan ini, semua pekerjaan dan bisnis diliburkan untuk menghormati Dewa Saturnus atau dewa pertanian.

Festival Saturnalia menjadi pertanda musim bercocok tanam dan musim gugur telah berakhir. Dengan demikian petani memberikan penghormatan kepada Dewa Saturnus lewat ritual pengorbanan dengan harapan hasil panen mereka akan lebih berlimpah.

Saat itu, perayaan Saturnalia saat itu dirayakan pada hari Minggu menjelang titik balik Matahari di musim dingin. Tepatnya pada tiap 17 Desember hingga 25 Desember.

Lama pelaksanaan perayaan Saturnalia tidak menentu setiap tahunnya. Kadang-kadang hanya satu hari, tiga hari, lima hari, hingga seminggu penuh.

Festival Saturnalia merupakan perayaan yang paling penting bagi bangsa Romawi. Pada masa awal masuknya agama Kristen di Kekaisaran Romawi, hari terakhir festival Saturnalia itulah ditetapkan sebagai hari kelahiran Yesus.

Penetapan ini dilakukan oleh penguasa Romawi yang telah memeluk agama Kristen. Tujuannya untuk mendorong kaum Pagan yang masih menyembah berhala agar segera memeluk Kristen. 

Selain Saturnalia, masyarakat Roma merayakan Juvenalia untuk menghormati anak-anak Roma. Lalu masyarakat kelas atas sering merayakan hari lahir Mithra atau Dewa Matahari setiap 25 Desember.


Apakah Natal Benar-benar Hari Kelahiran Yesus?

Ilustrasi GerejaFoto: falco/Pixabay
Ilustrasi Gereja

Pada tahun awal Kekristenan, Paskah adalah hari libur utama, namun kelahiran Yesus tidak dirayakan.

Pada abad keempat, bapak gereja memutuskan untuk melembagakan kelahiran Yesus sebagai hari libur. Sayangnya, Alkitab tidak menyebutkan tanggal kelahirannya.

Meskipun beberapa bukti menunjukkan bahwa kelahirannya mungkin terjadi pada musim semi, Paus Julius I memilih tanggal 25 Desember. Pesta kelahiran Yesus ini menyebar sampai ke Mesir tahun 432 dan ke Inggris pada akhir abad keenam.

Dengan mengadakan Natal pada waktu yang sama dengan festival titik balik Matahari di musim dingin, para pemimpin gereja mengukuhkan bahwa Natal akan dirayakan setiap tahunnya pada 25 Desember.


Asal-Usul Sinterklas

Julianna, 3, and Dylan Lasczak, 5, visit with Santa through a transparent barrier at a Bass Pro Shop in Bridgeport, Conn., on Nov. 10, 2020. In this socially distant holiday season, Santa Claus is still coming to towns (and shopping malls) across America but with a few 2020 rules in effect. (AP Photo/Seth Wenig)Foto: AP/Seth Wenig
Ilustrasi Sinterklas. Asal-usul Sinterklas dipercaya merupakan seorang biarawan asal Turki sekitar 280 Masehi

Mayoritas orang tua akan bercerita pada anak-anaknya bahwa Sinterklas berasal dari Kutub Utara sambil menaiki kereta salju terbang saat malam Natal.

Sinterklas umumnya dipersonalisasikan sebagai pria gemuk, periang, berjanggut putih, berkacamata, mengenakan topi dan setelan pakaian hangat berwarna merah dengan kerah bulu putih, dan membawa tas besar berisi hadiah untuk anak-anak, dengan tawa khas 'ho-ho-ho'.

Namun ternyata ada perjalanan sejarah panjang mengenai Sinterklas.

Sinterklas atau Santa Claus merupakan seorang biarawan bernama St. Nicholas yang lahir di Myra, Turki, sekitar 280 Masehi.

St. Nicholas memberikan semua kekayaan warisannya dan melakukan perjalanan ke pedesaan membantu orang miskin dan sakit serta dikenal sebagai pelindung anak-anak dan pelaut.

St. Nicholas pertama kali dikategorikan sebagai budaya populer Amerika Serikat pada akhir abad ke-18 di New York. Keluarga-keluarga Belanda di AS berkumpul untuk menghormati peringatan kematian Sint Nikolaas (bahasa Belanda St. Nicholas) atau disingkat Sinter Klaas.

Sinterklas merupakan ujung tombak awal nama Santa Claus dari bahasa Belanda dan sejarah Natal dari jaman orang-orang awal Eropa sampai bangsa Roma.

(din/fef)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER