7 Penyebab Badan Panas Mirip Demam, Cuaca Panas sampai Diabetes

tim | CNN Indonesia
Senin, 07 Mar 2022 20:00 WIB
Tubuh pernah terasa panas namun bukan demam? Ada beberapa sebabnya, simak yang berikut. Tubuh pernah terasa panas namun bukan demam? Ada beberapa sebabnya, simak yang berikut. (Istockphoto/ Thomas_EyeDesign)
Jakarta, CNN Indonesia --

Tubuh pernah terasa panas? Biasanya orang menindaklanjuti dengan mengecek suhu badan memakai termometer.

Suhu 37,5 derajat Celcius ke atas sudah termasuk demam. Namun anehnya, suhu badan sebenarnya masih termasuk normal, tetapi sensasi panas ini cukup mengganggu.

Ada banyak penyebab tubuh lebih panas dari biasanya mulai dari gaya hidup, lingkungan, kondisi kesehatan maupun alasan lain.

1. Cuaca panas

Cuaca panas atau lembap berpengaruh pada tubuh. Pada sebagian orang, cuaca panas memicu rasa lelah atau kesulitan konsentrasi. Melansir dari Medical News Today, temperatur ekstrem atau paparan sinar matahari terlalu lama bisa membuat kulit terbakar (sunburn), kelelahan dan heatstroke.

Sunburn memicu kerusakan kulit sehingga terasa panas dan meradang. Kelelahan akibat paparan panas timbul saat seseorang kehilangan banyak cairan dan garam lewat keringat. Gejalanya antara lain, keringat berlebih, mual atau muntah, lemah, sakit kepala, pening dan kram.

2. Aktivitas fisik

Aktivitas fisik atau olahraga memicu panas tubuh apalagi jika Anda tidak terbiasa berolahraga sebelumnya, dilakukan di lingkungan panas atau lembap, dan pilihan aktivitas yang terlalu berat. Sebaiknya Anda menghindari aktivitas fisik atau olahraga saat cuaca panas dan minum lebih banyak air agar suhu badan turun.



3. Hipoglikemia

Hipoglikemia merupakan kondisi kadar gula darah drop atau menurun hingga ke level berbahaya. Kondisi ini biasanya dialami orang dengan diabetes yang dalam masa terapi misal, terapi insulin. Salah satu gejala hipoglikemia adalah badan panas mirip demam tapi bukan demam.

Melansir dari Medicine Net, hipoglikemia juga memiliki gejala antara lain, gemetar, cemas, badan lemah, berkeringat, kelaparan, mual, dan rasa kantuk berlebih.

4. Hipotiroidisme dan hipertiroidisme

Orang yang kekurangan hormon tiroid (hipotiroidisme) dan kelebihan hormon tiroid (hipertiroidisme) akan mengalami kenaikan suhu badan. Namun ada beberapa gejala yang membedakan keduanya.

Hipotiroidisme gejalanya antara lain, kelelahan, kulit kering, depresi, konstipasi dan sulit konsentrasi. Kemudian hipotiroidisme ditandai dengan gejala tangan gemetar, denyut jantung cepat, diare, dan susah tidur.

5. Anhidrosis

Tubuh memiliki mekanisme menurunkan suhu dengan berkeringat. Namun pada orang dengan kondisi anhidrosis, mereka tidak mampu berkeringat. Kondisi ini bisa mempengaruhi area kecil atau besar pada tubuh. Kondisi anhidrosis bisa terbilang berbahaya adalah saat anhidrosis mempengaruhi area besar tubuh sehingga perlu penanganan medis.

6. Diabetes

Berdasar International Diabetes Federation, orang dengan diabetes cenderung lebih sensitif pada suhu panas daripada orang tanpa diabetes. Kenapa bisa demikian?

Pertama, dehidrasi. Orang dengan diabetes gampang dehidrasi saat cuaca panas. Kurang cairan membuat gula darah naik sehingga orang buang air kecil lebih sering. Kedua, komplikasi, diabetes bisa menimbulkan komplikasi yang merusak pembuluh darah dan saraf yang mana ini bisa mempengaruhi kelenjar keringat. Jika seseorang sulit berkeringat, ia pun sulit menurunkan suhu badan.

7. Menopause

Perempuan mengalami hot flash selama, sebelum dan setelah menopause. Menurut National Institute on Aging (NIA), hot flash terjadi akibat perubahan kadar estrogen. Ini bisa berlangsung dari 30 detik sampai 10 menit.

Hot flash bisa ditandai dengan kulit memerah di area wajah dan leher, keringat berlebih, keringat malam, dan merasa kedinginan atau menggigil setelahnya.

(els/chs)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER