Sekolah merupakan bagian penting dalam tumbuh kembang anak, tetapi tidak semua anak selalu merasa nyaman untuk berangkat setiap hari. Ada kalanya anak mendadak menangis, mengeluh sakit perut, sulit bangun pagi, atau terus meminta izin untuk tidak masuk sekolah.
Lantas, jika anak tiba-tiba tidak mau sekolah, orang tua harus apa? Simak penjelasannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai orang tua, situasi seperti ini tentu bisa membuat bingung dan khawatir, apalagi jika anak terus mengulanginya. Namun, jangan buru-buru menganggap anak sedang malas atau hanya ingin bermain di rumah.
Bisa jadi ada rasa takut, cemas, atau masalah tertentu di sekolah yang membuatnya merasa tidak nyaman. Karena itu, penting bagi orang tua untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan cara mengatasinya dengan tepat.
Anak tiba-tiba tidak mau sekolah, orang tua harus apa?
Dikutip dari Child Mind Institute, berikut cara mengatasi anak yang tiba-tiba tidak mau sekolah.
1. Dengarkan alasan anak tanpa langsung menghakimi
Langkah pertama adalah mengajak anak berbicara dengan tenang. Hindari langsung memarahi, mengancam, atau menyebut anak malas.
Tanyakan bagaimana perasaannya di sekolah, seperti apa gurunya, bagaimana tugas atau pekerjaan rumahnya, dan dengan siapa ia biasanya bermain.
Terkadang, anak mengalami masalah yang tidak mudah ia ceritakan, seperti kesulitan mengikuti pelajaran, konflik dengan teman, atau perundungan.
2. Perhatikan tanda-tanda kecemasan
Penolakan sekolah tidak selalu ditunjukkan dengan mengatakan, "Aku tidak mau sekolah". Anak juga dapat mengalami keluhan fisik seperti sakit kepala, sakit perut, mual, atau merasa lemas terutama menjelang waktu sekolah.
Keluhan tersebut tetap perlu diperhatikan secara serius. Sebaiknya orang tua memastikan terlebih dahulu bahwa tidak ada masalah kesehatan dengan berkonsultasi kepada dokter anak.
Jika kondisi medis tidak ditemukan, keluhan fisik tersebut bisa saja berkaitan dengan kecemasan yang muncul ketika anak harus pergi ke sekolah.
3. Jangan langsung membiarkan anak terlalu lama di rumah
Jika anak sebelumnya tidak masuk sekolah karena sakit atau liburan panjang, ia mungkin membutuhkan waktu untuk kembali ke rutinitas. Namun, terlalu lama berada di rumah justru dapat membuat anak semakin sulit kembali ke sekolah.
Orang tua dapat berkomunikasi dengan guru mengenai kondisi anak. Jelaskan bahwa anak sempat mengalami kesulitan untuk kembali ke sekolah, kemudian berikan dukungan agar ia kembali mengikuti rutinitas secara bertahap.
4. Cari tahu apakah ada masalah di sekolah
Orang tua penting untuk melihat lingkungan sekolah secara menyeluruh. Cari tahu apakah anak mengalami kesulitan dengan pelajaran, guru, teman sebaya, tugas, atau situasi tertentu.
Tidak perlu langsung menuduh seseorang melakukan perundungan. Sebaliknya, bangun komunikasi sehari-hari agar anak terbiasa bercerita.
Ketika anak mulai mengungkapkan sesuatu yang membuatnya tidak nyaman, dengarkan dengan serius dan tanpa menghakimi.
5. Kenali apakah masalahnya sudah berlangsung lama
Sesekali menolak sekolah belum tentu menunjukkan masalah serius. Namun, orang tua perlu lebih waspada jika anak terus menghindari sekolah selama berhari-hari, berminggu-minggu, atau bahkan berbulan-bulan.
Tanda lainnya adalah sering terlambat, pulang lebih awal, terlalu sering berada di ruang kesehatan sekolah, atau terus-menerus menghubungi orang tua karena ingin dijemput. Kondisi seperti ini sudah mulai mengganggu kehidupan anak dan keluarga.
6. Jangan ragu mencari bantuan profesional
Jika penolakan sekolah semakin berat, orang tua sebaiknya meminta bantuan psikolog anak atau tenaga profesional terkait. Penolakan sekolah bukan diagnosis tersendiri, tetapi dapat berkaitan dengan kecemasan perpisahan, kecemasan sosial, depresi, atau gangguan panik.
Profesional dapat membantu mencari akar masalah dan menentukan pendekatan yang sesuai. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah terapi perilaku kognitif.
7. Ajak anak ke sekolah secara bertahap
Ilustrasi. Ada beberapa cara mengatasi anak tidak mau sekolah. (iStockphoto) |
Pada kondisi tertentu, anak mungkin belum siap langsung mengikuti kegiatan sekolah sehari penuh. Pendekatan bertahap dapat membantu anak membangun kembali rasa aman dan percaya diri.
Misalnya, anak dapat diajak melewati sekolah terlebih dahulu, kemudian mengunjungi lingkungan sekolah ketika suasana sepi.
Setelah lebih nyaman, anak dapat mulai mengikuti satu atau dua pelajaran sebelum akhirnya kembali menjalani aktivitas sekolah secara penuh.
Nah, itulah cara mengatasi anak yang tiba-tiba tidak mau sekolah. Yang terpenting, jangan menunggu masalah semakin panjang sebelum mencari solusi.
Semakin lama anak terbiasa tidak masuk sekolah, semakin sulit membangun kembali rutinitasnya.
(gas/asr)


