Tingkat Penularan dan Cara Mencegah Varian Botswana
ti | CNN Indonesia
Jumat, 26 Nov 2021 15:41 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Foto: iStock/Morsa Images
Jakarta, CNN Indonesia --
Ilmuwan menilai varian Covid-19 B.1.1.529 alias varian Botswana membawa jumlah mutasi sangat tinggi yakni 32 mutasi pada protein spike. Hal ini menyebabkan penularan varian botswana sangat tinggi. Hal ini disebut bisa menyebabkan gelombang pandemi Covid-19 jadi lebih panjang.
Protein spike sendiri merupakan bagian virus yang memiliki bentuk seperti duri atau paku dan digunakan untuk menempel dan penetrasi sel tubuh sehingga menimbulkan infeksi. Mutasi pada protein spike bisa mempengaruhi kemampuan virus untuk menginfeksi sel dan menyebar, juga mempersulit sel kekebalan untuk menyerang patogen.
"Karena sifat virus sering bermutasi dan secara acak, tidak jarang sejumlah kasus kecil muncul dengan serangkaian mutasi baru. Setiap varian menunjukkan bukti penyebaran yang terbilang cepat," ujar Meera Chand, direktur insiden Covid di UK Health Security Agency, badan yang terus memantau status varian SARS-CoV-2 sejak kemunculannya, mengutip dari Guardian.
Ravi Gupta, profesor mikrobiologi klinis di Cambrigde University, berkata riset di laboratoriumnya menemukan dua mutasi pada B.1.1.529 meningkatkan inefektivitas (kemampuan bibit penyakit untuk menimbulkan infeksi) dan mengurangi pengenalan antibodi yang menyebabkan penularan varian botswana makin tinggi.
"Properti utama dari virus yang tidak diketahui adalah daya penularannya, karena itulah yang tampaknya mendorong varian Delta. Imun yang kebobolan hanyalah bagian dari gambaran tentang apa yang mungkin terjadi," jelasnya.
Sementara itu Prof Francois Balloux, direktur UCL Genetics Institute, menyebut sejumlah besar mutasi pada varian tampaknya terakumulasi dalam 'ledakan tunggal'. Ada kemungkinan virus telah berkembang selama infeksi kronis pada orang dengan sistem kekebalan lemah.
"Sulit memprediksi seberapa menularnya pada tahap ini. Untuk saat ini harus dipantau dan dianalisis dengan cermat, tetapi tidak ada alasan untuk terlalu khawatir kecuali jika frekuensinya meningkat dalam waktu dekat," imbuhnya.
Dikutip dari CNN, Menteri Kesehatan Afrika Selatan Joe Phaahla mengumumkan temuan Covid-19 varian baru pada Kamis (25/11) kemarin. Varian menyebar begitu cepat di beberapa wilayah. Sejauh ini varian terdeteksi di Afrika Selatan, Botswana dan seorang pelancong yang ke Hong Kong dari Afrika Selatan.
Menanggapi situasi darurat ini, Badan Kesehatan Dunia (WHO) hari ini mengadakan rapat untuk menilai varian B.1.1.529. Rapat akan menentukan varian akan masuk sebagai varian 'interest' atau 'concern'.
"Kami belum tahu banyak tentang [varian] ini. Apa yang kita ketahui adalah bahwa varian ini memiliki sejumlah besar mutasi. Dan kekhawatirannya adalah ketika Anda memiliki begitu banyak mutasi, itu dapat berdampak pada bagaimana virus berperilaku," ujar Maria Van Kerkhove, pimpinan teknis WHO untuk Covid-19 dalam konferensi pers pada Kamis (25/11).
Akan tetapi jumlah mutasi tinggi tidak serta merta membuat varian virus lebih mudah menular. Pada Agustus, kekhawatiran serupa muncul pada varian C.1.2. Namun varian ini tidak pernah masuk pada kelompok 'interest' atau 'concern'.
Cara Pencegahan Varian Botswana
Ravi Gupta mengungkapkan, cara mencegah varian botswana masih sama seperti mencegah covid-19 pada umumnya.
"Tolong segera vaksinasi dan suntik booster. Pakai masker di tempat umum karena mutasi virus ini menghasilkan antibod penetralisir," katanya dikutip dari Newsweek.
Selain itu, cara mencegah varian botswana, seperti direkomendasikan oleh CDC Afrika antara lain:
1. Penerapan langkah-langkah kesehatan dan sosial masyarakat (PHSM), termasuk memakai masker, menjaga jarak fisik, mencuci tangan, sebagai hal penting untuk membatasi penularan COVID-19 terlepas dari munculnya varian COVID-19 baru.
2. Vaksinasi covid-19
3. Otoritas kesehatan nasional harus memperkuat implementasi PHSM dan mempercepat imunisasi populasi mereka, memprioritaskan kelompok berisiko tinggi, menjelang gelombang baru infeksi COVID-19 yang akan datang.
Jakarta, CNN Indonesia --
Ilmuwan menilai varian Covid-19 B.1.1.529 alias varian Botswana membawa jumlah mutasi sangat tinggi yakni 32 mutasi pada protein spike. Hal ini menyebabkan penularan varian botswana sangat tinggi. Hal ini disebut bisa menyebabkan gelombang pandemi Covid-19 jadi lebih panjang.
Protein spike sendiri merupakan bagian virus yang memiliki bentuk seperti duri atau paku dan digunakan untuk menempel dan penetrasi sel tubuh sehingga menimbulkan infeksi. Mutasi pada protein spike bisa mempengaruhi kemampuan virus untuk menginfeksi sel dan menyebar, juga mempersulit sel kekebalan untuk menyerang patogen.
"Karena sifat virus sering bermutasi dan secara acak, tidak jarang sejumlah kasus kecil muncul dengan serangkaian mutasi baru. Setiap varian menunjukkan bukti penyebaran yang terbilang cepat," ujar Meera Chand, direktur insiden Covid di UK Health Security Agency, badan yang terus memantau status varian SARS-CoV-2 sejak kemunculannya, mengutip dari Guardian.
Ravi Gupta, profesor mikrobiologi klinis di Cambrigde University, berkata riset di laboratoriumnya menemukan dua mutasi pada B.1.1.529 meningkatkan inefektivitas (kemampuan bibit penyakit untuk menimbulkan infeksi) dan mengurangi pengenalan antibodi yang menyebabkan penularan varian botswana makin tinggi.
"Properti utama dari virus yang tidak diketahui adalah daya penularannya, karena itulah yang tampaknya mendorong varian Delta. Imun yang kebobolan hanyalah bagian dari gambaran tentang apa yang mungkin terjadi," jelasnya.
Sementara itu Prof Francois Balloux, direktur UCL Genetics Institute, menyebut sejumlah besar mutasi pada varian tampaknya terakumulasi dalam 'ledakan tunggal'. Ada kemungkinan virus telah berkembang selama infeksi kronis pada orang dengan sistem kekebalan lemah.
"Sulit memprediksi seberapa menularnya pada tahap ini. Untuk saat ini harus dipantau dan dianalisis dengan cermat, tetapi tidak ada alasan untuk terlalu khawatir kecuali jika frekuensinya meningkat dalam waktu dekat," imbuhnya.
Cara Pencegahan Varian Botswana
Foto: iStockphoto/LeoPatrizi
Dikutip dari CNN, Menteri Kesehatan Afrika Selatan Joe Phaahla mengumumkan temuan Covid-19 varian baru pada Kamis (25/11) kemarin. Varian menyebar begitu cepat di beberapa wilayah. Sejauh ini varian terdeteksi di Afrika Selatan, Botswana dan seorang pelancong yang ke Hong Kong dari Afrika Selatan.
Menanggapi situasi darurat ini, Badan Kesehatan Dunia (WHO) hari ini mengadakan rapat untuk menilai varian B.1.1.529. Rapat akan menentukan varian akan masuk sebagai varian 'interest' atau 'concern'.
"Kami belum tahu banyak tentang [varian] ini. Apa yang kita ketahui adalah bahwa varian ini memiliki sejumlah besar mutasi. Dan kekhawatirannya adalah ketika Anda memiliki begitu banyak mutasi, itu dapat berdampak pada bagaimana virus berperilaku," ujar Maria Van Kerkhove, pimpinan teknis WHO untuk Covid-19 dalam konferensi pers pada Kamis (25/11).
Akan tetapi jumlah mutasi tinggi tidak serta merta membuat varian virus lebih mudah menular. Pada Agustus, kekhawatiran serupa muncul pada varian C.1.2. Namun varian ini tidak pernah masuk pada kelompok 'interest' atau 'concern'.
Cara Pencegahan Varian Botswana
Ravi Gupta mengungkapkan, cara mencegah varian botswana masih sama seperti mencegah covid-19 pada umumnya.
"Tolong segera vaksinasi dan suntik booster. Pakai masker di tempat umum karena mutasi virus ini menghasilkan antibod penetralisir," katanya dikutip dari Newsweek.
Selain itu, cara mencegah varian botswana, seperti direkomendasikan oleh CDC Afrika antara lain:
1. Penerapan langkah-langkah kesehatan dan sosial masyarakat (PHSM), termasuk memakai masker, menjaga jarak fisik, mencuci tangan, sebagai hal penting untuk membatasi penularan COVID-19 terlepas dari munculnya varian COVID-19 baru.
2. Vaksinasi covid-19
3. Otoritas kesehatan nasional harus memperkuat implementasi PHSM dan mempercepat imunisasi populasi mereka, memprioritaskan kelompok berisiko tinggi, menjelang gelombang baru infeksi COVID-19 yang akan datang.